Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengambil langkah proaktif dalam memperkuat kesiapsiagaan daerahnya. Mereka menggelar musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) tematik kebencanaan pada Selasa (17/3). Kegiatan ini bertujuan mengintegrasikan isu pengurangan risiko bencana ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah.
Musrenbang ini menjadi forum penting untuk menyelaraskan berbagai program serta kebijakan pengurangan risiko bencana (PRB). Fokus utamanya adalah penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2027. Inisiatif ini menunjukkan komitmen Pemkab dalam menghadapi potensi bencana.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Baperida) Lombok Tengah, Lalu Wiranata, menjelaskan urgensi kegiatan tersebut. Ia mengidentifikasi lima persoalan utama yang harus diselesaikan untuk membangun sektor kebencanaan di Lombok Tengah. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas upaya mitigasi bencana Lombok Tengah.
Advertisement
Advertisement
Fokus Musrenbang dan Tantangan Mitigasi Bencana
Lalu Wiranata dari Baperida Lombok Tengah menyoroti lima persoalan krusial dalam upaya penguatan mitigasi bencana Lombok Tengah. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sarana dan prasarana mitigasi bencana yang masih sangat terasa di lapangan. Hal ini memerlukan perhatian serius untuk memastikan kesiapan infrastruktur.
Selain itu, peningkatan kompetensi petugas dan jumlah sumber daya manusia (SDM) di bidang kebencanaan juga menjadi prioritas. Kualitas dan kuantitas SDM yang memadai sangat penting untuk respons bencana yang efektif. Dokumen kebencanaan berupa program kegiatan juga masih perlu diperbarui dan disempurnakan.
Persoalan lain yang disoroti adalah belum semua desa di Lombok Tengah menjadi desa tangguh bencana. Wiranata menyebutkan bahwa saat ini baru 54 desa yang berstatus desa tangguh bencana. Targetnya, semua desa harus menyelesaikan status ini pada tahun berjalan agar seluruh wilayah siap menghadapi potensi bencana.
Advertisement
Advertisement
Integrasi Program dan Target Desa Tangguh Bencana
Lalu Wiranata juga menekankan pentingnya integrasi program lintas sektoral dalam upaya mitigasi bencana Lombok Tengah. Ia menyoroti bahwa program dari pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten belum sepenuhnya terintegrasi dengan baik. Integrasi yang maksimal akan sangat membantu mengurangi risiko bencana secara signifikan.
Keterpaduan program ini mencakup berbagai aspek, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kebijakan kebencanaan. Dengan adanya koordinasi yang kuat, diharapkan tidak ada tumpang tindih program dan sumber daya dapat dialokasikan secara lebih efisien. Sinergi antar tingkatan pemerintahan menjadi kunci keberhasilan.
Target ambisius untuk menjadikan semua desa sebagai desa tangguh bencana menunjukkan komitmen Pemkab Lombok Tengah. Keberadaan desa tangguh bencana sangat vital untuk membangun ketahanan masyarakat dari tingkat paling bawah. Hal ini akan memperkuat kapasitas lokal dalam menghadapi berbagai ancaman bencana yang mungkin terjadi.
Advertisement
Advertisement
Potensi Bencana Hidrometeorologi di Lombok Tengah
Berdasarkan data kejadian bencana, wilayah Lombok Tengah memiliki potensi tinggi mengalami sejumlah bencana hidrometeorologi. Bencana seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan seringkali menjadi ancaman serius bagi masyarakat setempat. Musrenbang ini juga membahas strategi penanganan khusus untuk jenis bencana ini.
Selain bencana hidrometeorologi, gempa bumi dan angin kencang juga merupakan ancaman signifikan di Lombok Tengah. Data dari BPBD Lombok Tengah menunjukkan bahwa lima jenis bencana ini dominan terjadi di daerah tersebut. Oleh karena itu, upaya mitigasi bencana Lombok Tengah harus mencakup kesiapsiagaan untuk semua jenis ancaman ini.
Pemahaman mendalam mengenai karakteristik dan frekuensi bencana di Lombok Tengah menjadi dasar penyusunan RKPD 2027. Dengan mengidentifikasi secara jelas potensi risiko, pemerintah daerah dapat merencanakan program mitigasi yang lebih tepat sasaran. Pendekatan berbasis data ini diharapkan mampu meminimalkan dampak buruk bencana.
Advertisement
Sumber: AntaraNews