Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa proses pendataan kerusakan rumah akibat banjir diperkirakan akan memakan waktu beberapa bulan. Pemerintah menerapkan pendekatan respons paralel untuk mempercepat penanganan komprehensif bagi para korban.
Langkah strategis ini diambil setelah Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung lokasi pengungsian di Sumatera Utara pada Sabtu lalu. Kunjungan tersebut menggarisbawahi urgensi penanganan bencana dan dampak yang ditimbulkannya.
Fokus utama pemerintah saat ini adalah upaya tanggap darurat, namun persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi juga sudah dimulai secara simultan. Hal ini mencakup penghitungan detail jumlah rumah yang terdampak, baik yang mengalami kerusakan ringan, sedang, maupun parah.
Advertisement
Advertisement
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pemerintah memprioritaskan upaya tanggap darurat di lokasi bencana. Namun, pada saat yang sama, persiapan untuk fase rehabilitasi dan rekonstruksi juga telah dimulai sejak dini.
"Prosesnya kemungkinan akan memakan waktu berbulan-bulan, sehingga beberapa tahapan dilakukan secara bersamaan," kata Hadi dalam keterangan pers yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Sabtu. Pendekatan ini memastikan bahwa bantuan segera tiba di lokasi bencana.
Selain itu, langkah-langkah jangka panjang juga dipersiapkan sejak awal untuk penanganan perumahan korban banjir. Ini termasuk inventarisasi kerusakan rumah yang terdampak, baik yang mengalami kerusakan parah, sedang, maupun ringan. Pemerintah berupaya agar tidak ada jeda waktu yang signifikan antara fase darurat dan pemulihan.
Advertisement
Koordinasi lintas sektor terus diperkuat untuk memastikan efektivitas program. Tujuan utamanya adalah memberikan solusi berkelanjutan bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Advertisement
Selain penanganan darurat, pemerintah juga telah mengoordinasikan persiapan lokasi baru atau relokasi bagi warga yang tidak dapat kembali ke rumah lama mereka. Hal ini bisa disebabkan oleh alasan keamanan atau tingkat kerusakan yang terlalu parah, sehingga penanganan perumahan korban banjir membutuhkan solusi permanen.
Hadi menambahkan bahwa pemerintah sedang melakukan inventarisasi lahan milik negara. Lahan yang dikelola oleh pihak lain juga turut diidentifikasi untuk potensi penggunaan sebagai area relokasi yang aman dan layak.
"Kami telah berkoordinasi di 52 kabupaten dan kota yang terdampak untuk menginventarisasi tanah negara dan tanah yang saat ini dikelola oleh pihak tertentu. Area-area ini akan dialokasikan sebagai lokasi relokasi bagi penduduk yang terdampak," ujarnya.
Advertisement
Pemerintah berkomitmen untuk memastikan semua tahapan, mulai dari mitigasi hingga relokasi, dapat diselesaikan secepat mungkin. Ini demi memberikan kepastian tempat tinggal yang layak dan aman bagi korban banjir, serta memulihkan kehidupan mereka.
- Cakupan Koordinasi Penanganan Perumahan Korban Banjir:
- Melibatkan 52 kabupaten dan kota yang terdampak.
- Inventarisasi tanah negara dan lahan yang dikelola pihak lain.
- Penyiapan lokasi relokasi baru untuk warga yang tidak bisa kembali.
Sumber: AntaraNews
Advertisement