Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Melihat dari Dekat Jam Gadang, Ikon Bukittingi Hampir Berusia 100 Tahun

Melihat dari Dekat Jam Gadang, Ikon Bukittingi Hampir Berusia 100 Tahun Potret Jam Gadang. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Jam Gadang selalu menjadi magnet bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar). Jam Gadang ini adalah tempat wisata berbentuk menara jam yang berada di pusat Kota Bukittinggi dengan dikelilingi taman.

Pada puncaknya, menara Jam Gadang berbentuk atap bagonjong yang disertai ukiran. Jam Gadang ini menjadi ikonnya Kota Bukittinggi dengan memiliki empat buah jam berukuran besar yang diameter masing-masing mencapai 80 sentimeter.

Jam Gadang didominasi nuansa putih dengan pagar hitam. Jam Gadang ini dibangun pada masa pemerintan Belanda yang telah memasuki usia hampir seratus tahun. Meskipun terbilang tua, namun arsitektur Jam Gadang masih berdiri kokoh dan terlihat cantik.

Apabila berkunjung pada malam hari, Jam Gadang semakin dipercantik dengan adanya air mancur warna-warni yang dihidupkan selama 2 jam dalam satu hari, mulai pukul 19.00-21.00 Waktu Indonesia Barat.

Pemandu wisata dan sekaligus petugas Jam Gadang Raynold mengatakan, Jam Gadang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1926 silam.

"Bangsa Belanda kala itu menyebut jam gadang dengan istilah klokketoren yang berarti menara jam. Menara ini terdapat empat buah jam berukuran besar yang diameter masing-masing mencapai 80 sentimeter dengan tinggi menara 26 meter," tuturnya diwawancarai merdeka.com, Jumat, (16/12).

Meskipun pembangunan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tetapi arsiteknya berasal dari Orang Minangkabau. "Arsitek menara jam gadang dirancang oleh Yazid Sutan Maruhun dan Rasid Sutan Gigi Ameh yang selesai dibangun pada tahun 1926 silam," lanjutnya.

potret jam gadang©2022 Merdeka.com

Katanya, jam berserta mesin Jam Gadang didatangkan langsung dari Belanda yang merupakan buatan Jerman. Hal itu dapat kita temukan pada tulisan di lonceng Jam Gadang.

"Meskipun didatangkan dari Belanda, jam beserta mesinnya dibuat oleh Jerman. Pada lonceng jam tertera pabrik pembuat jam Vortmann Reclinghausen. Vortmann adalah nama belakang pembuat jam yakni Benhard Vortmann. Sementara itu sedangkan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam 1892," ujarnya.

Pada lemari komponen mesin jamnya terdapat sebuah tulisan Abs.B.Vortmann, Turmuhrenfabrik I.W. Germany serta pada roda gigi jam terdapat inskripsi B.Vortmann, Recklinghousen -1926.

Pembangunan Puncak Jam Gadang

Raynold menjelaskan, pembangunan puncak menara melalui beberapa tahap. Pertama pada masa Klonial Belanda dengan bentuk kubah kerucut yang dihiasi patung ayam jantan pada bagian puncaknya. Sementara itu, pada masa penjajahan Jepang, kubah diganti berupa bagunan segi empat dengan model atap tradisional Jepang.

Selanjutnya, setelah kemerdekaan Republik Indonesia bagian puncak ditukar dengan atap bagonjong yang hingga saat ini sudah dipagar dengan warna Jam Gadang bernuansa putih.

"Jika dihitung dari awal, sepanjang sejarah Jam Gadang ini sudah memiliki 4 kali perubahan hingga sampai pada bentuk sekarang ini," ujarnya.

Katanya, Jam Gadang yang sudah berusia hampir 100 tahun tersebut memiliki beberapa keistimewaan, seperti Jam Gadang dibangun tanpa mengunakan besi penyangga dan hanya menggunakan adukan semen.

"Adukan semen hanya dicampur dengan putih telur serta pasir putih," ujarnya.

"Angka pada jarum jam IV berbeda dengan angka romavi saat ini. Angka pada jarum jam IV ditulis dengan IIII," lanjutnya.

Menaiki Menara Tidak Untuk Umum

Kata Raynold, menara Jam Gadang tidak dibuka untuk umum. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga keselamatan pengunjung hingga Jam Gadang itu sendiri.

"Menara tidak dibuka untuk umum, hanya diperolehkan untuk kepentingan tertentu saja. Itupun harus melalui surat izin dari dinas setempat," sambungnya.

Meskipun sudah berusia puluhan tahun, Raynold mengaku Jam Gadang tetap kokoh. "Meski sudah tua, Jam Gadang ini masih kokoh dan tetap mengeluarkan bunyi. Kita dari Pemko Bukittinggi sendiri akan terus menjaga Jam Gadang ini," ujarnya.

Pengalaman naik ke puncak menara Jam Gadang

Merdeka.com berkesempatan mengunjungi Jam Gadang serta naik kepuncaknya dengan tinggi Jam Gadang mencapai 26 meter. Dari luar, tampak bangunan Jam Gadang bernuansa putih yang terdiri dari empat tingkat sebelum menuju lantai puncak.

Untuk menjaga kualitas Jam Gadang serta keselamatan pengunjung, menaiki menara tidak dibuka untuk umum. Bagi yang ingin naik harus membutuhkan surat izin khusus dari dinas setempat dan terbatas untuk keperluan tertentu saja. Agar tidak merusak kualitas bagunan, petugas juga membatasi pengunjung yang naik hanya diperbolehkan 4 orang sekaligus.

Semua tangga menuju menara terlihat berwarna abu-abu yang tidak terlalu luas dan cukup curam, sehingga memang ditujukan untuk satu orang saja setiap ada yang naik atau turun.

Untuk sampai puncak, membutuhkan waktu kurang lebih sekitar sepuluh menit. Di dalam menara Jam Gadang, kita akan mememukan mesin yang didatangkan dari Jerman, serta lonceng di lantai empat menara.

potret jam gadang

©2022 Merdeka.com

Sesampainya di menara, angin sejuk sedikit terasa lebih kencang dan terlihat pemandangan panorama Kota Bukittingi yang indah, mulai dari Plaza Bukittinggi, Pasa Ateh Bukittinggi, aneka pertokoan, jalanan yang ramai, serta rumah-rumah warga di perbukitan. Untuk menaiki menara dibutuhkan kehatian-hatian agar keselamatan tetap terjaga.

Meskipun menara tidak dibuka untuk umum tetapi tidak perlu berkecil hati, karena menikmati Jam Gadang tanpa menaiki menara juga tidak kalah indah, wisatawan juga akan disuguhkan dengan pemandangan perbukitan nan hijau.

Selama di lokasi, kita mendengarkan secara langsung bahwa Jam Gadang tersebut berbunyi setiap satu jam sekali dengan jumlah bunyi yang dikeluarkan sesuai dengan angka jarum jam.

(mdk/ray)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP