Menkeu Purbaya Sampaikan Laporan Anggaran ke Prabowo Usai Rapat Komisi XI

Dalam pertemuan tersebut, Purbaya menyatakan akan melaporkan sejumlah hal penting kepada Presiden, termasuk perkembangan terkini terkait anggaran negara.

Lizsa Egeham
Oleh Lizsa Egeham - Reporter
Menkeu Purbaya Sampaikan Laporan Anggaran ke Prabowo Usai Rapat Komisi XI
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) berjabat tangan dengan Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun (kiri) sebelum mengikuti rapat kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/9/2025). (merdeka.com/ arie basuki)

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyambangi Istana Kepresidenan Jakarta untuk bertemu Presiden Prabowo Subianto, Rabu (10/9), usai menghadiri rapat bersama Komisi XI DPR.

Dalam pertemuan tersebut, Purbaya menyatakan akan melaporkan sejumlah hal penting kepada Presiden, termasuk perkembangan terkini terkait anggaran negara.

"Laporan. Dari DPR kan ngomongin anggaran, ada beberapa yang mesti dilaporin ke presiden," kata Purbaya kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (10/9).

Dia akan melaporkan soal perubahan anggaran yang sebelumnya dibahas dengan DPR RI. Purbaya akan mendiskusikan dengan Prabowo soal anggaran-anggaran yang akan diubah.

"Kan sidang DPR pasti ada perubahan anggaran. Itu yang akan ajukan kita laporkan terkait seperti apa hasil dengan DPR. Angkanya belum resmi karena masih didiskusikan dengan Presiden," jelas Purbaya.

"Nanti deh kalau udah keluar. Nanti gue dibilang bocorin lagi," sambungnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa rupiah tetap stabil meski perekonomian global masih diliputi ketidakpastian.

Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, ditambah surplus neraca perdagangan, memberikan bantalan penting bagi nilai tukar.

"Di tengah gejolak global, kinerja instrumen keuangan terus membaik dan kepercayaan investor juga terus pulih. Hal ini terefleksi pada tekanan pada rupiah yang mereda dan kinerja SBN dengan yield yang terus turun. Surplus neraca perdagangan menopang kinerja rupiah," kata Purbaya dalam Raker dengan Komisi XI DPR, di Jakarta, Rabu (10/9).

Purbaya menyampaikan, sejak Januari hingga Agustus 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus hingga USD 29 miliar, tumbuh 52,6% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kinerja ekspor yang solid, terutama dari produk industri pengolahan seperti CPO dan besi baja, turut memperkuat cadangan devisa.

Kebijakan konversi devisa hasil ekspor (DHE) ke rupiah juga membantu meredakan tekanan pada nilai tukar. Langkah ini memastikan likuiditas valuta asing terjaga, sekaligus menambah kepercayaan terhadap stabilitas rupiah.

"Di samping neraca perdagangan yang konsisten surplus, konversi valas ke rupiah oleh eksportir dalam rangka pemenuhan kebijakan pemerintah mengenai devisa hasil ekspor atau DHE SDA turut mendukung meredanya tekanan pada nilai tukar rupiah," jelasnya.

Purbaya menilai kondisi ini menunjukkan mesin ekonomi domestik tetap berjalan aktif, sehingga tidak hanya menopang nilai rupiah, tetapi juga mendukung pertumbuhan yang berkesinambungan.

Selain dari perdagangan, stabilitas rupiah juga didukung masuknya modal asing. Data per 4 September 2025 mencatat aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 77,02 triliun.

"Aliran masuk modal asing ke pasar SBN yang mencapai Rp 77,02 triliun per 4 September 2025 menjadi faktor positif tambahan bagi rupiah," ujarnya.

Rekomendasi