Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mereka yang menikmati kehidupan baru di ujung barat 'pulau penjara'

Mereka yang menikmati kehidupan baru di ujung barat 'pulau penjara' Kampung di Ujung Barat Pulau Penjara. ©2018 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid

Merdeka.com - Suatu hari di tahun 2007, Sayid dan istrinya, Darsah terpaksa meninggalkan kampung halamannya di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Kemiskinan dan ketidakberdayaan nasib tanpa pekerjaan membuat keduanya putus asa.

Bersama sekelompok penderes nira, mereka lantas pergi menyeberangi sungai Citanduy dari dermaga Majingklak di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat menuju ujung barat Pulau Nusakambangan. Di pulau yang tersohor sebagai Pulau Penjara itu, Sayid dan Darsah menganggap punya peluang menjalani kehidupan baru.

Di gubuk berukuran 3x4 meter, beratap blarak (daun kelapa kering) berdinding anyaman bambu, Sayid dan Darsah telah menjalani hidup di Nusakambangan selama 10 tahun.

Di dalam gubuk itu, alat-alat dapur, alat-alat pertanian, tiga ekor anjing, empat ekor kucing, karung-karung gabah tak memiliki keleluasaan berbagi ruang dengan para penghuninya. Dahulu, suami istri itu tinggal bersama dua anaknya. Kini, si anak sulung telah mendirikan gubuk sendiri di area Nusakambangan yang ia sebut wilayah atas. Sedang, si anak bungsu memilih merantau ke Jakarta.

Sayid berusia 53 tahun. Dia duduk di lincak di pelataran gubuknya saat ditemui merdeka.com awal Januari 2018 kemarin. Dia bercerita ada rasa kesepian yang sesekali muncul dalam benaknya. Sudah lama ia tak terhubung dengan sanak saudara.

"Saya tidak punya telepon. Di sini gak ada listrik," katanya dengan logat Sunda.

Ia mengenang pertama kali tiba di pelosok barat Nusakambangan, tepatnya di blok Bantarpanjang, pohon-pohon sudah ditebang. Beberapa gubuk sudah berdiri. Lahan tak dijamah.

Suatu kali ia juga pernah didatangi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Cilacap. Dia mendapat cerita tentang gubuk-gubuk pemukiman yang dibakar pada tahun 2002. Upaya penertiban katanya.

"Saya membela keluarga. Untuk makan bertahan hidup," katanya, lalu tercenung.

Selama tinggal di Bantarpanjang, Sayid merasa lebih berarti sebagai manusia. Seolah-olah berada di suatu tempat yang telah dilupakan oleh dunia, ia justru menemukan martabatnya. Saban hari ia mengolah sawah ditemani anjing-anjing peliharaannya. Ia juga menanam pisang, menjual kelapa dan biji kopi untuk menyambung hidup.

Sedang Darsah lebih banyak beraktivitas di seputaran gubuk membuka warung. Kadang-kadang, perempuan asal Ciamis berusia 45 tahun ini menjual soto ayam seharga Rp 8 ribu. Barang dagangan yang sudah pasti tersedia: rokok, makanan ringan serta minuman ringan berkarbonasi.

"Untuk kebutuhan warung, saya menyeberang ke Majingklak. Biasanya sebulan sekali", kata Sayid.

Menuju Bantarpanjang

Lama perjalanan dari Bantarpanjang ke Dermaga Majingklak kurang lebih memakan waktu satu setengah jam. Sayid harus berjalan kaki menyusuri Pantai Kalijati sampai ke Pantai Ranca Babakan. Selanjutnya ia mesti melewati bukit sampai ke pantai Karanglenang. Baru di Karanglenang ia menumpang perahu jenis compreng yang akan mengantarnya ke tempat tujuan.

Di penghujung tahun 2017 lalu, merdeka.com coba berangkat dari dermaga Sleko Kabupaten Cilacap menuju pantai Kalijati. Perahu compreng yang saya tumpangi mesti menyusuri Laguna Segara Anakan selama 3 jam menuju ke Pantai Karanglenang. Usai melewati bukit, sembari mengatur napas di pantai Ranca Babakan saya takjub.

Dari kejauhan nampak muara pesisir Kalijati di punggungi bukit. Sekeliling bukit dirindangi pohon-pohon hijau. Seumpama surga yang tak terjamah, pasir putih terhampar, sejauh mata memandang langit dan laut berwarna biru. Saya pun teringat bait puisi "Prelude" (1967) yang ditulis Abdul Hadi WM ini.

kampung di ujung barat pulau penjara

Kedatangan penduduk sipil di Nusakambangan

Penduduk yang diam-diam menghuni Nusakambangan selalu terkait dua hal, ihwal keputusasaan dan pelabelan sebagai pemukim liar, penduduk gelap, penduduk ilegal atau petani gelap. Para pemukim ini berasal dari Jawa Barat seperti Tasikmalaya, Ciamis, Banjar Patroman juga dari Jawa Tengah yakni Kabupaten Purbalingga dan Kecamatan Patimuan Kabupaten Cilacap.

Tertutupnya Nusakambangan untuk aktivitas penduduk sipil sendiri terentang lama sejak tahun 1908 ketika pulau seluas 220 Kilometer Persegi itu ditetapkan sebagai Poelaoe Boei atau bijzondestraf gevangenis. Saat itu, Nusakambangan masih di bawah pengawasan dan pemilikan Raad van Justitie atau Departemen Kehakiman Hindia Belanda.

Namun sejatinya, Nusakambangan juga berutang budi pada penduduk sipil. Penduduk menyabung nyawa ketika VOC di tahun 1836 terobsesi menjadikan Kabupaten Cilacap pelabuhan di bagian Pantai Selatan Jawa dan Nusakambangan menjadi sistem pertahanan yang perlu diperkuat sejumlah benteng.

Kisah ini seperti ditulis M Unggul Wibowo dalam buku “Nusakambangan dari Pulau Bui Menuju Pulau Wisata” bercerita bahwa Benteng Karang Bolong dan Benteng Banyu Njappa di Nusakambangan dibangun oleh tenaga buruh penduduk sipil. Ketika itu, pada tahun 1850, Mayor von Gagern memutuskan perlu dibangun pembuatan benteng baru di ujung Semenanjung Cilacap yang kini dikenal sebagai Benteng Pendem. Tragedi lalu terjadi, malaria menyerang 80% penduduk yang terlibat pembangunan benteng.

Tenaga buruh lantas diputuskan menggunakan narapidana. Di sekitar benteng Karang Bolong dibangun penjara dari bambu dengan kapasitas 300 narapidana. Lagi-lagi wabah malaria menyerang di tahun 1862, sehingga pembuatan benteng tersendat-sendat. Demi alasan keamanan, pulau Nusakambangan ditutup untuk penduduk sipil, Dari kejadian inilah, cikal bakal Nusa Kambangan sebagai pulau Bui pun mulai terbentuk.

Perpindahan besar-besaran penduduk sipil ke Nusakambangan kembali terjadi di tahun 1997. Polisi Kehutanan BKSDA Jawa Tengah RKW Cilacap, Dedi Rusyanto saat ditemui di Bantarpanjang mengatakan setahun sebelum reformasi, investor pabrik tepung pisang cavendish bekerjasama dengan pihak lapas membawa masuk ratusan buruh untuk pembukaan lahan. Di tahun 1998, pabrik tepung itu mesti ditutup. Para buruh tebang hutan terperangkap di Nusakambangan. Sebagian dari mereka memilih bertahan hidup di pulau penjara menanam padi sawah.

Dari sinilah kisah suburnya tanah Nusakambangan beredar dari mulut ke mulut. Pemukiman-pemukiman semi permanen semakin bermunculan termasuk di Bantarpanjang. Kedatangan mereka lantas melebar menjadi persoalan lingkungan dan kependudukan.

"Saya khawatir ketika terjadi pembiaran, alih fungsi hutan ke perkebunan semakin meluas ke wilayah cagar alam," tuturnya.

Bertahan hidup di blok Bantarpanjang

Bantarpanjang dikenal sebagai blok yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Kampung Laut Kabupaten Cilacap. Saat ini, kurang lebih ada tiga puluh keluarga yang mendiami blok tersebut. Jarak antar kediaman masing-masing 30 sampai 50 meter dipisahkan petak-petak sawah. Dari bibir Pantai Kalijati, jarak terdekat gubuk pemukim kurang dari 200 meter.

"Saya lima tahun tinggal di sini," kata Kastari, saat mengenalkan diri di halaman gubuknya yang bersebelahan dengan masjid.

Dia mengenakan kaos bermotif loreng berlengan pendek. Di pinggangnya terikat sebilah golok. Dengan ramah ia mempersilakan saya ke kamar mandi di samping masjid jika ingin membasuh diri. Tapi saya mesti menimba air terlebih dahulu di sumur.

Kastari berusia 70 tahun. Sore itu, ia tengah menemani istrinya, Darisem yang berusia 56 tahun memasak di dapur. Kastari merupakan ketua pemukim di Bantarpanjang.

Suami istri itu sama-sama berasal dari Kabupaten Purbalingga. Keduanya mengaku tak memiliki lagi lahan garapan di kampung halamannya. Mereka juga enggan kerja di pabrik bulu mata palsu yang tersebar di Purbalingga, sebabnya turun-temurun mengguratkan nasib sebagai petani. Pertama kali ke Nusakambangan, Kastari diajak oleh temannya untuk trukah. Dalam bahasa Banyumas, trukah berarti membuka hutan atau membuka lapangan kerja baru.

Di Bantarpanjang, Kastari kini menggarap lahan seluas 1 hektare sawah. Ia menanam padi jenis wungkul. Setiap panen, ia menyebut ada bos yang menebas. Seseorang yang ia sebut bos itu dari wilayah Selok Jero, masuk wilayah Pulau Nusakambangan berjarak 3 Km sebelah utara Bantarpanjang. Satu kwintal gabah dihargai Rp 670 ribu tapi dipotong Rp 20 ribu untuk biaya angkut. Entah mengapa, Kastari enggan menyebut nama bos yang ia maksud.

"Setiap setahun sekali saya pulang ke Purbalingga. Anak-anak saya dis ana semua. Uang hasil tani di sini saya simpan," kata Darisem memotong pembicaraan.

Menurut Kastari, temannya yang dahulu mengajak trukah sudah meninggalkan Bantarpanjang. Ia maklum, di Nusakambangan yang jarang dijamah orang situasinya masih wingit atau keramat. Tak semua orang bisa betah, apalagi jika malam sampai dini hari mesti menunggui sawah menjaga agar tak dirusak babi hutan.

"Ya takut hantu. Tapi tanah di sini subur, ditanam apa saja tumbuh," kata Kastari.

Aktivitas sehari-hari Kastari dan Darisem, mereka nilai lebih bermanfaat di Bantarpanjang daripada pulang menganggur ke kampung halaman. Jika tak ke sawah Kastari mengurusi masjid.

Jelang sore, Bantarpanjang layaknya kampung pada umumnya. Aktivitas masih berjalan seperti biasa. Namun ketika malam hari, suasana minim penerangan membuat suasana gelap gulita. Meringkuk di dalam tenda, hanya terdengar deru ombak dan lolongan anjing.

kampung di ujung barat pulau penjara

Tak ada makam

Setelah satu malam dua hari tinggal di Bantarpanjang, pada Minggu (31/12) pukul 14.00 saya pulang ke Cilacap. Dalam perjalanan meninggalkan Bantarpanjang, saya bertemu Wawan di tepian pantai Kalijati.

Saat itu, ia mengendarai motor yang rodanya diikat rantai besi. Modifikasi itu ia katakan untuk mempermudah melewati jalan-jalan berlumpur di Bantarpanjang saat ia menuju ladang garapannya.

Wawan berusia 30 tahun, berasal dari Kabupaten Pangandaran dan telah menetap di Bantarpanjang sejak tahun 2012. Ia mengajak saya mampir ke warungnya di tepi pantai Kalijati dan memberi saya es kelapa muda. Di warung itu pula, saya melihat istrinya menggendong anak yang belum genap berusia satu tahun.

"Kalau sakit, puskesmas terdekat di Kampung Laut. Ibu-ibu yang hamil lalu melahirkan juga ke Puskesmas Kampung laut. Untuk sekolah anak belum saya pikirkan," kata Wawan.

Perahu compreng yang saya tumpangi, telah begitu jauh meninggalkan Bantarpanjang. Saya mengingat-ngingat tak melihat satu makam pun di sana. Satu hal yang saya lupa tanyakan, baik pada Sayid, Darsah, Kastari, Darisem, Wawan juga pemukim lain apakah mereka juga ingin mengakhiri hidup di Bantarpanjang, pelosok barat Nusakambangan itu.

Saya tak tahu, apakah mereka telah memendam rencana pulang ke kampung halaman masing-masing. Kesan yang saya dapat, mereka telah menyeberang ke kehidupan baru di mana mereka tak tercatat secara administratif sebagai penduduk.

"Saya tahu, saya dipandang sebagai penduduk liar." Kata-kata Sayid itu, terasa memunculkan perasaan terasing yang demikian kuat.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP