Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Pilu Siswi SD di NTT Ditinggal Orangtua Merantau

Kisah Pilu Siswi SD di NTT Ditinggal Orangtua Merantau Siswi SD di Malaka NTT Hidup Sebatang Kara. ©2020 Merdeka.com/Ananias Petrus

Merdeka.com - Mersi Kase, siswi kelas VI Sekolah Dasar Negeri Oevetnai, Desa Weulun, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur ini hidup sebatang kara di rumahnya. Kedua orang tuanya memilih merantau di Kalimantan untuk memperbaiki hidup mereka.

Pasca merebaknya covid-19, orangtua Merci tidak lagi mengirimkan uang, untuk membeli beras apalagi jajan seperti anak seumurannya. Saban hari, Mersi berharap dari pemberian tetangga untuk bisa bertahan hidup. Ia makan seadanya seperti jagung dan sayur setiap hari.

Meski hidup sebatang kara dan makan tak bergizi, namun semangat belajarnya di sekolah tak pernah padam. Merci dikenal sebagai siswi berprestasi. Ia selalu menyandang juara di kelasnya. Bahkan anjuran pemerintah untuk tetap tinggal dan belajar di rumah, benar-benar dijalankan Merci. Ia menghabiskan waktunya untuk belajar, hingga menulis puisi.

Saat ditemui, Merci mengaku jika ayahnya merantau ke Kalimantan untuk mencari pekerjaan, sejak ia duduk di bangku kelas III. Akibatnya dia membantu sang ibu menjual kue dan sayur usai jam sekolah.

"Bapak ingin memperbaiki rumah dan ingin saya bisa sekolah, makanya merantau cari uang," ujarnya polos, Minggu (3/5).

Dua tahun ditinggal sang ayah, membuat ibunya terpaksa menyusul ke Kalimantan pada akhir 2019 lalu. Merci pun hidup sendirian di rumah mereka.

Menurutnya, di Kalimantan kedua orang tuanya bekerja di perusahaan kelapa sawit. Dari masak hingga mengurus rumah, ia lakukan sendiri.

Sebelum wabah covid-19, setiap bulan Merci dikirimkan uang oleh kedua orang tuanya sebesar Rp100 hingga Rp200 ribu. Dari uang itu, Merci menggunakannya untuk keperluan sekolah dan makan minum di rumah.

Namun pasca wabah covid-19 melanda Indonesia, Merci tak lagi menerima kiriman uang. Kedua orang tuanya dirumahkan perusahaan. Mereka tidak bisa pulang menemani Merci karena larangan mudik oleh pemerintah, guna memutus mata rantai penyebaran covid-19.

"Kalau beras habis, biasa diberi keluarga atau tetangga. Kadang hanya jagung saja," ungkapnya.

Rumah Tanpa Listrik dan WC

Desa Weulun memang masih terisolir seakan luput dari perhatian pemerintah. Akses jalan menuju wilayah ini pun masih rusak. Di dusun Wetalas, sebanyak 44 rumah warga belum menikmati listrik. Mereka menggunakan lampu pelita sebagai penerangan, termasuk di rumah Merci.

"Saya dari kelas satu sudah biasa belajar pakai pelita. Kalau jam tidur dimatikan, agar hemat minyak tanah," kata Merci.

Merci bercita-cita menjadi seorang dokter, sehingga bisa berguna bagi banyak orang.

"Biar pakai pelita, tetapi saya dari kelas satu sampai kelas enam, selalu juara satu atau dua. Saya ingin jadi dokter, Doakan supaya orang tua saya bisa kumpul uang," pinta Merci.

Selain belum ada listrik, rumah Merci pun belum memiliki WC. Merci pun terpaksa harus ke hutan jika hendak BAB.

Menurut kepala dusun Weulun, Yakomina Bano, sebanyak 48 Kepala Keluarga (KK) di dusun itu, belum menggunakan listrik. Bahkan dari 48 rumah itu, hanya satu rumah yang memiliki WC.

"Sudah kita ajukan, tetapi sampai sekarang belum terjawab," ungkapnya.

Puisi untuk Guru dan Doa Ulang Tahun

Merci Kase, ternyata berulang tahun di tanggal 2 Mei. Hari lahirnya bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kemarin. Tak ada kue ulang tahun atau ucapan seperti anak-anak lain seusia dia.

Air matanya menetes saat ia mengaku tak bisa menelepon orang tuanya di hari bahagianya. Padahal, ia sudah rela berjalan kaki ke desa tetangga hanya untuk mengecas handphonenya.

"Malamnya bapa dengan mama telepon dan minta saya siap cas handphone, karena besoknya tanggal 2 Mei, saya ulang tahun. Paginya saya jalan kaki cas di rumah keluarga. Setelah cas, saya kembali ke rumah untuk menelepon, tetapi tidak diangkat, mungkin bapa dengan mama sedang bekerja," tuturnya.

Untuk membuang kesedihan, Merci membacakan puisi untuk guru-gurunya berjudul: Pahlawan Pendidikan. Puisi ini ditulis, Ayu Pratiwi Saleh.

Jika dunia kami yang dulu kosong

tak pernah kau isi

Mungkin hanya ada warna hampa, gelap

tak bisa apa-apa, tak bisa ke mana-mana

Tapi kini dunia kami penuh warna

Dengan goresan garis-garis, juga kata

Yang dulu hanya jadi mimpi

Kini mulai terlihat bukan lagi mimpi

Itu karena kau yang mengajarkan

Tentang mana warna yang indah

Tentang garis yang harus dilukis

Juga tentang kata yang harus di baca

Terimakasih guruku dari hatiku

Untuk semua pejuang pendidikan

Dengan pendidikanlah kita bisa memperbaiki bangsa

Dengan pendidikanlah nasib kita bisa dirubah

Apa yang tak mungkin kau jadikan mungkin

Hanya ucapan terakhir dari mulutku

Di hari Pendidikan Nasional ini

Gempitakanlah selalu jiwamu

Wahai pejuang pendidikan Indonesia.

(mdk/ded)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP