Penuh luka, Orangutan terikat di Kandang dievakuasi dari rumah warga

Jumat, 17 Februari 2017 22:02 Reporter : Nur Aditya
Dua orangutan dievakuasi dari rumah warga. ©bksda ketapang

Merdeka.com - Dua Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus), dievakuasi tim gabungan Indonesia Animal Rescue (IAR) Ketapang bersama BKSDA seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Kalimantan Barat. Satu individu ditemukan terikat rantai di dalam sebuah kandang.

Upaya penyelamatan itu, dilakukan Selasa (14/2) lalu. Satu individu Orangutan Betina diselamatkan dari desa Manis Mata, di kecamatan Manis Mata, kabupaten Ketapang. Satu lagi dari desa Air Hitam Besar, kecamatan Kendawangan, Ketapang.

Keberadaan kedua Orangutan ini, berasal dari temuan warga lalu dilaporkan ka tim gabungan Indonesia Animal Rescue (IAR). Kemudian laporan ditindaklanjuti dengan menerjunkan tim penyelamat ke lokasi yang dilaporkan.

Pemilik Orangutan betina di desa Manis Mata, Ari Yanto, mengaku mendapatkan Orangutan itu dari seorang warga lain, yang dibeli Rp 1,1 juta. Saat dibeli, kondisi Orangutan itu kurus. Untuk memeliharanya selama 3 bulan terakhir, Ari menghabiskan uang Rp 15 ribu tiap hari. Sadar memelihara Orangutan melanggar hukum, Ari memang berniat menyerahkan ke pihak berwenang.

Dokter hewan Sulhi Aufa dari IAR Indonesia menerangkan, Orangutan yang dipelihara Ari, dirantai besi di dalam kandang kayu berukuran 1 x 1,5 meter dengan tinggi 1 meter. Terdapat rantai yang melingkar di leher hingga membuatnya luka.

"Rantai di lehernya menyebabkan luka. Kalau tidak segera dievakuasi, lukanya akan semakin dalam. Kita akan periksa lebih lanjut lukanya itu," kata Sulhi, dalam keterangan resmi dia kepada wartawan di Pontianak, Jumat (17/2).

Di hari yang sama, satu individu Orangutan betina berusia sekira 7 bulan, juga dievakuasi dari seorang warga di kampung hilir, desa Air Hitam Besar, kecamatan Kendawangan, kabupaten Ketapang, dari warga bernama Bahiyah. Serupa dengan Ari Yanto, Orangutan itu dipelihara 3 bulan seperti anak sendiri dan didapatnya dari seorang warga.

"Ini adalah masalah kesejahteraan satwa yang parah. Banyak Orangutan yang dipelihara, diperlakukan lebih buruk daripada anjing, dirantai seumur hidupnya, dalam kondisi menyedihkan," kata Ketua Program IAR Indonesia Karmele L Sanchez.

"Anda bisa merasakan kesedihan di matanya. Jika Orangutan ini tidak kita selamatkan, Orangutan ini akan menderita seumur hidupnya, dirantai sampai mati," ujar Karmele.

IAR Indonesia melansir, kasus pemeliharaan Orangutan masih banyak terjadi di Ketapang. Sepanjang 2016 lalu, tidak kurang 12 individu berhasil diselamatkan dari tangan warga.

Awal tahun ini, sudah 3 Orangutan yang diselamatkan. Hampir dipastikan, induk bayi Orangutan dibunuh untuk mendapatkan anaknya. Sedangkan di rehabilitasi IAR Indonesia, sekitat 108 Orangutan menjalani rehabilitasi. [gil]

Topik berita Terkait:
  1. Orangutan
  2. Penganiayaan Binatang
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.