Merdeka di Tanah Sendiri: Anak Muda Garut Diajak Berani Menulis, Suarakan Isu Lokal hingga Lirik Lagu
Anak muda Garut didorong untuk berani menulis dan mengekspresikan diri, dari isu lokal hingga lirik lagu, dalam diskusi 'Merdeka di Tanah Sendiri' untuk menyuarakan aspirasi.
Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjadi saksi ajakan inspiratif kepada generasi mudanya untuk berani berkarya. Melalui diskusi panel bertajuk "Merdeka di Tanah Sendiri", anak-anak muda di daerah ini didorong untuk mengekspresikan diri melalui tulisan dan menyampaikan suara mereka demi kebaikan bersama. Acara ini berlangsung pada Sabtu, 13 September, dan menarik perhatian banyak kalangan.
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber muda berbakat yang telah berkiprah di dunia literasi dan musik. Mereka adalah Cyntha Hariadi, seorang penulis buku ternama; Wawan Kurniawan, penulis puisi, cerpen, dan esai; serta Firda Marsya Kurnia, penulis lagu sekaligus personel Band VoB. Para peserta yang hadir meliputi pelajar, mahasiswa, penulis muda, hingga masyarakat umum yang antusias.
Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk memotivasi anak muda Garut agar tidak ragu dalam menyalurkan ide dan pemikiran mereka. Dengan semangat "Merdeka di Tanah Sendiri", diharapkan lahir karya-karya orisinal yang mampu memberikan dampak positif. Inisiatif ini menjadi langkah penting dalam menumbuhkan budaya literasi dan kreativitas di kalangan generasi Z.
Pentingnya Membaca dan Keberanian Berekspresi
Narasumber Cyntha Hariadi, penulis buku "Kokokan Mencari Arumbawangi", menekankan pentingnya membaca sebagai fondasi dalam menulis. Ia mengajak anak muda Garut menulis dengan memperbanyak literatur untuk memperkaya informasi dan pengetahuan. Dengan bekal yang cukup, keberanian untuk menuangkan pemikiran ke dalam tulisan akan tumbuh secara alami.
Menurut Cyntha, diskusi dan pertemuan semacam ini sangat efektif dalam memicu semangat kreativitas. Kegiatan tersebut mampu memberikan motivasi bagi generasi muda untuk terus belajar dan mengembangkan potensi diri. "Dengan kegiatan ini sangat mendorong untuk mulai belajar," ujarnya, menggarisbawahi dampak positif acara.
Melalui tulisan, setiap individu memiliki kesempatan untuk menyampaikan gagasan dan perspektif unik. Ini adalah cara yang kuat untuk berpartisipasi dalam diskursus publik. Dorongan untuk berani berekspresi ini menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan kepada para peserta.
Suara Lokal yang Signifikan dan Karya Kolektif
Wawan Kurniawan, narasumber sekaligus penulis puisi dan esai, turut menyuarakan ajakan serupa kepada anak muda Garut menulis. Ia mendorong mereka untuk berani menuliskan kondisi sosial dan isu-isu yang ada di daerah Garut. Menurutnya, tidak semua tulisan harus mengangkat isu nasional, karena setiap daerah memiliki persoalannya sendiri yang perlu diungkap.
Wawan menjelaskan bahwa suara dari Garut memiliki bobot dan signifikansi tersendiri bagi masyarakat luas. Mengungkapkan isu lokal dapat membawa dampak kebaikan dan menjadi hal penting bagi publik. "Suara Garut itu bisa hadir, jangan anggap kita di Garut ini cuma di Garut, Garut punya suara sendiri, dan signifikan bagi orang banyak," tegasnya.
Firda Marsya Kurnia, vokalis dan gitaris band metal VoB, menambahkan bahwa gerakan kolektif sangat dibutuhkan. Ia mengajak anak muda Garut menulis dan melakukan berbagai kegiatan positif secara bersama-sama. Firda percaya banyak anak muda memiliki bakat dan minat yang perlu terus dikembangkan, salah satunya dengan membaca dan menulis.
Karya tulis, menurut Firda, tidak hanya terbatas pada buku, tetapi juga bisa berupa lirik lagu. Ini adalah cara alternatif untuk mengungkapkan ide dan kreativitas menjadi sebuah karya musik. "Anak muda yang ingin memulai fokuskan energi untuk membuat karya," kata perempuan kelahiran Garut tersebut, memotivasi para calon penulis dan musisi.
Merayakan Literasi dan Kebebasan Berpikir
Amie Puspahadi, Ketua Pesta Literasi Indonesia 2025, menjelaskan bahwa acara ini merupakan ruang perjumpaan yang mempererat ikatan masyarakat Garut melalui literasi. Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam tentang pentingnya berbagi pengalaman dan merayakan pengetahuan bersama. Pesta Literasi di Garut bukan sekadar ajang membaca atau berdiskusi.
"Melainkan momentum untuk menyalakan keberanian generasi muda Garut untuk berkarya, bersuara, dan merayakan keberagaman melalui kata dan kreativitas," kata Amie. Pernyataan ini menegaskan visi besar di balik penyelenggaraan acara tersebut. Ini adalah kesempatan bagi anak muda Garut menulis dan menunjukkan potensi mereka.
Ranti Pebrianti, seorang Gen Z alumni Fakultas Komunikasi dan Informasi Universitas Garut, yang turut hadir dalam diskusi, merasa kegiatan ini sangat relevan. Menurutnya, acara tersebut penting untuk generasi muda agar memiliki daya pikir kritis dalam menyampaikan ekspresi diri. Di tengah derasnya arus informasi digital, "Merdeka di Tanah Sendiri" menjadi pengingat akan kebebasan berpikir.
"Acara ini relevan banget sama aku sebagai Gen Z ya, di mana di tengah derasnya arus informasi digital, acara kayak gini justru jadi pengingat kalau 'Merdeka di Tanah Sendiri' itu juga tentang merdeka dalam cara kita berpikir, memahami, dan mengekspresikan diri," ungkap Ranti. Diskusi ini diselenggarakan bekerja sama dengan komunitas Sadar Setara, sebagai bagian dari Pesta Literasi Indonesia 2025 yang mengusung tema "Cerita Khatulistiwa".
Sumber: AntaraNews