Maulid Nabi, Khairil Wahyuni Bagikan Kisah Bangkit dari Kegagalan Berkat Keteladanan Rasulullah
Di hadapan para santri dan undangan, Khairil mengungkap bahwa titik balik dalam hidupnya justru datang setelah mengalami masa sulit dan kegagalan karier.
Dalam momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, mantan Direktur Utama PT PLN Batubara, Khairil Wahyuni, membagikan kisah hidupnya yang penuh pelajaran spiritual dan kebangkitan. Bertempat di Pesantren Peradaban Dunia "Jagat Arsy" Jakarta, Rabu (3/9), Khairil hadir sebagai pembicara dalam sarasehan bertema "Kerangka Berpikir Bisnis dalam Perspektif Islam".
Di hadapan para santri dan undangan, Khairil mengungkap bahwa titik balik dalam hidupnya justru datang setelah mengalami masa sulit dan kegagalan karier. Ia harus mengakhiri jabatannya di PLN lebih awal akibat persoalan hukum yang membuatnya terjerat dan mendekam di tahanan.
Namun, di tengah keterpurukan, Khairil justru menemukan kekuatan dari dua sumber utama: Alquran dan keteladanan Rasulullah SAW.
"Sebagai muslim, pedoman hidup saya adalah Alquran dan suri tauladan Rasulullah. Ketika diuji dengan kegagalan, saya mencoba memahami semuanya sebagai bagian dari takdir Allah," ujar Khairil yang mendapat dalam kesaksiannya yang menyentuh.
Khairil tidak menutupi kenyataan pahit yang dialaminya. Ia pernah menempati posisi strategis sebagai Dirut PT PLN Batubara dan bahkan berpeluang naik ke jajaran direksi PT PLN (Persero). Namun, semua berubah drastis pada 2016, ketika ia diberhentikan dari jabatannya dan harus menghadapi proses hukum.
"Saya pernah berada di ruangan satu meter kali satu, panas, sempit, dan menyedihkan. Tapi di situlah saya menemukan kenikmatan yang berbeda: shalat, dzikir, dan membaca Alquran," kenangnya Alumni Fakultas Hukum UGM ini.
Ia menyebut bahwa justru di ruang sempit itu, dirinya merasa paling dekat dengan Allah SWT.
"Kenikmatan itu tidak saya rasakan saat berada di luar. Di situlah saya benar-benar berserah diri," ujarnya.
Setelah keluar dari tahanan, Khairil memutuskan untuk tidak kembali menjadi pekerja profesional. Ia memilih membangun bisnis sendiri, dengan bekal pengalaman, semangat baru, dan fondasi nilai-nilai Islam.
Menurutnya, keberhasilan dalam bisnis bukan hanya soal strategi, tetapi juga soal sikap hati. Ia merumuskan sembilan prinsip (rules) dalam berbisnis yang dipadukan dengan nilai-nilai Islam.
Bisnis sebagai Sarana Ibadah
Khairil menekankan, dalam Islam, bisnis bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, tetapi sarana untuk beribadah. Ia mengutip berbagai ayat suci sebagai landasan pemikirannya, termasuk Surat Az-Zariyat Ayat 56: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."
"Jika bisnis diniatkan untuk ibadah, maka hasilnya pasti positif. Kalau berhasil, kita bersyukur. Kalau gagal, kita bersabar. Keduanya adalah bagian dari ibadah," ujarnya lulusan MBA dari University of Missouri, St Louis Amerika Serikat ini.
Lebih dari itu, ia juga mengajak para pelaku usaha untuk menjadikan bisnis sebagai sarana bermanfaat bagi orang lain, agar dapat menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Khairil juga mengingatkan pentingnya sikap hati-hati dalam mengambil keputusan bisnis, terutama pada situasi yang tidak hitam-putih. Ia menyebut adanya "wilayah abu-abu" atau subhat yang memerlukan kehati-hatian tinggi agar tidak terjerumus pada kesalahan.
"Saya mengalami kegagalan besar karena mengambil keputusan di wilayah abu-abu. Saya berpikir sudah tepat dan penuh pertimbangan, namun tetap disalahkan. Tapi saya menerima semua itu sebagai takdir dari Allah," ujarnya.
Melalui kisahnya, Khairil Wahyuni ingin menegaskan bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan fase pembelajaran menuju kedewasaan dan kebijaksanaan. Kuncinya adalah kembali kepada Allah, bersyukur dalam nikmat, bersabar dalam ujian, serta menjadikan Rasulullah sebagai teladan utama dalam menjalani hidup termasuk dalam dunia bisnis.
"Jika kita niatkan bisnis untuk ibadah, insyaAllah apapun hasilnya, akan berbuah kebaikan dunia dan akhirat," katanya.