Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah sedang merehabilitasi 98 ribu hektare sawah yang rusak akibat bencana alam di Sumatra. Upaya ini bertujuan untuk mengembalikan produksi pangan dan pendapatan para petani. Pernyataan ini disampaikan saat inspeksi di Desa Pinto Makmur, Aceh Utara, pada Kamis (16/1).
Program rehabilitasi ini diluncurkan secara resmi di beberapa wilayah Sumatra, ditandai dengan peletakan batu pertama di Aceh Utara. Tujuannya adalah agar petani dapat segera kembali berproduksi setelah lahan, jaringan irigasi, dan infrastruktur pertanian lainnya terdampak. Hal ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Pemerintah bergerak cepat setelah bencana melanda wilayah tersebut pada November 2025. Bantuan senilai Rp75 miliar juga berhasil dikumpulkan dari pegawai kementerian, keluarga, serta dukungan anggota DPR RI, menunjukkan respons cepat dan terkoordinasi.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Pemerintah dan Bantuan Cepat Pasca Bencana
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa rehabilitasi sawah ini merupakan tanggung jawabnya sebagai pimpinan Kementerian Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional. Beliau berkomitmen penuh untuk mengatasi dampak bencana yang terjadi di Sumatra.
Amran menyatakan bahwa pihak berwenang bergerak cepat setelah bencana melanda wilayah tersebut pada November 2025. "Segera setelah kami menerima laporan, kami memobilisasi staf dan mitra untuk memberikan bantuan terbaik bagi saudara-saudari kami di Sumatra," ujarnya.
Presiden menginstruksikan agar bantuan segera disalurkan tanpa menunggu korespondensi formal. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam merespons situasi darurat pangan dan memastikan bantuan sampai tepat waktu.
Advertisement
Donasi sebesar Rp75 miliar, atau sekitar 4,4 juta dolar AS, berhasil dikumpulkan dari karyawan kementerian, keluarga mereka, dan dukungan anggota DPR RI. Dana ini akan digunakan untuk mendukung upaya Rehabilitasi Sawah Sumatra.
Advertisement
Skala Kerusakan dan Wilayah Terdampak di Sumatra
Menurut data Kementerian Pertanian, total kerusakan sawah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai 98.002 hektare. Kerusakan ringan hingga sedang mencakup sekitar 69.240 hektare dari total tersebut.
Aceh mengalami kerusakan paling luas dengan 54.233 hektare, diikuti oleh Sumatra Utara dengan 37.318 hektare, dan Sumatra Barat dengan 6.451 hektare. Data ini menunjukkan betapa parahnya dampak bencana di wilayah tersebut dan urgensi tindakan pemulihan.
Kerusakan ini tidak hanya berdampak pada lahan pertanian, tetapi juga jaringan irigasi dan infrastruktur pendukung lainnya. Hal ini tentu menghambat aktivitas pertanian dan mengancam ketahanan pangan lokal, memerlukan intervensi cepat dan komprehensif.
Advertisement
Advertisement
Strategi Rehabilitasi dan Alokasi Anggaran untuk Pemulihan Sawah
Upaya rehabilitasi akan difokuskan pada area yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang, dengan target mencapai 13.708 hektare dari Januari hingga Februari 2026. Prioritas ini memastikan pemulihan yang efisien dan tepat sasaran.
Rincian target tersebut meliputi Aceh 6.530 hektare, Sumatra Utara 6.593 hektare, dan Sumatra Barat 3.624 hektare. Program ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan di daerah-daerah tersebut, mengembalikan produktivitas lahan.
Program ini akan menerapkan skema padat karya, memungkinkan petani memperoleh penghasilan sambil mengerjakan lahan mereka sendiri. Upah akan dibayarkan langsung oleh pemerintah pusat, memberikan manfaat ganda bagi masyarakat terdampak.
Advertisement
Kementerian Pertanian juga mengalokasikan dana sebesar Rp148,53 miliar untuk rehabilitasi area yang rusak sedang dan Rp310 miliar untuk lahan yang rusak ringan. Kegiatan ini mencakup perataan lahan, perbaikan irigasi, persiapan lahan, serta distribusi benih, pupuk, alat mesin pertanian, dan bantuan pangan dasar.
Sumber: AntaraNews