Komitmen Kuat DIY Jaga Keberlanjutan Batik sebagai Warisan Budaya Global
DIY berkomitmen kuat menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya dan penggerak ekonomi kreatif. Melalui pelatihan, sertifikasi, dan diplomasi, DIY memastikan batik tetap relevan di era modern.
Batik, lebih dari sekadar kain bercorak, merupakan identitas budaya bangsa yang memadukan nilai seni, pengetahuan, dan teknologi yang diwariskan secara turun-temurun. Pengakuan UNESCO pada tahun 2009 sebagai warisan budaya takbenda semakin mengukuhkan posisinya sebagai kebanggaan Indonesia, mendorong industri ini untuk terus berkembang dalam motif, teknik, dan pemanfaatannya sebagai produk ekonomi kreatif.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), perkembangan batik memiliki makna yang lebih mendalam, mengingat banyaknya sentra industri kecil dan menengah (IKM) batik di berbagai wilayahnya. Yogyakarta memikul tanggung jawab besar untuk memastikan batik tetap lestari dan berkembang secara berkelanjutan, terutama setelah ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia oleh World Crafts Council (WCC) pada tahun 2014.
Berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah Daerah DIY untuk menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Langkah-langkah strategis ini mencakup regenerasi perajin, peningkatan kompetensi, hingga promosi di kancah internasional, demi memastikan masa depan batik yang cerah.
Menyiapkan Generasi Penerus Batik
Salah satu tantangan krusial dalam pelestarian batik adalah regenerasi perajin dan inovator. Menjawab hal ini, Pemerintah Daerah DIY, bekerja sama dengan Balai Besar Kerajinan Batik, memfasilitasi pelatihan dan sertifikasi profesi bagi pelaku industri batik, dengan fokus melibatkan generasi muda.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, menjelaskan bahwa pelatihan yang berlangsung pada akhir Mei 2026 ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan batik. Program ini juga bertujuan memperkuat daya saing sektor ekonomi kreatif daerah.
Pelatihan tersebut mengusung dua skema kompetensi utama, yaitu perancangan motif batik dan pewarnaan alam, diikuti oleh puluhan peserta dari beragam latar belakang. Harapannya, kegiatan ini dapat memperkaya khazanah batik Yogyakarta serta mendorong inovasi baru yang tetap berakar pada tradisi. Di Yogyakarta sendiri, batik berkembang melalui tiga teknik utama: batik tulis, batik cap, dan batik printing.
Melalui program pelatihan perancangan motif dan pewarna alam ini, pemerintah berharap kualitas sumber daya manusia di sektor batik terus meningkat. Upaya ini menjadi bagian integral dari penguatan ekosistem ekonomi kreatif di DIY, memastikan batik tetap relevan dan berdaya saing di pasar modern.
Batik sebagai Identitas Budaya Yogyakarta
Bagi Yogyakarta, batik memiliki makna yang melampaui fungsi ekonominya; ia adalah identitas budaya yang vital bagi pariwisata dan ekonomi kreatif daerah. Imam Pratanadi menegaskan bahwa batik bukan hanya warisan, melainkan juga wajah Yogyakarta di mata dunia.
Oleh karena itu, pelatihan dan sertifikasi diharapkan melahirkan sumber daya manusia yang kompeten, kreatif, dan mampu berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya lokal. Menariknya, pelatihan ini tidak hanya diikuti perajin, tetapi juga siswa-siswi Generasi Z dari berbagai SMK di DIY.
Keterlibatan generasi muda sangat penting karena mereka membawa semangat baru ke dunia batik, tidak hanya belajar teknik, tetapi juga memahami nilai budaya. Mereka juga diharapkan dapat mengembangkan kreativitas dan melihat peluang industri batik di masa depan.
Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk terus mendukung peningkatan kompetensi pelaku industri batik melalui pelatihan yang sesuai kebutuhan dan sertifikasi profesi terstandar. Langkah ini krusial dalam meningkatkan daya saing industri batik Indonesia secara keseluruhan.
Memperluas Jangkauan Pelatihan dan Sertifikasi
Komitmen Pemerintah DIY tidak berhenti pada satu atau dua program saja. Dinas Pariwisata DIY bersama Balai Besar Kerajinan Batik terus memperluas jangkauan pelatihan, mengingat ribuan perajin batik tersebar di empat kabupaten dan satu kota di DIY.
Pada tahun 2026, pemerintah daerah menargetkan sekitar 175 pelaku ekonomi kreatif subsektor kriya batik mendapatkan pelatihan dan sertifikasi. Peserta akan diseleksi dan dikurasi untuk menyesuaikan kebutuhan serta jenis pelatihan yang diperlukan.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY, Iwan Pramana, menjelaskan bahwa program ini akan dilaksanakan secara bertahap melalui enam hingga delapan angkatan pelatihan. Hingga Mei 2026, telah dilaksanakan tiga kali pelatihan dan sertifikasi dengan sekitar 20 peserta per angkatan. Selain pelatihan, peserta juga mendapatkan fasilitasi sertifikasi sebagai bentuk pengakuan kompetensi dan perlindungan karya mereka.
Menurut Iwan, sertifikasi sangat penting, terutama bagi perajin yang telah lama berkarya namun belum memiliki pengakuan formal atas keahliannya. “Di angkatan pertama kami mengambil skema malam batik. Karena DIY terkenal sebagai Kota Batik Dunia, prinsip keberlanjutan dalam produk mereka juga akan menjadi nilai tambah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa nilai tambah dalam ekonomi kreatif lahir dari inovasi, ilmu pengetahuan, dan budaya, sehingga peningkatan kualitas produk, kompetensi SDM, serta perhatian terhadap lingkungan menjadi aspek penting yang terus didorong pemerintah.
Membawa Batik Yogyakarta ke Panggung Dunia
Di tengah upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia, DIY juga berupaya memperluas pengenalan batik ke tingkat internasional. Salah satu langkah yang disiapkan adalah penyusunan katalog yang memuat beragam motif dan desain batik khas Yogyakarta untuk diperkenalkan melalui berbagai delegasi dan perwakilan Indonesia di luar negeri.
Menurut Iwan Pramana, langkah ini penting agar masyarakat internasional semakin mengenal batik Yogyakarta yang tidak hanya identik dengan motif klasik, tetapi juga memiliki beragam desain modern yang terus berkembang. Ke depan, Pemerintah DIY akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai perwakilan dagang Indonesia di luar negeri, sejalan dengan misi diplomasi budaya yang selama ini dilakukan bersama Dinas Kebudayaan dan berbagai delegasi pemerintah daerah.
“Kalau secara kampanye untuk misi diplomasi budaya ini juga bersama dengan Pemerintah Daerah DIY sering ke luar negeri bersama Dinas Kebudayaan,” kata Iwan. Semangat ini juga sejalan dengan visi Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang mendorong Yogyakarta menjadi salah satu pusat fesyen dunia, didukung agenda seperti Jogja Fashion Week.
Dalam kerangka inilah, batik Yogyakarta tidak lagi diposisikan semata-mata sebagai suvenir. Lebih jauh, batik didorong menjadi bagian dari industri fesyen global yang mampu memperkenalkan identitas budaya Yogyakarta ke panggung dunia. Melalui pelatihan, sertifikasi, regenerasi, dan diplomasi budaya, Yogyakarta berupaya memastikan bahwa batik tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga terus hidup, berkembang, dan menemukan ruang baru di masa depan.
Sumber: AntaraNews