Pakar Nilai Permohonan Maaf Luhut Sikap Ksatria: Kalau Belum Berhasil Ya Ngomong

Senin, 19 Juli 2021 12:40 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Pakar Nilai Permohonan Maaf Luhut Sikap Ksatria: Kalau Belum Berhasil Ya Ngomong Puluhan bus langgar PPKM Darurat. ©2021 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, mengapresiasi permohonan maaf yang disampaikan Koordinator PPKM Darurat Jawa-Bali, Luhut Binsar Panjaitan. Dia menilainya sebagai sikap ksatria.

Menurut dia, pandemi Covid-19 sudah cukup lama melanda Tanah Air. Karena itu, wajar jika pemerintah menyampaikan permohonan maaf bila berbagai upaya yang dilakukan belum berhasil.

"Jadi kalau memang kita belum berhasil, belum efektif ya ngomong. Minta maaf, kita akan perbaiki. Bagus. Itu sikap yang ksatria," ujar dia saat dihubungi Merdeka.com, Senin (19/7).

Permohonan maaf, lanjut dia, juga jamak disampaikan oleh pemimpin negara lain. Ketika mereka menilai kinerja penanganan pandemi belum optimal atau merasa kecolongan.

"Sama seperti pemimpin negara-negara lain. Seperti Taiwan misalnya baru minta maaf padahal selama itu berhasil mereka. Hanya gagal sebentar, naik dan sekarang sudah bagus lagi. Itu pun minta maaf. Apalagi seperti sekarang ini yang kita lagu menanjak," ujar dia.

Dalam pandangan dia, apa yang diucapkan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi itu juga harus mampu diucapkan oleh Presiden. Menurut dia, meskipun tidak ada keharusan Presiden harus minta maaf, tetapi permohonan maaf yang diucapkan Presiden dinilai bisa kembali mengerek naik kepercayaan rakyat.

"Alangkah lebih baik lagi kalau (presiden juga mengucapkan). Karena di dunia ini juga begitu. Banyak pimpinan negara, pimpinan nasionalnya mereka minta maaf pada rakyat," tukas dia.

"Tidak apa-apa. Rakyat akan melalui kok. Kalau memang mereka (pemerintah) bekerja kemudian sementara belum berhasil. Tidak ada keharusan. Itu akan membawa kepercayaan rakyat meningkat lagi," imbuh dia.

Dia menegaskan, yang paling penting yakni langkah pemerintah setelahnya. Permohonan maaf yang diucapkan mesti berbuah pada perubahan kebijakan penanganan Covid-19.

"Ada perubahan dong. Kalau tetap saja. Nanti jangan-jangan, kalau kita makin panjang begini yang berat kan masyarakat, kematian akan meningkat lagi karena rumah sakit juga tidak mampu menampung. Jadi harus berubah," tandas dia.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan meminta maaf kepada masyarakat apabila pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat Jawa dan Bali belum berjalan dengan optimal. Luhut merupakan Koordinator PPKM Darurat Jawa-Bali.

"Dari lubuk hati yang paling dalam, saya ingin minta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia jika dalam penanganan PPKM Jawa-Bali ini masih belum optimal," ujar Luhut dalam konferensi pers, Sabtu (17/7).

Dia berjanji akan terus bekerja keras dalam menangani pandemi Covid-19 di Jawa dan Bali. Khususnya, dalam menurunkan penyebaran virus Corona varian Delta yang memiliki tingkat penularan tinggi.

"Saya bersama jajaran menteri terkait akan terus bekerja keras untuk memastikan bahwa penyebaran varian delta ini bisa diturunkan," ujar dia.

Saat ini, kata dia, pemerintah sedang mengevaluasi apakah kebijakan PPKM darurat yang akan berakhir 20 Juli mendatang perlu diperpanjang atau tidak. Luhut menyebut keputusan ini akan diumumkan dalam 3 hari mendatang. [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini