Mengenal WormiBox, Alat Berbasis IoT Buatan Mahasiswa UGM Untuk Atasi Darurat Sampah Organik

Produk ini merupakan alat budidaya cacing tanah berbasis teknologi Internet of Things (IoT) yang mampu mengubah limbah organik menjadi pupuk bernilai ekonomi.

Purnomo Edi
Oleh Purnomo Edi - Reporter
Mengenal WormiBox, Alat Berbasis IoT Buatan Mahasiswa UGM Untuk Atasi Darurat Sampah Organik
Mengenal WormiBox, Alat Berbasis IoT Buatan Mahasiswa UGM Untuk Atasi Darurat Sampah Organik (Merdeka.com)

Permasalahan pengelolaan sampah menjadi PR bagi banyak daerah di Indonesia. Selain permasalahan sampah plastik, sampah organik yang tak dikelola secara maksimal juga berpotensi menimbulkan masalah lingkungan.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbunan sampah nasional mencapai 33,9 juta ton per tahun, dengan lebih dari 50 persennya berasal dari sampah organik rumah tangga.

Jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik dapat menghasilkan gas metana yang dampaknya terhadap pemanasan global jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida.

Menjawab persoalan tersebut, tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada menghadirkan inovasi pengelolaan sampah organik bernama WormiBox. Produk ini merupakan alat budidaya cacing tanah berbasis teknologi Internet of Things (IoT) yang mampu mengubah limbah organik menjadi pupuk bernilai ekonomi.

Tim peneliti mahasiswa UGM pembuat WormiBox
Tim peneliti mahasiswa UGM pembuat WormiBox Dokumen Humas UGM

WormiBox dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) 2025 sebagai wujud kontribusi nyata mahasiswa dalam mencari solusi berkelanjutan bagi lingkungan.

WormiBox ini merupakan karya mahasiswa UGM yang beranggotakan mahasiswa lintas disiplin, yaitu Fikriansyah Ridwan Pratama (Teknik Fisika 2023), Vidhyazputri Belva Aqila (Akuntansi 2023), Maulana Iqbal Pambudi (Ilmu dan Industri Peternakan 2023), Maureen Arsa Sanda Cantika (Sistem Informasi Geografis 2022) dan Azkal Anas Ilmawan (Teknik Nuklir 2022) sebagai ketua tim.

Tim ini didampingi oleh dosen dari Fakultas Teknik, Dr. Ir. Nur Abdillah Siddiq. Tim ini erkolaborasi menggabungkan keahlian teknologi, manajemen, hingga pemasaran untuk menghasilkan produk yang berkelanjutan.

Ketua Tim WormiBox Azkal Anas Ilmawan menyampaikan bahwa WormiBox hadir untuk mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola limbah organik.

“Sampah rumah tangga jumlahnya terus meningkat, sementara fasilitas pengelolaan terpusat semakin terbatas. WormiBox memberi peluang agar masyarakat dapat mengelola sampah sendiri sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat,” kata Azkal, Senin (13/10).

Azkal menambahkan bahwa WormiBox terintegrasi dengan Internet of Things (IoT). Program ini masih dalam tahap perkembangan yang nantinya pelanggan akan mendapat manfaat ini.

“Output yang ada di alat kami nanti akan langsung bisa dipantau melalui HP atau website kemudian bisa masuk ke akun dan akan dipantau secara real-time, bisa dilihat secara berkala,” jelas Azkal.

Azkal menerangkan WormiBox bekerja dengan memantau kondisi lingkungan secara otomatis, menjaga temperatur dan kelembaban yang sesuai sehingga mampu meningkatkan produktivitas cacing dalam mengurai limbah organik. Dengan cara ini, proses penguraian berlangsung lebih efisien, menghasilkan pupuk organik cair yang dapat digunakan kembali oleh masyarakat.

Salah satu anggota tim, Iqbal mengungkapkan bahwa Wormibox hadir dengan produk lanjutan yang bermanfaat dari cacing yaitu pupuk organik cair dan kascing atau vermikompos.

“Konsumen bukan hanya mendapat manfaat untuk mendekompost sampah rumah tangga tetapi mereka juga mendapatkan produk lanjutan yang dapat bermanfaat bagi pengelolaan tanaman di rumah mereka masing-masing,” terang Iqbal.

Produk WormiBox dipasarkan dengan harga Rp 699.999 dengan target pasar mereka yaitu peternak cacing, ibu rumah tangga, dan komunitas peduli lingkungan yang aktif mendorong gaya hidup ramah lingkungan.

Melalui WormiBox, mahasiswa UGM menunjukkan bahwa inovasi sederhana berbasis teknologi bisa menjadi langkah penting dalam menjawab masalah lingkungan. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menciptakan solusi kreatif bagi keberlanjutan bumi.

Rekomendasi