Mahasiswa Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh menunjukkan kepedulian nyata terhadap masyarakat terdampak bencana. Mereka aktif mengembangkan kebun sayur mini di Gampong Tiba Mesjid, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Inisiatif ini bertujuan untuk membantu pemulihan pasca-bencana banjir yang melanda wilayah tersebut.
Program ini merupakan sinergi antara dosen dan mahasiswa melalui "Program Mahasiswa Berdampak", sebuah upaya kolaboratif civitas akademika UBBG. Kegiatan ini berlangsung sejak awal Februari hingga Maret 2026, mengubah lahan sawah yang sebelumnya terendam banjir menjadi area produktif kembali.
Pengembangan kebun sayur ini menjadi solusi atas terhentinya produksi pangan lokal akibat endapan lumpur tebal pasca-banjir akhir November 2025. Dengan siklus tanam singkat, sayuran seperti kangkung dan bayam diharapkan dapat dipanen sebelum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi, memberikan pasokan pangan bagi warga.
Advertisement
Advertisement
Banjir yang melanda Kabupaten Pidie pada akhir November 2025 meninggalkan dampak signifikan pada sektor pertanian, khususnya persawahan. Endapan lumpur tebal membuat lahan tidak dapat segera dimanfaatkan untuk musim tanam padi, menimbulkan kekhawatiran akan ketersediaan pangan. Kondisi ini mendorong mahasiswa UBBG untuk berinovasi.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, tim UBBG mengidentifikasi areal persawahan yang memungkinkan untuk dijadikan lahan tanam sementara. Mereka memanfaatkan lahan yang belum optimal untuk padi, mengubahnya menjadi kebun sayur mini. Langkah ini merupakan strategi cerdas agar masyarakat tetap produktif selama proses pemulihan lahan pertanian utama.
Ketua Program Mahasiswa Berdampak, Ns Neila Fauzia, menjelaskan bahwa sayuran yang ditanam, seperti kangkung dan bayam, dipilih karena siklus tanamnya yang singkat. Tanaman ini hanya membutuhkan waktu sekitar 25-30 hari hingga panen. Pilihan ini sangat relevan untuk segera memenuhi kebutuhan pangan masyarakat menjelang bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri.
Advertisement
Advertisement
Proses pengembangan kebun sayur ini melibatkan kolaborasi aktif antara mahasiswa UBBG dan masyarakat setempat. Penanaman dilakukan secara gotong royong, dengan mahasiswa memberikan pendampingan teknis. Pendampingan ini mencakup pengolahan tanah, pemupukan organik, hingga pemantauan pertumbuhan tanaman.
Saat ini, sebagian tanaman telah menunjukkan pertumbuhan positif, memasuki fase vegetatif awal dan tumbuh merata di lahan yang telah dibersihkan. Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan pendanaan yang signifikan. Dana hibah berasal dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat serta Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.
Dukungan tersebut merupakan bagian dari skema hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Neila Fauzia menyampaikan apresiasi mendalam atas bantuan ini, yang memungkinkan Program Mahasiswa Berdampak dapat terlaksana dengan baik. Sinergi ini membuktikan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam pemulihan pasca-bencana.
Advertisement
Advertisement
Keuchik Gampong Tiba Mesjid, Haryadi, menyambut baik inisiatif mahasiswa UBBG dan kolaborasi dengan masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan areal persawahan ini tidak hanya mempercepat pemulihan sektor pertanian. Namun juga berhasil menghidupkan kembali semangat kebersamaan warga pascabencana yang sempat meredup.
Program ini memberikan dampak positif yang lebih luas dari sekadar produksi pangan. Masyarakat kini memiliki semangat dan harapan baru setelah menghadapi bencana banjir. Kebun sayur mini ini menjadi simbol kebangkitan dan ketahanan masyarakat Gampong Tiba Mesjid.
Inisiatif Mahasiswa UBBG kembangkan kebun sayur ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan tinggi dapat berkontribusi langsung pada kesejahteraan masyarakat. Terutama dalam situasi darurat atau pasca-bencana. Ini menunjukkan peran penting akademisi dalam pembangunan dan pemulihan komunitas.
Advertisement
Sumber: AntaraNews