Polisi Sukses Gelar Mediasi Konflik Warga Petemon-Peresak Mataram, Situasi Kondusif

Kepolisian Sektor Mataram berhasil menyelesaikan Mediasi Konflik Warga Mataram antara Lingkungan Petemon dan Peresak, menghasilkan kesepakatan damai demi menjaga situasi kamtibmas yang kondusif. Mediasi Konflik Warga Mataram ini menjadi contoh penyelesaia

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Polisi Sukses Gelar Mediasi Konflik Warga Petemon-Peresak Mataram, Situasi Kondusif
Kepolisian Sektor Mataram berhasil menyelesaikan Mediasi Konflik Warga Mataram antara Lingkungan Petemon dan Peresak, menghasilkan kesepakatan damai demi menjaga situasi kamtibmas yang kondusif. Mediasi Konflik Warga Mataram ini menjadi contoh penyelesaia (AntaraNews)

Kepolisian Sektor Mataram, Nusa Tenggara Barat, berhasil menuntaskan ketegangan antara warga Lingkungan Petemon dan Peresak melalui sebuah proses mediasi. Konflik yang sempat memanas dan berujung pada aksi pengeroyokan terhadap seorang warga Petemon ini kini telah mencapai titik terang dengan tercapainya kesepakatan damai. Langkah proaktif aparat kepolisian ini menunjukkan komitmen dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah tersebut.

Proses mediasi yang berlangsung pada Selasa (24/3) di Mapolsek Mataram ini melibatkan berbagai pihak penting. Selain aparat kepolisian, turut hadir unsur pemerintah daerah, perwakilan TNI, serta tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci keberhasilan dalam menjembatani perbedaan dan mencari solusi terbaik bagi kedua belah pihak yang bertikai.

Kepala Polsek Mataram, AKP Mulyadi, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya korban dan keluarga pelaku. Beliau menekankan pentingnya komunikasi dan musyawarah dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Harapan besar tersemat agar melalui mediasi ini, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Mataram tetap terjaga kondusif tanpa adanya konflik lanjutan yang merugikan.

Kepolisian Sektor Mataram mengambil peran sentral dalam upaya Mediasi Konflik Warga Mataram ini, bertindak sebagai fasilitator utama untuk mempertemukan kedua belah pihak. Inisiatif ini muncul sebagai respons cepat terhadap insiden pengeroyokan yang memicu ketegangan antar lingkungan. Kehadiran polisi tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai mediator yang berupaya mencari jalan tengah.

AKP Mulyadi menegaskan bahwa penyelesaian konflik ini merupakan hasil kerja sama yang solid dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah. Keterlibatan unsur pemerintah, TNI, dan tokoh masyarakat sangat krusial dalam memberikan legitimasi dan dukungan terhadap proses mediasi. Pendekatan komprehensif ini memastikan bahwa solusi yang dihasilkan tidak hanya adil, tetapi juga diterima oleh semua pihak.

Keberhasilan mediasi ini menjadi bukti nyata bahwa dialog dan komunikasi efektif dapat meredakan situasi yang berpotensi membesar. Pihak kepolisian secara konsisten mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan aman bagi seluruh warga Mataram, khususnya di area yang pernah terlibat konflik.

Kesepakatan damai yang dicapai dalam Mediasi Konflik Warga Mataram ini dituangkan secara tertulis dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. Dokumen ini menjadi landasan kuat bagi penyelesaian konflik secara permanen. Para pelaku dari kalangan remaja Lingkungan Peresak secara jantan mengakui kesalahan mereka dan menyampaikan permohonan maaf langsung kepada korban, sebuah langkah penting dalam proses rekonsiliasi.

Selain permohonan maaf, para pelaku juga bersedia menerima konsekuensi atas perbuatan mereka. Mereka akan menjalani sanksi hukum berupa pembinaan selama satu bulan di Polresta Mataram, menunjukkan adanya akuntabilitas. Lebih lanjut, para pelaku juga sepakat untuk menerima sanksi sosial berupa dikeluarkan dari lingkungan setempat, memberikan efek jera dan pembelajaran bagi komunitas.

Dengan adanya kesepakatan ini, kedua belah pihak secara tegas menyatakan tidak akan melanjutkan persoalan ini ke ranah hukum. Hal ini mencerminkan komitmen bersama untuk mengakhiri perselisihan dan membangun kembali hubungan baik. Berita acara damai yang ditandatangani menjadi penguat bahwa seluruh poin kesepakatan akan dihormati dan dijalankan.

Plt. Camat Mataram, Budi Wartono, yang turut hadir dalam mediasi, memanfaatkan momen penting ini untuk menyerukan persatuan. Beliau mengajak seluruh warga untuk menjadikan perayaan Idul Fitri sebagai ajang mempererat tali silaturahmi. Momen saling memaafkan di bulan Syawal diharapkan dapat menghapus sisa-sisa ketegangan dan membangun kembali kebersamaan antar warga.

Budi Wartono juga mengingatkan pentingnya menjaga kondusivitas wilayah dengan semangat HARUM. Akronim HARUM, yang berarti Harmonis, Aman, Ramah, Unggul, dan Mandiri, menjadi pedoman bagi masyarakat Mataram. Ini adalah ajakan untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang damai dan produktif, jauh dari perselisihan yang merugikan.

Pihak kepolisian pun memastikan bahwa situasi terkini di wilayah Pagutan, yang mencakup area konflik, telah dinyatakan kondusif. Keberhasilan Mediasi Konflik Warga Mataram ini diharapkan dapat menjadi preseden positif bagi penyelesaian masalah sosial lainnya di masa mendatang. Semangat kebersamaan dan saling pengertian menjadi fondasi utama dalam menjaga kedamaian di Mataram.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi