Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Sumatera Selatan baru-baru ini menyatakan apresiasi mereka terhadap langkah kolaboratif Pemerintah Kota Palembang dan Kodam II/Sriwijaya. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) di Palembang. Kawasan bersejarah ini akan difungsikan sebagai pusat rekreasi masyarakat dan destinasi wisata unggulan.
Ketua Masata Sumsel, Herlan Aspiudin, menyoroti bahwa selama ini akses ke bagian dalam BKB masih terbatas bagi publik. Padahal, potensi BKB sebagai cagar budaya dan objek wisata sangat besar. Optimalisasi ini diharapkan dapat membuka akses lebih luas bagi warga dan wisatawan.
Langkah strategis ini diambil menyusul berbagai diskusi dan pertemuan antara pihak terkait. Tujuannya adalah mencari solusi terbaik untuk pemanfaatan BKB. Ini juga termasuk penyelesaian isu terkait pembangunan di area tersebut.
Advertisement
Advertisement
Masata Sumatera Selatan sangat mendukung upaya Pemerintah Kota Palembang dan Kodam II/Sriwijaya untuk memaksimalkan potensi Benteng Kuto Besak (BKB). Kawasan ini merupakan salah satu cagar budaya penting yang memiliki nilai sejarah tinggi di Palembang. Optimalisasi BKB diharapkan dapat menarik lebih banyak kunjungan wisatawan.
Herlan Aspiudin, Ketua Masata Sumsel, menekankan bahwa pemanfaatan BKB harus dilakukan tanpa merusak nilai sejarah dan budayanya. Ia mengapresiasi Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis dan Wali Kota Palembang Ratu Dewa atas komitmen mereka. Upaya ini diharapkan menghasilkan kesepakatan konkret demi kepastian hukum pemanfaatan BKB.
Pengoptimalan kawasan BKB diyakini akan menambah daya tarik bagi masyarakat lokal dan wisatawan mancanegara. Palembang, sebagai Ibu Kota Sumatera Selatan, mencatat jumlah kunjungan wisatawan mencapai 1,8 juta orang lebih sepanjang tahun 2025. Peningkatan akses dan fasilitas di BKB diharapkan dapat meningkatkan angka ini.
Advertisement
Advertisement
Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis telah mengadakan pertemuan lanjutan pada pertengahan Desember 2025. Pertemuan ini bertujuan untuk mencari solusi terbaik terkait pemanfaatan kawasan Benteng Kuto Besak (BKB). Diskusi melibatkan berbagai pihak penting, termasuk Wali Kota Palembang Ratu Dewa dan jajarannya.
Hadir pula Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo, serta zuriat Kesultanan Palembang Darussalam. Selain itu, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang dan Provinsi Sumsel, Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB), serta Aliansi Penyelamat BKB juga turut serta. Pertemuan ini menunjukkan komitmen berbagai pihak untuk menjaga dan mengembangkan BKB.
Salah satu isu krusial yang dibahas adalah pembangunan gedung baru Rumah Sakit dr. Ak Gani tujuh lantai. Pembangunan ini direncanakan menggunakan dana Bantuan Keuangan Bersifat Khusus (BKBK) dari Pemerintah Provinsi Sumsel sebesar Rp53 miliar pada tahun 2026. Proyek ini sempat menuai protes dari zuriat Kesultanan Palembang Darussalam dan masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Dalam pertemuan tersebut, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis menegaskan kesiapan pihaknya untuk merealisasikan rencana kerja sama dengan Pemerintah Kota Palembang. Kerja sama ini telah berproses dan diharapkan segera mencapai kesepakatan. Ini menjadi langkah maju dalam optimalisasi Benteng Kuto Besak (BKB).
Pangdam juga berkomitmen untuk memberikan akses masuk ke dalam kawasan Benteng Kuto Besak bagi zuriat Kesultanan Palembang Darussalam dan masyarakat umum. Akses ini ditujukan khusus untuk kepentingan kepariwisataan. Hal ini akan membuka BKB sebagai destinasi yang lebih inklusif dan mudah dijangkau.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya membahas permasalahan serta merevitalisasi BKB. Tujuannya adalah menjadikan BKB semakin menarik sebagai tempat wisata dan pusat rekreasi warga kota. Pembicaraan dengan pihak Kodam Sriwijaya telah menghasilkan pengayaan materi yang akan disusun dalam bentuk MoU dan PKS demi kepentingan bersama yang lebih luas.
Advertisement
Sumber: AntaraNews