Jelang Hari Raya Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, warga Tionghoa di Kota Semarang bergotong royong membersihkan rupang para dewa yang ada di kompleks Vihara Watugong atau sekitar Pagoda Avalokitesvara, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.
Para pengurus bergerak menyusuri setiap lantai pagoda, dan sebagian membersihkan perlengkapan sembahyang. Seluruh proses dilakukan secara manual, tanpa bantuan mesin.
Ketika akan masuk ke dalam pagoda, suasana terasa semakin khidmat. Perhatian paling mencolok tertuju pada rupang Dewi Kwan She Im Pu Sah (Avalokitesvara) setinggi sekitar lima meter yang berdiri megah di ruang utama pagoda.
Rupang berwarna keemasan itu menjadi pusat doa umat yang memohon welas asih. Untuk membersihkannya, para pengurus bahkan harus memanjat hingga ke bagian pundak patung, menyeka debu di bagian kepala dan mahkotanya.
Pada bagian kepala rupang tersebut terdapat patung kecil dengan identitas yang sama. Di sisi kanan dan kiri Dewi Kwan She Im, berdiri patung pengawal laki-laki dan perempuan berukuran lebih kecil.
Di bagian depan, terdapat rupang lain setinggi sekitar satu meter. Seluruhnya dibersihkan menggunakan lap dan kuas dengan penuh kehati-hatian.
Ketua Yayasan Buddhagaya Vihara Watugong Semarang, Wirya Purwasamudra, mengatakan kegiatan bersih-bersih itu rutin dilakukan setiap tahun menjelang Imlek. Tidak hanya pengurus saja, bersih-bersih juga dibantu oleh Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik Keuskupan Agung Semarang (BPK PKK KAS).
"Ini memang kami laksanakan setiap menyambut Imlek. Tapi tahun ini terasa luar biasa, karena tahunnya juga luar biasa. Bersih-bersih kebetulan dibantu umat gereja katolik Keuskupan Agung Semarang. Harapannya ada keberlanjutan, karena serawungan lintas iman itu baik," kata Wirya Purwasamudra, Jumat (13/2).
Advertisement
Dia menyebut momen Toa Pek Kong Naik atau Sang Sin dimaknai sebagai saat introspeksi, ketika manusia membersihkan diri lahir dan batin sebelum memasuki tahun yang baru.
"Pekerjaan di sini semuanya manual. Ketika orang yang membantu bertambah, tenaga bertambah, hasilnya juga lebih bersih. Yang lebih penting, kebersamaannya terasa,” jelasnya.
Perwakilan Badan Pelayanan Keuskupan - Pembaruan Karismatik Katolik Keuskupan Agung Semarang (BPK PKK KAS), Henry Sarwin, mengatakan keikutsertaan mereka merupakan wujud kerukunan dan solidaritas antarumat beragama. "Kami ikut membantu bersih-bersih menyambut Imlek sebagai bentuk kerukunan. Kami sendiri ingin menunjukkan bahwa kita semua satu bangsa, satu negara,” kata dia.
Pengalaman kali pertama pihaknya terlibat langsung dalam kegiatan di Vihara Watugong. Menurutnya, Pagoda Avalokitesvara ini sangat spesial, unik, dan indah sekali.
"Ikon Semarang. Keramahan di sini luar biasa, dan ke depan ingin kami lakukan terus," katanya.
Advertisement
Setelah kegiatan bersih-bersih pada Kamis, 12 Februari 2026, rangkaian perayaan Imlek di Vihara Watugong akan berlanjut pada Selasa, 17 Februari 2026, yang ditetapkan sebagai Hari Raya Imlek 2577 Kongzili.
Beberapa hari setelah itu pada Jumat, 20 Februari 2026, vihara akan menggelar ritual Dewa-Dewi Turun ke Bumi (Toa Pek Kong Turun atau Ci Sin).
Rangkaian doa kemudian berlanjut pada Selasa malam, 24 Februari 2026, melalui pelaksanaan Keng Thi Kong, sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Suasana perayaan akan kembali terasa meriah pada Senin malam, 2 Maret 2026, saat umat memperingati Malam Cap Go Meh.
Tidak berhenti di sana, pada Minggu, 5 April 2026, Vihara Watugong juga akan memperingati Hari Kelahiran Kwan She Im Pu Sah, yang menjadi satu di antara agenda besar umat Buddha di Semarang.