Kisah Toleransi Antar Umat Beragama, Pasangan Muslim Ikut Sambut Jenazah Uskup Emeritus Petrus Turang di Kupang

Pasangan ini meyakini bahwa tingginya toleransi umat beragama di NTT akan terus dipertahankan.

Ananias Petrus
Oleh Ananias Petrus - Reporter
Kisah Toleransi Antar Umat Beragama, Pasangan Muslim Ikut Sambut Jenazah Uskup Emeritus Petrus Turang di Kupang
Kisah Toleransi Antar Umat Beragama, Pasangan Muslim Ikut Sambut Jenazah Uskup Emeritus Petrus Turang di Kupang (Merdeka.com)

Jenazah Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang, Monsignor (Mgr) Petrus Turang, tiba di Bandara El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (5/4) pukul 10.15 Wita. Ratusan umat Katolik hadir untuk menyambut kedatangan jenazah mendiang, namun ada yang berbeda dalam prosesi penyambutan kali ini.

Di antara ribuan umat Katolik yang hadir, terdapat sepasang suami istri beragama Islam, Ibrahim Ndolu dan Rahmatia Dusu, beserta dua anak mereka, yang juga turut menyambut kedatangan jenazah Mgr. Petrus Turang.

Pasangan ini awalnya berada di pintu kedatangan VIP Pemprov NTT di Bandara El Tari Kupang, namun karena takut tidak melihat langsung kedatangan jenazah, mereka pun berpindah ke Bundaran Timor Rote Sabu (Tirosa), tempat yang juga dipenuhi umat Katolik.

Ibrahim Ndolu mengungkapkan bahwa kehadirannya dalam prosesi ini sebagai bentuk penghormatan dan rasa duka cita terhadap Mgr. Petrus Turang.

“Kami turut berdukacita karena beliau pernah ada di Alor. Kami juga ikut merasakan kehilangan salah satu tokoh penting bagi umat Katolik di Indonesia,” ujar Ibrahim saat diwawancarai.

Menurut Ibrahim, Mgr. Petrus Turang adalah seorang sosok yang memberikan teladan baik bagi umat Katolik di Keuskupan Agung Kupang yang meliputi beberapa wilayah seperti Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS, Kabupaten Alor, Kabupaten Rote Ndao, dan Kabupaten Sabu Raijua.

Toleransi Antar Umat Beragama

Ibrahim mengenal Mgr. Petrus Turang melalui seorang sahabatnya, Saipuddin Djawa, yang saat itu menjabat sebagai Camat Alor Barat Daya.

Ibrahim bercerita bahwa meskipun ia sempat bertemu dengan almarhum di berbagai acara, mereka tidak pernah berbicara langsung. Meskipun demikian, kepergian Mgr. Petrus Turang membuat Ibrahim merasa kehilangan.

“Beliau seorang pemimpin umat yang sejati dan banyak memberi hal baik bagi umat Katolik serta masyarakat. Kami datang ke sini untuk Lebaran dan Idulfitri bersama keluarga. Toleransi antar umat beragama di NTT sangat tinggi, dan kami berharap hal ini terus terjaga,” kata Ibrahim.

Ibrahim, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Kesbangpol Kabupaten Alor, meyakini bahwa tingginya toleransi umat beragama di NTT akan terus dipertahankan oleh masyarakat setempat.

“Ketika ada yang berpulang, kita turut berdukacita. Ini adalah bagian dari bentuk toleransi dan saling menghormati antar sesama,” tutup Ibrahim.

Rekomendasi