Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Lama ditutup, Museum Dullah di Solo segera dibuka

Lama ditutup, Museum Dullah di Solo segera dibuka Museum Dullah. ©2015 merdeka.com/arie sunaryo

Merdeka.com - Museum Dullah yang ada di Jalan dr Cipto Mangunkusumo No 15, Sriwedari, Laweyan, Solo yang mangkrak selama bertahun-tahun segera dibuka untuk umum. Museum yang diresmikan pada 1 Agustus 1988, menyimpan ratusan lukisan karya pribadi Dullah semasa masih hidup.

Namun, sejak kerusuhan 1998 dan pencurian lukisan, museum milik pelukis Bung Karno tersebut ditutup hingga sekarang. Meskipun dari halaman luar terlihat kumuh dan tak terawat, namun di bagian dalam museum terlihat bersih dan sangat terawat.

"Dulu museum kami tutup karena ada kerusuhan dan pencurian, semua demi keamanan. Yang bisa berkunjung hanya orang-orang tertentu, tidak sembarangan. Soalnya, pada Tahun 1998 terjadi pencurian oleh sindikat pencuri lukisan. Lukisan yang dicuri adalah karya Raden Saleh," ujar penanggungjawab museum, Sigit Hendro Sucahyo, Senin (27/4).

Sigit mengatakan, saat ini terdapat sekitar 900 lukisan karya Dullah yang disimpan di dalam museum, mulai lukisan pertama kali dibuat, yakni tahun 1939 sampai karya terakhir Tahun 1993. Munculnya keinginan museum dibuka untuk umum, lanjut Sugit, karena Museum Dullah menyimpan sejarah yang harus diketahui oleh semua orang. Selain itu, untuk menarik wisatawan berkunjung ke Solo.

"Akhir tahun ini akan kita buka, setelah ada renovasi. Ini untuk memberikan ilmu pengetahuan tentang sejarah kepada pelajaran, akademisi maupun masyarakat secara luas," jelasnya.

Museum seluas 2.200 meter persegi tersebut memiliki 12 ruangan dimana setiap ruangan menampilkan karya lukisan yang berbeda. Disamping itu, hampir semua bangunan bernuansa Jawa dan Bali dengan warna dominan putih. Meski tidak ada ventilasi udara, ratusan lukisan karya Dullah tetap dalam kondisi baik.

"Ventilasi memang tidak ada, kami memanfaatkan genting kaca dan langit-langit dari bahan akrilik untuk sirkulasi udara," lanjutnya.

Di bagian utama museum, terdapat patung mendiang Dullah sedang duduk sembari menyilangkan kakinya. Sementara di sekitar kanan kirinya terdapat lukisan perjuangan serta sejumlah keluarga besarnya. Seperti lukisan Fatima, istri Dullah, dengan berbagai pose dan anak-anaknya serta menantunya.

Menurut, Sigit, pria kelahiran 19 September 1919 ini, dikenal sebagai pelukis revolusioner lantaran gagasannya untuk memamerkan karya-karya rupa yang melukiskan adegan pertempuran selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.

"Museum ini 17 tahun ditutup, tapi perawatan museum terus dilakukan. Setiap dua bulan sekali karya lukisan Dullah dibersihkan. Bahkan, untuk menjaga keawetan karya lukisan itu, bingkai lukisan dilakukan pengecatan ulang," pungkasnya. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP