Musim kemarau, 42 desa di Boyolali krisis air bersih
Merdeka.com - Akibat datangnya musim kemarau, sedikitnya 42 desa di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mengalami krisis air bersih. Ke 42 desa tersebut tersebar di 6 kecamatan. Yakni Kecamatan Wonosegoro, Cepogo, Musuk, Juwangi, Andong, Musuk, dan Karanggede.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali menyebut, 42 desa tersebut setiap tahunnya menjadi langganan krisis air bersih setiap musim panjang tiba.
"Memang sudah langganan setiap kemarau panjang. Kami memprediksi musim kemarau tahun ini lebih panjang, yaitu Juli-Desember dibandingkan tahun sebelumnya Juli-September," ujar Kepala BPBD Boyolali, Nur Khamdani, saat dihubungi wartawan, Selasa (28/7).
Khamdani mengemukakan, pihaknya saat ini sudah berkoordinasi dengan bupati dan para camat untuk menangani masalah ini. Langkah yang akan dilakukan yakni dengan melakukan droping air bersih ke warga. Ia mengaku sudah mengajukan anggaran sebesar Rp 200 juta ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat melalui BNPB Provinsi untuk mengatasi krisis air di beberapa wilayah tersebut.
"Bantuan air bersih sudah kami koordinasikan dengan instansi terkait, seperti PDAM, Bagian Kesra Setda Boyolali, serta Bakorwil II Surakarta," katanya.
Menurut Khamdani, kekeringan paling parah terjadi di Kecamatan Wonosegoro dan Kecamatan Juwangi. Di Wonosegoro kekeringan melanda 11 desa, hingga menyebabkan puluhan ribu warga kekurangan air bersih. Untuk bertahan dan mendapatkan air bersih, warga bergantung pada bantuan, atau membeli air bersih ruk tangki dengan harga Rp 270 ribu untuk 6.000 liter.
(mdk/hhw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya