Mengenang Ersa Siregar, jurnalis RCTI yang gugur di medan laga

Sabtu, 8 Februari 2014 12:18 Reporter : Arie Sunaryo
Ersa Siregar. ©istimewa

Merdeka.com - Sepuluh tahun sudah, wartawan RCTI Ersa Siregar meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Pria kelahiran Brastagi, 4 Desember 1951 tersebut ditemukan tewas saat bertugas sebagai seorang jurnalis, seusai kontak senjata antara pasukan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dengan pasukan TNI Yonif Marinir VI, di Sungai Malehen, Simpang Ulim, Aceh Timur, Senin 20 Desember 2003, sekitar pukul 12.30 WIB.

Ersa tewas akibat dua tembakan di tubuhnya, yakni di leher yang tembus hingga ke tangan kanan dan dada yang tembus ke punggung. Sebelumnya pria yang bergabung di RCTI sejak 18 Agustus 1993 tersebut menjadi sandera GAM sejak 29 Juni 2003, bersama kameramen RCTI Ferry Santoro dan sopir RCTI Rahmatsyah. Namun keduanya berhasil diamankan TNI.

Kepergian Ersa tentu saja meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya keluarga, istrinya Tuty Komala Bintang dan ketiga anaknya, Ridwan Ermalandra, Syawaludin Adesyahfitrah dan Syarah Meiliani Fauziah, namun juga bagi dunia jurnalistik. Betapa tidak, setelah berbulan-bulan dalam perjuangan antara hidup dan mati, Ersa Siregar akhirnya meninggalkan keluarga untuk selama-lamanya.

Meninggalnya Ersa saat itu melengkapi masa suram kebebasan pers di Indonesia, yang masih dihadapkan serangkaian kasus gugatan terhadap institusi penerbitan pers beserta aksi-aksi premanisme yang masih sering terjadi hingga saat ini.

Medan perang memang menjadi pilihan yang sulit, bagi seorang jurnalis untuk meliputnya. Saat berada di medan perang, seorang jurnalis harus berpikir bagaimana menyelamatkan dirinya. Lantaran tak ada yang memberikan jaminan, pihak-pihak yang bertikai akan mentaati konvensi internasional tentang perlindungan jurnalis saat melakukan peliputan perang. Namun bagi seorang jurnalis sejati seperti Ersa Siregar, hal tersebut bukanlah menjadi halangan untuknya mendapatkan informasi-informasi yang akan disajikan ke publik.

Dengan keberanian tersebut Ersa pun bisa membangun akses ke kedua belah pihak yang bertikai. Hingga pada akhirnya risiko terburuk pun harus dihadapinya. Kepergian Ersa mungkin akan menjadi pengorbanan tertinggi dalam profesi sebagai jurnalis, yakni meninggal saat menjalankan tugas jurnalistik.

Di mata teman seprofesinya, kepergian pria yang menjalani profesi sebagai jurnalis sejak tahun 1987 tersebut menjadi suatu yang sangat berat. Ungkapan tersebut disampaikan salah seorang Koresponden RCTI di Solo, Septyantoro.

"Kami sangat kehilangan ketika mendengar beliau meninggal di medan perang. Sebagai senior kami, Bang Ersa itu orangnya sangat familiar, orangnya tegas, keras, tapi lembut, ramah, tidak membeda-bedakan dan sopan santun," ujar Septyantoro kepada merdeka.com, Sabtu (7/2).

Pengalaman bersama Ersa yang paling mengesankan menurut Septyantoro, saat dirinya bersama rekan-rekan koresponden dari daerah lainnya mengikuti pelatihan di RCTI. Meski masih sibuk bertugas di Aceh, Ersa tetap menyempatkan diri ke Jakarta untuk memberikan materi pelatihan bagi koresponden baru, yang akan bertugas di berbagai daerah.

"Saat itu bang Ersa masih di Aceh, tapi beliau menyempatkan diri ke Jakarta untuk memberikan pelatihan. Saat itu Bang Ersa memberikan materi reportase jurnalis saat berada di medan perang. Dia berbagi pengalaman meliput perang, bagi wartawan RCTI yang baru. Setelah selesai beliau kembali ke Aceh," ungkapnya.

Menurut informasi dari berbagai sumber, sebelum bergabung di RCTI, Ersa Siregar pernah menjadi wartawan di Majalah Suasana dan Majalah Keluarga. Pertama kali bergabung di RCTI Ersa diberikan tanggung jawab menjadi translator dan produser, kemudian menjabat sebagai menjadi koordinator daerah (korda), koordinator bidang (korbid), koordinator liputan hingga gugur di medan laga. [war]

Topik berita Terkait:
  1. Hari Pers Nasional
  2. Wartawan
  3. RCTI
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini