Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya penguatan berbagai program layanan perkawinan dan ketahanan keluarga di Indonesia. Permintaan ini disampaikan di Jakarta pada Jumat, 23 Januari, sebagai bagian dari upaya membangun peradaban bangsa.
Program-program seperti Gerakan Sadar Pencatatan Nikah (Gas Nikah), Nikah Fest, bimbingan perkawinan (Bimwin), hingga Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) diminta untuk diperkuat dan diperluas. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan generasi muda dalam membangun keluarga.
Menag menekankan bahwa perkawinan bukan hanya urusan pribadi, melainkan fondasi penting bagi pembangunan sosial dan ketahanan keluarga. Oleh karena itu, negara perlu hadir dengan program afirmatif yang mendukung kesiapan menikah.
Advertisement
Advertisement
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti perlunya penguatan dan perluasan program layanan perkawinan dan ketahanan keluarga yang telah berjalan. Inisiatif seperti Gas Nikah dan Nikah Fest dinilai krusial untuk mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya ikatan perkawinan yang sah.
Selain itu, bimbingan perkawinan (Bimwin) dan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) juga menjadi fokus utama dalam upaya pemerintah. Program-program ini dirancang untuk membekali calon pasangan dan remaja dengan pengetahuan serta keterampilan yang dibutuhkan dalam membangun rumah tangga harmonis.
Menag mengungkapkan bahwa data menunjukkan adanya peningkatan angka perkawinan sebesar 0,3 persen pada tahun 2025, yang merupakan dampak positif dari program Gas Nikah. Meskipun demikian, capaian ini dianggap belum ideal, sehingga kerja keras lebih lanjut masih sangat diperlukan.
Advertisement
"Masih ada peningkatan, tetapi ini juga menjadi sinyal bahwa kita harus bekerja lebih keras," ujar Menag. Penguatan program ini diharapkan dapat mengatasi tantangan dan memastikan setiap perkawinan dilandasi kesiapan yang matang.
Advertisement
Fenomena global menunda perkawinan hingga usia yang tidak produktif kini mulai terasa di Indonesia, menurut pengamatan Menteri Agama. Tren ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi laju pertumbuhan penduduk dan stabilitas sosial di masa depan.
Menag mencontohkan pengalaman sejumlah negara maju yang menghadapi penurunan minat menikah di kalangan generasi mudanya. Perubahan pola pikir ini memerlukan respons adaptif dari pemerintah agar program yang ditawarkan relevan dengan realitas kaum muda.
"Sekarang muncul fenomena global, orang tidak akan kawin atau akan menunda perkawinannya sampai ke usia-usia yang justru tidak produktif," kata Menag. Oleh karena itu, pendekatan persuasif dan inovatif sangat dibutuhkan untuk menarik minat generasi muda.
Advertisement
Nikah Fest, sebagai salah satu program unggulan, dinilai relevan sebagai ruang edukasi, afirmasi, dan pendampingan yang ramah bagi anak muda. Program ini tidak hanya sekadar menasihati, tetapi juga menghadirkan solusi konkret yang menyentuh realitas mereka.
Advertisement
Selain mendorong peningkatan angka perkawinan, Menteri Agama juga menekankan pentingnya penguatan program pembinaan keluarga. Bimbingan pranikah dan bimbingan perkawinan telah terbukti memberikan dampak positif, termasuk dalam menurunkan praktik perkawinan anak secara signifikan.
"Pendekatan edukatif ini harus terus kita perkuat," ujarnya, menyoroti efektivitas bimbingan dalam membentuk keluarga yang berkualitas. Upaya ini sejalan dengan prinsip moderasi dan tanggung jawab dalam berumah tangga.
Menag mengingatkan bahwa tujuan utama dari semua program ini bukan hanya sekadar meningkatkan jumlah perkawinan, tetapi lebih kepada memastikan kualitas keluarga yang terbentuk. Kesiapan mental, spiritual, dan sosial menjadi tolok ukur utama.
Advertisement
"Yang kita dorong bukan hanya menikah, tapi menikah dengan kesiapan mental, spiritual, dan sosial," tegasnya. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menciptakan keluarga yang kokoh dan berkontribusi positif bagi peradaban.
Sumber: AntaraNews