PDIP Gelar FGD RUU Ketenagakerjaan Jelang May Day, Tekankan Kedaulatan Buruh

Hasto menekankan pentingnya narasi pembebasan kaum buruh agar berdaulat, mandiri, dan sejahtera dengan merujuk pada ajaran Soekarno.

Endang Saputra
Oleh Endang Saputra - Reporter
PDIP Gelar FGD RUU Ketenagakerjaan Jelang May Day, Tekankan Kedaulatan Buruh
PDIP Gelar FGD RUU Ketenagakerjaan Jelang May Day, Tekankan Kedaulatan Buruh (Merdeka.com)

PDI Perjuangan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "RUU Ketenagakerjaan Baru dan RUU Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dari Perspektif Pekerja/Buruh" di Sekolah Partai Lenteng Agung, Senin (27/4). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 1 Mei 2026.

FGD tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Ketenagakerjaan Yessierli, Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, serta jajaran anggota DPR dan pengurus partai. Selain itu, forum juga melibatkan akademisi, organisasi non-pemerintah (NGO), hingga perwakilan konfederasi dan federasi serikat pekerja serta jaringan pekerja migran.

Dalam sambutannya, Hasto menekankan pentingnya narasi pembebasan kaum buruh agar berdaulat, mandiri, dan sejahtera dengan merujuk pada ajaran Soekarno. Ia menyebut kemiskinan yang dialami petani, buruh, dan nelayan sebagai bentuk ketidakadilan yang harus dilawan melalui kesadaran politik.

"RUU Ketenagakerjaan harus mengandung aspek historis dan ideologis sebagai konsideran utama, lalu dijabarkan dalam kebijakan teknokratis, termasuk tanggung jawab pemerintah dalam mendorong sinergi kebijakan dan konsolidasi industri nasional," ujar Hasto.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan profesionalitas dan produktivitas buruh, baik melalui kemandirian maupun intervensi negara. Di sisi lain, buruh dinilai perlu memperkuat organisasi sebagai kunci mendorong kebijakan yang berpihak, tanpa mengabaikan hubungan industrial yang sehat.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri turut menyampaikan pesan khusus melalui video dalam rangka menyambut May Day. Ia menegaskan bahwa kesejahteraan buruh merupakan prasyarat mutlak bagi tercapainya keadilan sosial.

Megawati juga mengingatkan pentingnya melihat perjuangan buruh dari perspektif historis, ideologis, dan kebudayaan. Dengan merujuk pada konsep Marhaenisme yang diperkenalkan Soekarno, ia menilai peningkatan kesejahteraan petani, buruh, dan nelayan menjadi fondasi utama bagi kemajuan Indonesia.

Sebagai bagian dari rangkaian May Day 2026, PDIP akan menggelar puncak acara di GOR Otista pada 3 Mei 2026 dengan melibatkan sekitar 2.000 buruh dalam penyampaian “Manifesto Perjuangan Buruh”.

Ketua panitia kegiatan sekaligus anggota DPR RI Edy Wuryanto menyampaikan bahwa peringatan tahun ini mengusung tema “Banteng Pro Pekerja: Buruh Berdaulat, Indonesia Berdikari”. Tema tersebut, kata dia, merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang perjuangan buruh di Indonesia.

Sementara itu, Menaker Yassierli menegaskan visi pembangunan ketenagakerjaan nasional melalui slogan “Maju Industrinya – Sejahtera Pekerjanya” sebagai bagian dari strategi menuju Indonesia Emas 2045.

Ia mengungkapkan tantangan besar berupa jumlah angkatan kerja yang mencapai 154 juta orang, dengan sekitar 55 persen masih berada di sektor informal dan tingkat pengangguran sebesar 4,85 persen per Agustus 2025.

Yassierli juga menyoroti reformasi regulasi ketenagakerjaan yang tengah berlangsung, merujuk pada Putusan MK Nomor 168/PUU-XXI/2023 yang mengamanatkan pembentukan undang-undang ketenagakerjaan baru secara terpisah dari UU Cipta Kerja. Ia menegaskan proses penyusunan harus melibatkan partisipasi aktif tripartit, pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja dengan fokus pada sejumlah isu strategis, termasuk pembatasan masa kerja kontrak dan penguatan tenaga kerja lokal.

Rekomendasi