'Perang' Terbuka OSO vs Wiranto Berebut Takhta Hanura

Jumat, 20 Desember 2019 06:30 Reporter : Syifa Hanifah
'Perang' Terbuka OSO vs Wiranto Berebut Takhta Hanura Wiranto mundur dari Partai Hanura. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Di akhir tahun, publik disuguhkan dengan konflik yang terjadi di Partai Hanura antara Oesman Sapta Odang (OSO) dengan pendiri Hanura Wiranto. Wiranto dibuat geram oleh kubu OSO lantaran dituding telah mengkhianati partai yang telah ia dirikan.

Wiranto pun merasa tidak dihormati sebagai seseorang yang mendirikan dan membesarkan Hanura sejak awal berdiri. Buntutnya ia mengundurkan diri dari Hanura. Bukan hanya itu kubu Wiranto juga menolak OSO menjabat lagi sebagai ketum Hanura.

Sementara, kubu OSO telah lebih dulu 'memecat' Wiranto dari jabatan Ketua Dewan Pembina Partai Hanura. Mereka beralasan berdasarkan AD ART Hanura Munas Solo tahun 2015, tak ada jabatan Ketua Dewan Pembina di Hanura.

Saling serang antara kubu Wiranto dengan kubu OSO tak terhindarkan. Berikut ini ulasannya saling serang Wiranto vs OSO yang merdeka.com rangkum:

1 dari 5 halaman

Respons OSO Didesak Mundur oleh Wiranto

Wiranto meminta Oesman Sapta Odang (OSO) mundur dari posisi Ketum Hanura dengan merujuk pakta integritas yang pernah ditandatangani OSO saat didapuk sebagai ketua umum dalam Munaslub 2016.

Merespons itu, OSO mengatakan, urusan mundur ketum adalah kewenangan Munas. Dia menegaskan, peserta Munas kembali memilihnya memimpin partai.

"Itu bukan urusan dia (Wiranto) itu urusan munas dan munas meminta saya kembali kalau saya tidak dipercaya munas, munas ini hadiri loh seluruh Indonesia dan 514 DPC dan saya juga tidak mengusulkan bahwa saya ingin jadi ketua," katanya di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (18/12).

OSO juga disinggung tentang perjanjian menjabat ketum sampai tahun 2019. Dia mengatakan, para kader masih mempercayakannya memimpin Hanura.

"Itu kalau saya tidak dipilih lagi, mungkin saja saya sampai 2020 sudah selesai. Tapi saya kan dipilih dan diminta, bukan saya yang meminta, tapi saya diminta, didaulat kembali untuk memimpin partai ini. Masa saya tinggalin?," ujar dia.

Kemudian, OSO juga disinggung tentang janjinya mengundurkan diri bila tidak bisa memenangkan Hanura di Pemilu 2019. Dia menegaskan, Hanura bisa besar sejak dipimpinnya bila tidak ada kelompok yang ingin mengganggu kepengurusannya.

"Janji saya boleh saja, janji janji kepada siapa? Itu kalau tidak diganggu, kalau tidak diganggu itu akan luar bisa terjadi tapi kalau diganggu disabot disegala macam akibatnya yang menjadi korban mereka-mereka semua (DPD-DPC)," tegasnya.

2 dari 5 halaman

Bantah Beli Jabatan Ketum Hanura dari Wiranto Rp200 Miliar

Saat Wiranto menggelar jumpa persnya di Hotlet Atlet Century Jakarta pada, Rabu (18/12), ia mengatakan, beredar fitnah terhadapnya bahwa dia telah menjual partai bentukannya sendiri kepada OSO untuk menggantikannya sebagai ketua umum.

"Saya menyerahkan jabatan ketua umum, timbul isu Wiranto jual partai dan disebut dapat Rp200 miliar, tidak sepeser pun saya menerima duit. Bahkan saya larang minta uang Pak OSO," kata Wiranto di Hotel Atlet Century.

Menanggapi hal tersebut, OSO membantah telah membeli Partai Hanura dari tangan Wiranto senilai Rp200 miliar. Menurutnya, tidak ada transaksi materil saat penyerahan jabatan ketua umum partai pada 2016.

"Hah? enggak bener itu," sanggah OSO di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (18/12/2019) sore.

OSO malah merasa iba terhadap Wiranto karena adanya tuduhan miring tersebut. Dia membela pernyataan Wiranto yang juga menganggap tuduhan tersebut sebagai fitnah.

"Kasihan Pak Wiranto kalau dituduh menjual partai, itu enggak benar. Saya menolak itu karena tidak ada hal seperti itu," iba OSO.

3 dari 5 halaman

Kubu OSO Tegaskan Munas Tandingan oleh Wiranto Ilegal

Kubu Wiranto akan menggalang dukungan untuk membuat Musyawarah Nasional (Munas) tandingan Partai Hanura. Merespons itu, Ketum Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) menegaskan Hanura kubu Wiranto tidak resmi lantaran tidak terdaftar di Kemenkum HAM.

"Partai politik yang resmi adalah partai politik yang terdaftar di Menkum HAM," kata OSO saat gelar jumpa pers di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Kamis (18/12).

Kubu Wiranto juga menyebut, Munas yang digelar kelompok OSO abal-abal karena tidak mengundang Presiden Joko Widodo dan Ketua Dewan Pembina Hanura yang sebelumnya dijabat Wiranto.

"Karena kita tidak mau melibatkan hal-hal konflik mengikutsertakan bapak presiden dalam hal-hal konflik. Itu sebabnya, itu juga tidak ada di dalam AD/ART hal-hal seperti itu," ucap OSO.

4 dari 5 halaman

Wiranto Kesal Dituding Kubu OSO Jadi Biang Kerok Kegagalan Hanura

Sebelum Wiranto mengaku kesal dengan tudingan yang dilontarkan kubu OSO. Lantaran ia dituduh sebagai pihak di balik kegagalan Hanura dan dianggap ingin menghancurkan partai. Wiranto tegas membantah segala tuduhan yang dilayangkan oleh orang-orang Oesman Sapta Odang itu.

"Tidak pernah ada perasaan ingin menghancurkan partai tapi dituduh seperti itu. Terpaksa saya menjawab secara politis saya tidak merasa menghancurkan partai," tegas Wiranto di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (18/12).

5 dari 5 halaman

Wiranto Marah Besar Dituduh Pengkhianat

Wiranto juga merasa kesal saat dituduh menjadi pengkhianat dan dijelek-jelekan oleh kubu OSO. Kendati demikian, mantan Menko Polhukam itu mengatakan akan terus membangun partai dengan cara lain.

"Bahkan dimaki, dituduh pengkhianat dan sebagainya, dengan cara lain saya tentu akan terus membangun partai ini," tegas Wiranto di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (18/12). [dan]

Baca juga:
Diminta Jabat Ketum Hanura oleh Kubu Wiranto, Ini Kata Daryatmo
OSO Tak Libatkan Kubu Wiranto Susun Kepengurusan Hanura
Pidato OSO di Penutupan Munas: Kita akan Secara Terhormat Kembali ke Senayan
Hanura Kubu OSO Tegaskan Munas Tandingan Ilegal
OSO Bantah Beli Jabatan Ketum Hanura dari Wiranto Rp200 Miliar
Murka Wiranto 'Digusur' OSO dari Hanura Hingga Ungkit Pakta Integritas

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini