Masuk Fase Hidrometeorologi, Lampung Siaga Bencana dan Masyarakat Diminta Waspada

Ia berharap agar masyarakat dapat melakukan langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan mulai dari rutin memantau perkembangan cuaca.

Yosephin Suci Wulandari
Masuk Fase Hidrometeorologi, Lampung Siaga Bencana dan Masyarakat Diminta Waspada
Masuk Fase Hidrometeorologi, Lampung Siaga Bencana dan Masyarakat Diminta Waspada (Merdeka.com)

Provinsi Lampung memasuki fase hidrometeorologi basah sejak 11 Oktober dan diprediksi bakal terjadi sampai akhir Februari 2026. Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Lampung minta masyarakat untuk waspada akan bencana alam.

Humas BPBD Lampung, Wahyu Hidayat mengatakan bahwa pihaknya saat ini tengah mengantisipasi bencana dengan terus meningkatkan kualitas hubungan komunikasi dengan semua stakeholder.

"Kami juga memantau terus radar cuaca, perkembangan cuaca, supaya kita enggak kecolongan, ya. Mulai dari pergerakan awan dan hujan, kecepatan angin, potensi terbentuknya bibit-bibit siklon, dan lain sebagainya, itu kita pantau terus," katanya Kamis (4/12). 

Ia berharap agar masyarakat dapat melakukan langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan mulai dari rutin memantau perkembangan cuaca yang dikeluarkan oleh info BMKG. 

"Masyarakat diminta untuk melakukan kerja-kerja pengurangan risiko bencana, seperti dengan memastikan jalur air di sekitar lingkungan rumah tetap berfungsi, pemangkasan pohon secukupnya, serta terus siap siaga dan tahu apa yang harus dilakukan jika fenomena cuaca meningkat eskalasinya menuju ancaman bencana," jelas Wahyu.

Wahyu menyebutkan hidrometeorologi basah dapat disebabkan oleh tingginya curah hujan, ya, salah satunya yang dapat berpotensi mengalami banjir. 

"Dan dapat berpotensi bencana seperti  banjir, angin kencang, tanah longsor, dan banjir rob yang diakibatkan oleh ketinggian ombak," ucapnya. 

Ia mengungkapkan Kabupaten yang terdampak bajir rob yakni daerah yang berdekatan dengan tepi pantai seperti  seperti Kabupaten Pesisir Barat, Kabupaten Tanggamus, kemudian Pesawaran, Bandar Lampung, Lampung Selatan, dan Lampung Timur. 

"Namun jika banjir, kita hampir semua kabupaten/kota terancam, kita juga punya potensi angin kencang, yang bisa terjadi di mana saja. Jadi secara umum, untuk hidrometeorologi, diluar banjir rob, maka semua kabupaten/kota di Lampung terancam. Khusus banjir rob, 6 kabupaten yang saya sebut tadi adalah daerah-daerah yang punya ancaman lebih tinggi," ungkapnya.

Wahyu mengimbau untuk masyarakat untuk tetap waspada dan terus memantau setiap perkembangan cuaca khususnya yang mengarah kepada peristiwa yang dapat menimbulkan bencana.

Rekomendasi