Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Taman Hutan Raya (Tahura) Provinsi Sulawesi Tengah bersama Relawan Orang dan Alam (ROA) telah melaksanakan penanaman 1.300 bibit pohon. Kegiatan ini tersebar di empat lokasi strategis di Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, dan Kota Palu. Inisiatif ini merupakan wujud nyata komitmen menjaga kelestarian alam di wilayah tersebut.
Aksi serentak ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem hutan serta berkontribusi dalam mitigasi dampak pemanasan global. Penanaman bibit pohon ini diharapkan dapat menjadi investasi ekologis jangka panjang bagi keberlanjutan lingkungan. Kegiatan ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia.
Kolaborasi antara instansi pemerintah dan organisasi relawan ini didukung oleh Yayasan KEHATI melalui program Solusi Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terpadu di Indonesia (SOLUSI). Program tersebut merupakan hasil kerja sama antara Bappenas dan Pemerintah Jerman (BMUV). Langkah ini menunjukkan sinergi lintas sektor dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.
Advertisement
Advertisement
Kepala UPTD Tahura Sulteng, Edy Sitorus, menekankan bahwa menjaga hutan adalah kunci stabilitas iklim dan kualitas udara. "Menjaga hutan berarti menjaga stabilitas iklim dan kualitas udara untuk generasi mendatang," ujarnya di Sigi. Bibit pohon yang ditanam memiliki nilai ekologis vital bagi kelangsungan hutan di Sulawesi Tengah.
Edy Sitorus juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta merawat pohon-pohon ini secara berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa setiap pohon yang ditanam bukan sekadar tanaman biasa, melainkan sebuah investasi ekologis. Investasi ini akan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat.
Melalui kegiatan penanaman ini, Edy berharap para peserta dapat mengenal lebih jauh tentang pohon-pohon endemik Sulawesi Tengah. Contohnya, kayu amara yang berasal dari Kabupaten Toli-Toli dan kayu linggua dari Buol. Pengetahuan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan kekayaan flora lokal.
Advertisement
Advertisement
Urib, Koordinator kegiatan penanaman, menyatakan bahwa aksi serentak ini adalah langkah kolaboratif penting untuk menghadapi pemanasan global. "Ini adalah gerakan berkelanjutan yang melibatkan semua pihak. Kesadaran lingkungan tidak akan tumbuh tanpa aksi nyata," katanya. Kesadaran lingkungan, menurutnya, tidak akan berkembang tanpa adanya aksi nyata di lapangan.
Kegiatan penanaman 1.300 pohon ini menjadi bukti nyata komitmen dan sinergi lintas wilayah dalam menjaga kelestarian hutan. Upaya ini juga memperkuat aksi bersama dalam menghadapi krisis iklim yang semakin mendesak. Sinergi ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah hingga komunitas lokal.
Sebanyak 1.300 bibit pohon yang ditanam terdiri atas 600 bibit cendana, 200 bibit kopi, dan 500 bibit mangrove. Jenis-jenis pohon ini disebar secara strategis di empat lokasi. Lokasi penanaman meliputi Tahura Kapopo Ngatabaru dan Loru di Kabupaten Sigi, Poboya dan Kawatuna di Kota Palu, serta Desa Oncone Raya di Parigi.
Advertisement
Di Kawasan Wisata Tahura Kapopo Ngata Baru, sebanyak 65 peserta dari instansi pemerintah, akademisi, komunitas, dan kelompok masyarakat ikut berpartisipasi. Sementara itu, di Desa Oncone Raya, Kecamatan Parigi, jenis tanaman yang dipilih adalah mangrove. Pemilihan mangrove ini didasari kondisi pesisir yang membutuhkan vegetasi untuk memperkuat ekosistem laut dan mencegah abrasi.
Sumber: AntaraNews