Pemimpin Besar dengan Baju Bertambal 12 di Gerbang Kota Madinah

Senin, 27 April 2020 04:03 Reporter : Ramadhian Fadillah
Pemimpin Besar dengan Baju Bertambal 12 di Gerbang Kota Madinah Ilustrasi Ramadan. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Utusan itu memacu kudanya secepat kilat dari Qadasiyah. Tujuannya memberikan kabar gembira untuk Khalifah Umar Bin Khattab di Madinah. Tentara Muslim telah mengalahkan pasukan Persia setelah bertempur empat hari lamanya.

Mendekati Madinah, seorang tua berbaju bertambal menghentikannya. Dia bertanya dengan antusias. "Engkau dari Qadisiyah? Bagaimana beritanya?"

Si pembawa pesan menolak berhenti. Dia terus maju, sementara orang tua tadi mengejarnya sambil terus bertanya. Ketika sampai di gerbang kota, orang-orang berkerumun menghalanginya. Utusan itu berteriak.

"Minggir, saya harus bertemu Khalifah Umar bin Khattab! Di mana Khalifah?" katanya.

Orang-orang yang melihat tertawa terbahak-bahak. "Itu, tepat di belakang anda," kata mereka.

Demikian ditulis Sejarawan Tamim Ansyari dalam buku Dari Puncak Baghdad yang diterbitkan Penerbit Serambi.

Kekuasaan Amirul Mukminin saat itu meliputi seluruh Jazirah Arab ditambah sebagian Afrika. Namun seperti itulah kesederhanaannya.

2 dari 2 halaman

Baju 12 Tambalan

tambalan rev1

Jangan bayangkan pemimpin besar itu selalu tampil dengan jubah sutera dan mahkota bertabur berlian. Anas bin Malik menceritakan Khalifah Umar mengenakan pakaian yang penuh bekas tambalan.

"Di antara kedua bahu baju Umar terdapat empat buah tambalan, dan di antaranya ada yang ditambalkan dengan kulit. Umar pernah berkhotbah di atas mimbar dengan mengenakan kain yang memiliki dua belas tambalan."

Sosok Umar digambarkan tanpa kemegahan sama sekali. Tak jauh berbeda dengan orang miskin di Madinah. Penampilannya sangat sederhana, tapi hatinya mulia. Keras pada pelanggar hukum, lembut pada mereka yang lemah.

Di siang hari, Umar akan sibuk mengurusi pemerintahan. Di malam hari dia akan menyusuri lorong-lorong tempat orang miskin. Digotongnya sendiri gandum dari baitul mal untuk diberikan pada mereka yang membutuhkan.

Tak perlu tampil mewah untuk menjadi seorang pemimpin yang disegani sekaligus dicintai rakyat. Umar bin Khattab adalah contohnya. [ian]

Baca juga:
Kisah Buya Hamka Tolak Pangkat Mayor Jenderal & Dubes Arab Saudi Demi Dakwah
Azan Terakhir Bilal yang Membuat Semua Orang Menangis
Kisah Jujurnya Pemimpin Negeri Muslim Takut Makan Suap Walau Sebutir Apel
Kisah Mirip Sahabat Nabi Salman Al Farisi Pernah Terjadi di Yogyakarta
Kisah Kejujuran Gadis Penjual Susu Hingga Dinikahkan dengan Putera Khalifah

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini