KWT Garda Terdepan Atasi Sampah Organik, Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga

Anggota DPR RI menyoroti peran strategis Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai garda terdepan dalam pengelolaan sampah organik dan penguatan ketahanan pangan keluarga. Simak bagaimana KWT menjadi solusi berkelanjutan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
KWT Garda Terdepan Atasi Sampah Organik, Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga
Anggota DPR RI menyoroti peran strategis Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai garda terdepan dalam pengelolaan sampah organik dan penguatan ketahanan pangan keluarga. Simak bagaimana KWT menjadi solusi berkelanjutan. (AntaraNews)

Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menegaskan bahwa Kelompok Wanita Tani (KWT) memegang peranan krusial sebagai garda terdepan dalam menyelesaikan persoalan sampah organik di Indonesia. Peran ini tidak hanya terbatas pada aspek lingkungan, tetapi juga secara signifikan berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan di tingkat keluarga. Pemberdayaan perempuan dalam sektor pertanian ini diharapkan mampu menciptakan dampak ganda yang positif bagi masyarakat.

Pernyataan ini disampaikan Novita di Jakarta pada hari Jumat, menyoroti bagaimana KWT dapat menjadi solusi konkret terhadap tantangan lingkungan dan ekonomi. Menurutnya, inisiatif ini tidak hanya memberdayakan perempuan secara ekonomi, tetapi juga menawarkan jalan keluar inovatif untuk masalah sampah. Dengan demikian, KWT menjadi motor penggerak perubahan di tingkat akar rumput yang sangat vital.

Untuk itu, Novita secara aktif mendorong KWT untuk mengoptimalkan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos. Langkah ini dinilai sangat strategis mengingat kelangkaan dan mahalnya pupuk di pasaran, sementara sampah organik justru melimpah dan berpotensi mencemari lingkungan. Melalui pengelolaan yang baik, KWT dapat mengubah masalah menjadi solusi berkelanjutan bagi pertanian dan lingkungan.

Kelompok Wanita Tani (KWT) memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam pengelolaan lingkungan, khususnya dalam penanganan sampah organik. Novita Hardini menyoroti bahwa di satu sisi, petani sering menghadapi kesulitan dan biaya tinggi untuk mendapatkan pupuk. Di sisi lain, sampah organik terus menumpuk dan menjadi sumber pencemaran lingkungan.

“Di satu sisi, pupuk sulit dan mahal. Di sisi lain, sampah organik melimpah dan mencemari lingkungan. Jika dikelola dengan baik oleh KWT, ini bisa menjadi solusi yang berkelanjutan,” kata Novita. Inisiatif ini tidak hanya mengatasi masalah sampah, tetapi juga menyediakan alternatif pupuk yang ramah lingkungan dan ekonomis bagi petani lokal. KWT dapat menciptakan siklus ekonomi sirkular yang bermanfaat bagi komunitas.

Pemberdayaan KWT dalam mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos merupakan langkah nyata. Ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA, tetapi juga meningkatkan kesuburan tanah secara alami. Dengan demikian, KWT berkontribusi langsung pada kesehatan ekosistem dan produktivitas pertanian.

Langkah KWT dalam mengelola sampah organik juga sejalan dengan program pemerintah untuk mencapai target karbon nol bersih (net zero carbon). Pengelolaan limbah organik di tingkat akar rumput merupakan kontribusi signifikan terhadap upaya mitigasi perubahan iklim. Ini menunjukkan bahwa solusi lingkungan dapat dimulai dari komunitas terkecil.

“Kita dukung target net zero carbon dengan memberdayakan KWT. Sampah organik harus diolah, bukan dibuang. Ini tentang membangun ekosistem yang berkesinambungan,” ucap Novita. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya mengubah paradigma dari membuang sampah menjadi mengolahnya sebagai sumber daya. Setiap limbah organik memiliki potensi untuk diubah menjadi sesuatu yang bernilai.

Selain itu, Novita juga menyoroti pentingnya pengelolaan limbah dari berbagai sumber. Mulai dari dapur rumah tangga, satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), hingga industri padat karya, semua harus dikelola agar tidak mencemari lingkungan. Pendekatan komprehensif ini diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan bagi semua.

Pemberdayaan perempuan melalui KWT tidak hanya berdampak pada lingkungan dan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan keluarga. Novita Hardini, yang juga Ketua Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, mendorong peran aktif PKK. Ia mendorong ketua tim Penggerak PKK di setiap kecamatan berperan sebagai “ibu asuh” untuk memassifkan gerakan pengolahan limbah.

Gerakan ini bertujuan untuk mengubah limbah menjadi sumber ekonomi baru bagi KWT. Dengan demikian, perempuan tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen yang berkontribusi pada ekonomi rumah tangga dan desa. Inisiatif ini menciptakan peluang baru bagi perempuan di pedesaan.

Pemberdayaan perempuan tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang membangun desa yang mandiri, tangguh, dan ramah lingkungan,” kata Novita. Hal ini menunjukkan bahwa investasi pada perempuan melalui KWT memiliki efek berantai yang positif. Ini akan menghasilkan desa-desa yang lebih kuat, berkelanjutan, dan mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi