Menteri Iran: Agresi AS-Israel Targetkan 30 Universitas Sejak Konflik Februari

Menteri Sains, Penelitian, dan Teknologi Iran, Hossein Simaei Sarraf, mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Israel telah menyerang 30 universitas di seluruh Iran sejak awal konflik 28 Februari, menargetkan fasilitas pendidikan dan penelitian. Serangan U

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menteri Iran: Agresi AS-Israel Targetkan 30 Universitas Sejak Konflik Februari
Menteri Sains, Penelitian, dan Teknologi Iran, Hossein Simaei Sarraf, mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Israel telah menyerang 30 universitas di seluruh Iran sejak awal konflik 28 Februari, menargetkan fasilitas pendidikan dan penelitian. Serangan U (AntaraNews)

Teheran, Iran – Menteri Sains, Penelitian, dan Teknologi Iran, Hossein Simaei Sarraf, pada hari Senin (6/4/2026) mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangan terhadap 30 universitas di seluruh Iran sejak konflik dimulai pada 28 Februari lalu. Pernyataan ini disampaikan Sarraf kepada kantor berita RIA Novosti, menyoroti eskalasi konflik yang kini menyasar institusi pendidikan tinggi.

Sarraf menjelaskan bahwa agresi militer tersebut secara terang-terangan menargetkan universitas dan pusat penelitian, menyebabkan kerusakan signifikan pada laboratorium, ruang kelas, dan asrama mahasiswa. Hingga saat ini, tercatat 30 universitas di berbagai wilayah Iran telah menjadi korban serangan.

Menurut Sarraf, tindakan AS dan Israel ini merupakan indikasi keputusasaan setelah mereka gagal mencapai hasil yang diharapkan dalam konfrontasi langsung dengan militer Iran. Iran sendiri telah membalas agresi tersebut dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran bermula pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan agresi militer dengan menyerang sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan ini menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban sipil.

Fokus serangan terhadap institusi pendidikan, seperti yang diungkapkan oleh Menteri Sarraf, menunjukkan pergeseran target dari militer ke fasilitas sipil vital. Laboratorium, ruang kelas, dan asrama mahasiswa menjadi sasaran, mengganggu proses belajar mengajar dan penelitian di Iran.

Awalnya, AS dan Israel mengklaim agresi ini diperlukan untuk menghancurkan program nuklir Iran. Namun, dalih tersebut kemudian berubah menjadi keinginan untuk mengubah rezim yang berkuasa di Iran, memicu kecaman internasional dan memperburuk ketegangan regional.

Penargetan universitas dan pusat penelitian memiliki dampak jangka panjang terhadap kapasitas ilmiah dan intelektual Iran. Kerusakan fasilitas dan potensi korban jiwa di kalangan akademisi dan mahasiswa dapat menghambat kemajuan pendidikan dan inovasi di negara tersebut.

Menteri Sains, Penelitian, dan Teknologi Iran menegaskan bahwa serangan terhadap universitas merupakan tindakan barbar yang tidak dapat diterima, menyamakannya dengan kembali ke 'Zaman Batu'. Pernyataan ini menggarisbawahi beratnya dampak yang ditimbulkan oleh agresi tersebut terhadap sektor pendidikan Iran.

Sebagai respons terhadap agresi yang berkelanjutan, Iran tidak tinggal diam. Teheran telah membalas serangan tersebut dengan menargetkan wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, menunjukkan kesiapan untuk mempertahankan diri dan merespons setiap tindakan permusuhan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi