Korban Banjir Jember Ditemukan Meninggal Dunia, BPBD Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem

Abdul Wahid, salah satu korban banjir Jember, ditemukan meninggal dunia setelah terseret arus deras. BPBD Jember mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Korban Banjir Jember Ditemukan Meninggal Dunia, BPBD Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem
Abdul Wahid, salah satu korban banjir Jember, ditemukan meninggal dunia setelah terseret arus deras. BPBD Jember mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. (AntaraNews)

Abdul Wahid (52), seorang staf Seksi Pelayanan Umum Kecamatan Panti dan mantan Sekretaris Desa Pakis, ditemukan meninggal dunia pada Selasa petang. Ia menjadi korban setelah terseret arus deras banjir bandang yang menerjang rumahnya di Desa Pakis, Jember. Penemuan ini mengakhiri pencarian yang telah berlangsung sejak Senin malam.

Jenazah Abdul Wahid ditemukan oleh nelayan setempat di aliran Sungai Bedadung, tepatnya di Desa Puger Wetan, Kabupaten Jember. Lokasi penemuan ini berada di jalur sungai yang mengarah ke muara perairan Puger, Kecamatan Puger. Tim SAR gabungan segera melakukan evakuasi terhadap jenazah korban.

Banjir bandang yang terjadi pada Senin malam tersebut melanda dua kecamatan di Jember, yaitu Kecamatan Panti dan Rambipuji. Bencana ini menyebabkan puluhan rumah warga terdampak dan beberapa di antaranya mengalami kerusakan ringan. Pihak berwenang telah mengidentifikasi dampak awal dari musibah ini.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, Edi Budi Susilo, membenarkan penemuan jenazah Abdul Wahid. Edi menjelaskan bahwa nelayan Puger menemukan korban di aliran Sungai Puger Wetan dalam kondisi tak bernyawa. Tim SAR gabungan, termasuk Polairud dan relawan, langsung bergerak untuk mengevakuasi jenazah tersebut.

Setelah berhasil dievakuasi, jenazah Abdul Wahid segera dibawa menuju rumah duka. Pihak keluarga di Desa Pakis, Kecamatan Panti, telah menunggu untuk proses pemakaman. Penemuan ini membawa kepastian bagi keluarga korban setelah insiden banjir bandang.

Aliran Sungai Bedadung yang bermuara di perairan Puger menjadi lokasi akhir penemuan jenazah. Proses evakuasi berjalan lancar berkat koordinasi antara berbagai pihak. Kejadian ini menjadi pengingat akan bahaya arus deras saat bencana banjir.

Banjir bandang di Jember berdampak pada 38 unit rumah warga di Kecamatan Panti dan Rambipuji, dengan empat rumah di antaranya mengalami rusak ringan. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Jember segera turun tangan untuk membersihkan sisa material banjir bandang di puluhan rumah warga dan jembatan yang tersumbat bambu yang hanyut terbawa banjir bandang.

Alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dikerahkan ke lokasi Jembatan Tembelang, Desa Pecoro, Kecamatan Rambipuji. Pembersihan barongan bambu yang menyumbat aliran air di jembatan tersebut dilakukan untuk mencegah potensi banjir susulan. Upaya ini penting untuk mengembalikan fungsi infrastruktur.

Dinas Sosial juga berperan aktif dengan menyiapkan dapur mandiri yang menyediakan 300 nasi bungkus. Bantuan logistik ini ditujukan bagi warga terdampak dan para petugas penanganan banjir bandang. Tim kesehatan dari Dinas Kesehatan turut serta memberikan layanan pengecekan dan pengobatan di Polindes serta Balai Desa.

Edi Budi Susilo mengimbau seluruh warga Jember untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan deras di aliran Sungai Badean. Imbauan ini sejalan dengan peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Timur. Kesiapsiagaan masyarakat sangat diperlukan.

BMKG telah mengeluarkan peringatan potensi cuaca ekstrem di wilayah Kabupaten Jember untuk periode 1 hingga 10 Februari 2026. Kondisi ini dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Warga diminta untuk tidak mengabaikan peringatan tersebut.

Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana diimbau agar segera mengungsi ke tempat aman jika intensitas hujan sangat tinggi. Langkah antisipasi ini penting untuk meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian materi. Koordinasi dengan pihak berwenang setempat juga disarankan untuk informasi terkini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi