Menyingkap misteri kabut tebal di Gunung Salak
Merdeka.com - Kabut tebal kerap menyelimuti kawasan Gunung Salak, Jawa Barat. Hal itu semakin menambah nuansa mistis di gunung yang berada di Jawa Barat itu.
Tak jarang, penerbangan sering terganggu akibat turunnya kabut. Bahkan, sejumlah pihak menduga, jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di lereng Gunung Salak disebabkan gangguan dari kabut tebal.
Misteri kabut di gunung yang dimitoskan menjadi lokasi berubah wujud Prabu Siliwangi menjadi macan itu memang mengundang sejumlah tanya. Apalagi gunung itu menjadi lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 yang memiliki tekhnologi cangih itu.
Namun, kemunculan kabut yang tak pandang waktu di Gunung Salak nampaknya tak perlu disangkutpautkan dengan hal mistis gunung itu. Sebab, kondisi geografis gunung dengan ketinggian di atas 2000 meter itu telah mempengaruhi cuaca di wilayah tersebut.
"Itu sesuatu yang normal, karena kondisi daerah pegunungan dipengaruhi oleh angin lembah dan gunung dan ini mempengaruhi proses pembentukkan awan dan kabut," kata petugas prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Fadli, saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (11/5).
Dalam usaha evakuasi korban pesawat Sukhoi Superjet 100, tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI dan polisi kesulitan mencapai lokasi. Selain memiliki medan yang sulit, cuaca di Gunung Salak cepat sekali mengalami perubahan. Namun, hal itu merupakan sesuatu yang normal.
"Perubahan cuaca secara cepat itu sebenarnya hal yang biasa, karena pengaruh dari geografinya dan pengaruh lokal," jelas Fadli.
Meski sampai saat ini masih banyak orang yang mempercayai kabut di Gunung Salak memiliki nuansa mistis, tapi alasan ilmiah tetap harus mendapat tempat. Sebab, segala sesuatu dapat diselidiki secara ilmiah. (mdk/dan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya