Padang, 1 Februari 2026 – Dunia literasi dan jurnalisme di Sumatera Barat kembali diperkaya dengan kehadiran sebuah karya antologi feature yang menarik. Pewarta foto ANTARA Biro Sumatera Barat, Iggoy El Fitra, secara resmi meluncurkan buku perdananya yang berjudul "Orang-orang Bermata Biru dari Minangkabau dan kisah-kisah lainnya" pada Sabtu malam, 31 Januari 2026. Peluncuran buku ini menandai sebuah kontribusi signifikan dari seorang pewarta foto yang kini juga merambah dunia kepenulisan, menghadirkan perspektif unik dari lensa ke narasi tertulis.
Acara peluncuran tersebut diselenggarakan di Pustaka Steva, sebuah ruang kolektif literasi yang berlokasi di Nanggalo, Kota Padang. Kehadiran Iggoy El Fitra sebagai penulis dan Kepala Biro ANTARA Sumbar, Syarif Abdullah, turut memeriahkan momen penting ini. Buku setebal 183 halaman ini merupakan kompilasi dari lebih dari 30 tulisan feature jurnalistik yang pernah dibuat dan ditayangkan Iggoy di ANTARA, mencakup periode tahun 2009 hingga 2023.
Karya ini tidak hanya menyajikan cerita tentang fenomena langka individu bermata biru di Minangkabau, tetapi juga merangkum berbagai peristiwa dan kisah menarik lainnya dari berbagai wilayah Sumatera Barat. Proses penggarapan buku ini sendiri memakan waktu yang cukup panjang, sekitar enam tahun, dimulai sejak tahun 2020. Melalui buku ini, Iggoy El Fitra membuktikan bahwa pewarta foto memiliki kemampuan untuk menghasilkan gagasan dan pemikiran baru melalui tulisan, di samping karya-karya fotografi mereka.
Advertisement
Advertisement
Salah satu kisah sentral yang menjadi inspirasi judul buku ini adalah fenomena warga Minangkabau yang memiliki mata berwarna biru. Keunikan ini bukanlah karena faktor genetik atau perkawinan campur, melainkan disebabkan oleh Sindrom Waardenburg. Sindrom Waardenburg merupakan kondisi genetik langka yang memengaruhi pendengaran, warna mata, kulit, rambut, serta bentuk wajah.
Individu dengan sindrom ini seringkali memiliki iris mata berwarna biru atau heterokromia iridium, yaitu kondisi di mana kedua mata memiliki warna yang berbeda. Sindrom ini pertama kali diidentifikasi oleh dokter mata asal Belanda, D.J. Waardenburg, pada tahun 1951. Diperkirakan hanya 1 dari 40.000 orang di dunia yang mengidap sindrom langka ini.
Kisah-kisah dalam buku ini menyoroti kehidupan nyata para penderita Sindrom Waardenburg di Sumatera Barat, seperti Fahri dan Gofar dari Kabupaten Limapuluhkota, yang meskipun memiliki mata indah bak berlian, harus menghadapi tantangan gangguan pendengaran sejak lahir. Melalui tulisan Iggoy, pembaca diajak untuk memahami lebih dalam tentang kondisi ini dan bagaimana masyarakat Minangkabau menyikapi keunikan tersebut.
Advertisement
Advertisement
Iggoy El Fitra, yang dikenal sebagai pewarta foto handal dan penggagas organisasi Pewarta Foto Indonesia (PFI) Padang, menunjukkan bahwa batas antara jurnalisme visual dan tulisan dapat dilebur. Buku antologi ini adalah bukti nyata kemampuannya dalam merangkai kata-kata untuk menyampaikan cerita yang mendalam. "Buku ini berisi kumpulan feature jurnalistik yang pernah saya buat dan ditayangkan di Antara sejak 2009 sampai 2023," ungkap Iggoy.
Proses penulisan yang memakan waktu enam tahun sejak 2020 menunjukkan dedikasi Iggoy dalam menyempurnakan setiap narasi. Ia berhasil mengemas lebih dari 30 kisah dengan gaya penulisan jurnalistik yang sederhana, mudah dipahami, namun tetap mempertahankan esensi dan daya tarik cerita. Peluncuran buku ini menjadi momen pembuktian bagi Iggoy bahwa seorang pewarta foto juga mampu menulis dan merangkai gagasan dalam bentuk karya tulis yang utuh.
Menurut Iggoy, dengan menulis, pewarta foto dapat melahirkan gagasan dan pemikiran baru, di samping menciptakan karya-karya foto yang kuat. Ia juga menambahkan bahwa kemampuan menulis memungkinkan pewarta foto tidak hanya tampil di balik kamera, tetapi juga mampu menyuarakan kebenaran dan meningkatkan derajat profesi jurnalistik. Pandangan ini menegaskan pentingnya diversifikasi keterampilan dalam dunia jurnalisme modern.
Advertisement
Advertisement
Kehadiran buku "Orang-orang Bermata Biru dari Minangkabau dan kisah-kisah lainnya" diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan literasi di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat. Karya ini tidak hanya menyuguhkan informasi, tetapi juga inspirasi dan pemahaman tentang keberagaman manusia dan budaya. Buku ini memperkaya khazanah jurnalisme feature dengan pendekatan yang humanis dan mendalam.
Syarif Abdullah, Kepala Biro ANTARA Sumbar, menyatakan kebanggaannya atas peluncuran buku ini. Ia mengapresiasi upaya Iggoy El Fitra dalam menghasilkan karya tulis yang berkualitas, yang sekaligus menunjukkan potensi besar para pewarta foto dalam menghasilkan narasi yang kuat. Buku ini menjadi contoh bagaimana jurnalisme dapat menjadi medium yang efektif untuk mendokumentasikan dan menyebarkan kisah-kisah lokal yang memiliki nilai universal.
Bagi pembaca yang tertarik, buku ini tidak hanya menawarkan cerita-cerita unik dari Minangkabau, tetapi juga memberikan wawasan tentang Sindrom Waardenburg dan dampaknya terhadap individu serta keluarga. Gaya penulisan Iggoy yang lugas dan mudah dicerna menjadikan buku ini relevan bagi berbagai kalangan, mulai dari pegiat literasi, mahasiswa jurnalistik, hingga masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih banyak tentang kekayaan budaya dan fenomena sosial di Indonesia.
Advertisement
Sumber: AntaraNews