Pameran Haluan Merah Putih: Antara Kisah Sekolah Rakyat yang Mengubah Hidup Belasan Ribu Siswa
Pameran 'Haluan Merah Putih' di Antara Heritage Center menyoroti program Sekolah Rakyat, inisiatif pemerintah yang telah mengubah hidup belasan ribu siswa kurang mampu. Simak dampak nyatanya!
Jakarta, 01/11 (ANTARA) - Instalasi ruang kelas lengkap dengan meja, kursi, dan papan tulis digital menjadi salah satu sudut paling ramai diperbincangkan dalam pameran “Haluan Merah Putih: Satu Tahun Prabowo–Gibran” di Gedung Antara Heritage Center, Jakarta. Pameran ini dibuka secara resmi oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Kamis (30/10), menghadirkan suasana hangat dan penuh semangat.
Dari ruang kecil itu, Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA menampilkan wajah optimisme pendidikan Indonesia melalui kisah Sekolah Rakyat. Ini adalah potret nyata tentang upaya menghadirkan pemerataan pendidikan di seluruh penjuru negeri, yang menjadi salah satu program prioritas nasional.
Sejumlah menteri Kabinet Merah Putih turut hadir dalam pembukaan pameran, di antaranya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Pameran yang digelar selama sebulan, sejak 30 Oktober hingga 30 November 2025, mendokumentasikan empat program prioritas Prabowo–Gibran, termasuk Sekolah Rakyat.
Sekolah Rakyat: Prioritas Nasional untuk Pendidikan Merata
Di antara sorotan lampu dan layar digital yang tertata rapi, program Sekolah Rakyat tampil sebagai simbol perubahan sosial yang paling menonjol. Melalui instalasi multimedia, pengunjung diajak menelusuri kisah anak-anak di berbagai daerah Indonesia, mulai dari proses pendataan, pembangunan sekolah, seleksi siswa, hingga aktivitas belajar dan kehidupan di asrama.
Program Sekolah Rakyat menjadi prioritas nasional Presiden Prabowo untuk menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Mereka yang masuk kategori desil 1 hingga 4 dalam Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi sasaran utama program ini.
Model pendidikan ini dirancang sebagai wadah pembelajaran sekaligus pemberdayaan sosial-ekonomi yang memadukan program prioritas lain seperti Makan Bergizi Gratis, Cek Kesehatan Gratis, Jaminan Kesehatan, Koperasi Desa Merah Putih, dan Program Tiga Juta Rumah bagi keluarga siswa. Kementerian Sosial sebagai pelaksana teknis menargetkan seluruh Sekolah Rakyat dilengkapi fasilitas modern sebelum akhir 2025.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan bahwa Sekolah Rakyat dirancang khusus untuk menjangkau anak-anak yang belum seutuhnya atau bahkan tidak pernah tersentuh layanan pendidikan karena keterbatasan keluarganya. Hal ini sejalan dengan Surat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8/2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem. “Masih banyak saudara-saudara kita yang belum merasakan bangku sekolah atau makan bergizi setiap hari. Melalui program ini, negara hadir agar tidak ada lagi masyarakat yang lapar, miskin, atau kehilangan kesempatan belajar,” kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf.
Dampak Nyata dan Tantangan Implementasi Sekolah Rakyat
Data terakhir mencatat 166 Sekolah Rakyat telah berdiri di berbagai daerah dengan kapasitas hampir 16 ribu siswa, 2.400 guru, dan lebih dari 4.000 tenaga kependidikan di tingkat SD, SMP, dan SMA sederajat. Pameran ini tidak hanya menghadirkan foto-foto siswa Sekolah Rakyat, tetapi juga menggambarkan makna di balik setiap potret kehidupan yang disajikan.
ANTARA melalui karya jurnalistiknya berupaya menunjukkan bagaimana kebijakan publik benar-benar menyentuh masyarakat hingga ke pelosok, dari ujung barat Aceh hingga ujung timur Papua. Dalam dokumentasi tersebut, pengunjung dapat melihat bagaimana tim pewarta ANTARA mengikuti perjalanan Sekolah Rakyat sejak tahap awal pelaksanaan, termasuk tantangan menghadirkan pendidikan di wilayah terpencil Indonesia bagian timur.
Proses penyaringan siswa di setiap daerah memiliki tantangan tersendiri, terutama di wilayah timur Indonesia. Kondisi geografis, infrastruktur, keterbatasan akses internet, hingga pola sosial-budaya masyarakat menjadi kendala utama. Salah satu kisah yang terekam datang dari tim Sentra Efata Kupang, yang sebagian gedungnya dimanfaatkan untuk Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19.
Tim liputan konvergensi ANTARA berkesempatan mengikuti perjalanan mereka menyusuri perbukitan panas dan gelombang laut demi menemukan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Perjalanan panjang empat bulan itu membuahkan hasil ketika Kristo Jenewery Mansula dan Irene Patrisia bersama 100 anak lainnya lolos pendataan dan melanjutkan pendidikan secara layak di SRMP 19 Kupang, awal tahun ajaran 2025/2026 pada Juli lalu. Mayoritas siswa berasal dari keluarga pekerja lepas dan buruh tani dengan pendapatan tak menentu, yang sebelumnya terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi.
Peran ANTARA dalam Mengabadikan Perjalanan Bangsa
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menilai kehadiran pameran ini menjadi ruang penting bagi publik untuk memahami kebijakan negara secara utuh. “Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali tidak menggambarkan realitas sesungguhnya, pameran ini mengingatkan kita tentang pentingnya tanggung jawab sosial media untuk menyebarkan kebaikan dan kebenaran,” kata dia.
Melalui pameran “Haluan Merah Putih” yang semua pelaksananya diawaki jajaran karyawan/pewarta, ANTARA menegaskan perannya sebagai penghubung antara kebijakan dan kehidupan masyarakat. Sebagai kantor berita resmi pemerintah yang berdiri sejak 1937, ANTARA memiliki sejarah panjang dalam merekam perjalanan bangsa.
Dari gedung bersejarah di Pasar Baru inilah berita proklamasi kemerdekaan pertama kali disiarkan pada 17 Agustus 1945. Kini, dari tempat yang sama, ANTARA kembali meneguhkan jati dirinya sebagai saksi perubahan di era pemerintahan Prabowo-Gibran, dengan menampilkan perjalanan sosial bangsa melalui karya jurnalistik.
Keberadaan Sekolah Rakyat dalam pameran ini memperkuat pesan bahwa upaya pemerataan pendidikan di Indonesia terus berkembang. Program ini tidak hanya mengembalikan anak-anak ke bangku sekolah, tetapi juga menciptakan ekosistem sosial yang mendukung pertumbuhan mereka, menunjukkan bahwa pemerintah, masyarakat, dan media berjalan beriringan dalam mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sumber: AntaraNews