Menguak Hubungan Bahasa dan Lingkungan: Bengkel Sastra Maluku Angkat Isu Ekolinguistik, Apa Itu?

Komunitas Bengkel Sastra Maluku (BSM) menggelar diskusi buku di Ambon, membahas isu krusial **ekolinguistik** yang mengupas hubungan erat bahasa dan alam. Bagaimana sastra bisa jadi medium kesadaran lingkungan?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menguak Hubungan Bahasa dan Lingkungan: Bengkel Sastra Maluku Angkat Isu Ekolinguistik, Apa Itu?
Komunitas Bengkel Sastra Maluku (BSM) menggelar diskusi buku di Ambon, membahas isu krusial **ekolinguistik** yang mengupas hubungan erat bahasa dan alam. Bagaimana sastra bisa jadi medium kesadaran lingkungan? (AntaraNews)

Komunitas Bengkel Sastra Maluku (BSM) baru-baru ini menggelar sebuah diskusi buku yang berfokus pada isu ekolinguistik di Ambon, Maluku. Acara bertajuk “Rumah, Bahasa, dan Alam: Membaca Ekolinguistik dalam Buku KRTMP” ini sukses mempertemukan berbagai kalangan pegiat literasi. Diskusi ini bertujuan untuk membedah karya sastra secara kritis dan apresiatif.

Diskusi tersebut menghadirkan penulis buku KRTMP, Theo, dan akademisi Rona da Costa sebagai pembicara utama. Mereka membahas karya tersebut dari perspektif ekolinguistik yang mendalam. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan penampilan musikalisasi puisi yang kreatif.

Ketua BSM, Marthen Reasoa, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan upaya nyata menghidupkan literasi di Kota Ambon dan Maluku. BSM berharap diskusi ini dapat memperkuat ekosistem sastra lokal. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperluas pemahaman masyarakat tentang hubungan erat antara bahasa, sastra, dan lingkungan.

Dalam diskusi yang berlangsung di Ambon, konsep ekolinguistik menjadi sorotan utama. Ekolinguistik mengkaji hubungan timbal balik antara bahasa, budaya, dan lingkungan alam. Para peserta diajak memahami bagaimana bahasa dapat mencerminkan dan membentuk pandangan kita terhadap alam sekitar. Ini adalah pendekatan penting dalam memahami krisis lingkungan saat ini.

Buku KRTMP karya Theo menjadi objek utama dalam pembedahan ini. Akademisi Rona da Costa memberikan analisis mendalam tentang bagaimana elemen-elemen ekolinguistik terjalin dalam narasi buku tersebut. Diskusi ini membuka wawasan baru tentang potensi sastra sebagai medium refleksi. Sastra tidak hanya dipandang sebagai bentuk estetika semata.

Lebih dari sekadar kajian akademis, diskusi ini juga menumbuhkan kesadaran ekologis di kalangan peserta. BSM berupaya agar praktik berkarya dan berbahasa dapat lebih peka terhadap isu lingkungan. Hal ini sejalan dengan tujuan untuk menjadikan sastra sebagai alat perubahan sosial. Sastra memiliki kekuatan untuk menginspirasi tindakan nyata.

Kegiatan diskusi buku ini merupakan bagian dari Program Penguatan Komunitas Sastra Tahun 2025. Program ini didukung penuh oleh Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan. Dukungan ini menunjukkan komitmen pemerintah terhadap pengembangan literasi di daerah. Ini adalah langkah strategis untuk memperkuat budaya membaca.

Marthen Reasoa menegaskan bahwa diskusi semacam ini sangat penting untuk ekosistem sastra Maluku. BSM berharap dapat memperluas pemahaman publik mengenai interkoneksi bahasa dan lingkungan. Tujuannya adalah agar sastra dapat berfungsi sebagai medium reflektif. Sastra dapat menyoroti perubahan sosial dan lingkungan yang terjadi.

Ke depan, BSM memiliki rencana ambisius untuk menggelar lebih banyak kegiatan serupa. Rencana ini akan memadukan kajian ilmiah, seni pertunjukan, dan partisipasi komunitas secara aktif. Inisiatif ini bertujuan menjadikan Ambon sebagai salah satu pusat gerakan literasi budaya. Ambon diharapkan menjadi mercusuar literasi di kawasan Timur Indonesia.

Selain memperkuat jaringan antar-komunitas, kegiatan ini juga menjadi ajang kolaborasi kreatif yang penting. Bengkel Sastra Maluku menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga. Gramedia Ambon dan media lokal turut berpartisipasi aktif dalam mendukung acara ini. Kolaborasi ini menunjukkan semangat kebersamaan dalam memajukan literasi.

Keterlibatan beragam pihak ini mendorong terciptanya ruang literasi publik yang lebih terbuka dan berkelanjutan. Peserta diskusi terdiri dari komunitas sastra dan literasi, akademisi, seniman, serta masyarakat umum. Kehadiran mereka mencerminkan minat yang luas terhadap isu-isu sastra dan lingkungan. Ini adalah indikator positif bagi perkembangan literasi.

Dengan adanya dukungan dan kolaborasi ini, BSM optimis dapat mencapai tujuannya. Mereka ingin menjadikan sastra sebagai kekuatan pendorong kesadaran ekologis dan sosial. Harapannya, Maluku akan terus berkembang sebagai pusat kebudayaan. Sastra akan menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi