Mengapa kardus mi instan jadi favorit tentengan pemudik?
Merdeka.com - Bentuknya simpel. Biasanya warnanya cokelat. Barang yang satu ini sudah menjadi favorit pemudik untuk dibawa.
Barang itu tak lain adalah kardus mi instan. Barang yang terbuat dari kertas tebal itu selalu berguna untuk dijadikan tempat menyimpan barang. Bentuknya simpel dan ringan.
Wati (35), warga Sayung, Demak, Jawa Tengah ini mengaku tiap tahun selalu mudik. Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini selalu membawa oleh-oleh untuk keluarganya di kampung halaman. Dari makanan ringan sampai buah-buahan.
Untuk membawa oleh-oleh itu tentu tidak bisa dimasukin ke dalam tas bawaannya. Tasnya sudah penuh dengan pakaian. Karena itu, dia selalu memilih kardus mi instan sebagai tempat kedua untuk menaruh oleh-olehnya.
"Beli di warung hanya Rp 500. Kadang juga dikasih. Enteng dan bisa dibawa ke mana-mana," kata Wati.
Wati adalah salah satu dari jutaan pemudik yang suka menggunakan kardus untuk menaruh barang bawaannya. Hampir tiap tahun pandangan serupa terlihat di stasiun, terminal dan bahkan bandara.
Ada jutaan orang setiap tahunnya mudik ketika menjelang Lebaran. Seperti tahun ini, diprediksi puluhan juta orang akan mudik baik ke Jawa atau daerah lainnya.
Tradisi mudik seolah menjadi tradisi yang tak pernah hilang. "Mungkin ini tradisi kultur. Rata-rata mudik menjadi arena memperkuat relasi yang mereka lakukan karena tidak pernah bertemu dengan keluarga," kata sosiolog dari UGM Arie Sudjito kepada merdeka.com.
Menurut Arie, ada gejala positif dalam tradisi mudik. Di sini, orang yang lama tidak bertemu dengan saudaranya bisa bertemu. "Bisa menjalin silaturrahmi," ujar dia.
Dari tahun ke tahun, kecenderungan pemudik bertambah. Apalagi, Jakarta sebagai Ibu Kota negara ini masih menjadi magnet bagi orang daerah. (mdk/war)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya