Aipda Raja Faisal Mushawir, anggota Polri yang bertugas di Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, telah mengukir kisah pengabdian luar biasa. Ia tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga merelakan waktu dan tenaganya sebagai relawan sopir mobil jenazah. Dedikasi ganda ini telah berlangsung sejak tahun 2017, menjadikannya sosok yang sangat diandalkan oleh masyarakat setempat.
Pria kelahiran Tarempa pada Juli 1986 ini menganggap profesi polisi sebagai tugas, sementara perannya sebagai sopir mobil jenazah adalah panggilan hati yang tulus. Ikatan emosional yang kuat dengan tanah kelahirannya mendorongnya untuk terus mengabdi tanpa pamrih. Letak geografis Kecamatan Siantan, Tarempa, yang tidak terlalu luas, memungkinkannya membagi waktu antara tugas kepolisian dan kegiatan kemanusiaan ini secara efektif.
Kisah inspiratif Aipda Raja Faisal ini menjadi sorotan dalam sebuah wawancara pada pertengahan Februari 2026, menyoroti bagaimana seorang anggota Polri dapat memberikan kontribusi nyata di luar tugas pokoknya. Pengabdiannya ini tidak hanya melayani jenazah yang memiliki keluarga, tetapi juga jenazah tanpa identitas, bahkan dari kalangan non-Muslim, menunjukkan semangat kemanusiaan yang universal.
Advertisement
Advertisement
Aipda Raja Faisal Mushawir telah mengabdikan diri sebagai personel Korps Bhayangkara selama 21 tahun, namun perannya sebagai sopir mobil jenazah dimulai pada tahun 2017. Ia bergabung dengan organisasi sosial Babul Khairat di Desa Tarempa, Kecamatan Siantan, yang fokus mengurus jenazah. Sebelum menjadi sopir, ia adalah anggota Fardu Kifayah yang bertanggung jawab memandikan dan menyolatkan jenazah khusus Muslim.
Dedikasinya sebagai sopir ambulans jenazah bermula ketika organisasi Babul Khairat mengalami keterbatasan dana dan tidak mampu lagi menggaji sopir. Saat itu, ada warga yang membutuhkan ambulans jenazah namun tidak ada sopir yang tersedia. Aipda Raja Faisal kemudian menawarkan diri untuk membantu, bahkan dengan seragam polisinya, ia turut menggotong keranda dan memindahkan jenazah ke ambulans.
Sejak momen tersebut, mengemudikan mobil jenazah menjadi panggilan hati baginya. Mobil jenazah Babul Khairat adalah satu-satunya yang tersedia di Desa Tarempa, melayani hampir 20 ribu jiwa di Kecamatan Siantan, Siantan Tengah, dan Siantan Selatan. Mobil pertama merupakan hibah dari Pemerintah Kabupaten Natuna yang kini sudah tidak beroperasi, dan pada awal 2017, Babul Khairat menerima bantuan mobil jenazah baru dari Program Kemitraan Bank Riau.
Advertisement
Selama pandemi COVID-19, Aipda Raja Faisal dan relawan lainnya menghadapi tantangan berat, bahkan hampir tumbang dalam memberikan pelayanan. Selain mengantar jenazah, ia juga membantu mengawal evakuasi pasien COVID-19 yang enggan dikarantina. Tantangan geografis wilayah kepulauan Anambas yang terpencar-pencar antar pulau, memerlukan transportasi laut untuk evakuasi, namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya.
Advertisement
Pengabdian Aipda Raja Faisal tidak hanya berasal dari panggilan hati, tetapi juga termotivasi oleh dedikasi sang istri, Maryam, yang berprofesi sebagai bidan di Kecamatan Siantan. Maryam seringkali dimintai tolong oleh masyarakat untuk berbagai masalah, termasuk kesehatan dan pribadi, dan tidak jarang ia meminta bantuan suaminya. Contohnya, Aipda Raja Faisal dengan sukarela mengantar pasien yang baru melahirkan namun tidak memiliki biaya pulang, tanpa memungut bayaran.
Selain itu, dengan jaringannya sebagai Polisi Masyarakat (Polmas), Aipda Raja Faisal juga berupaya membantu warga mendapatkan obat-obatan yang sulit dijangkau. Meskipun kesibukan ganda ini membuatnya pernah disalahpahami oleh warga yang mengira ia menerima gaji ganda, kenyataannya ia hanya diupah dengan ucapan terima kasih. Namun, ia merasakan keberkahan dalam usaha jariyahnya, seperti saat istrinya membutuhkan donor darah pasca melahirkan, banyak warga yang datang membantu.
Keguyuban warga di tanah kelahirannya sangat dirasakan oleh Aipda Raja Faisal. Melalui grup pesan instan, warga saling berinteraksi dan mendukung, termasuk dalam melaporkan kejadian darurat. Dukungan untuk pengabdiannya juga datang dari pimpinan di institusi Polri, khususnya Polsek Siantan dan Polres Kepulauan Anambas. Pimpinannya selalu mengizinkannya untuk menjalankan tugas kemanusiaan ini, karena dianggap sebagai bagian dari fungsi Polri dalam melayani dan mengayomi masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Aipda Raja Faisal Mushawir menerima penghargaan dari Kapolda Kepri Irjen Pol. Asep Safrudin pada Hari Kesadaran Nasional 2026. Ia menjadi salah satu dari tujuh personel Polda Kepri yang diapresiasi atas kinerja, integritas, dan loyalitasnya dalam memberikan kontribusi nyata pada pelaksanaan tugas kepolisian dan pelayanan masyarakat. Penghargaan ini semakin menguatkan keyakinannya dalam menjalani profesi sebagai anggota Polri.
Aipda Raja Faisal menceritakan bahwa ia awalnya tidak bercita-cita menjadi polisi. Setelah lulus SMA di Natuna, ia berniat melanjutkan pendidikan di Universitas Riau. Namun, saat melihat banyak anak muda mendaftar polisi di samping kampusnya, ia mencoba peruntungan. Meskipun sempat gagal dua kali di tahap penentuan akhir pada tahun 2004 dan 2005, ia akhirnya diterima sebagai polisi pada gelombang kedua tahun 2005 setelah mendaftar dari Natuna atas permintaan orang tuanya.
Kapolda Kepri Irjen Pol. Asep Safrudin memuji dedikasi Aipda Raja Faisal sebagai teladan pengabdian Polri tanpa batas, terutama di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Kepulauan Anambas yang sering luput dari perhatian. Penghargaan ini diberikan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri, menegaskan bahwa Aipda Raja Faisal adalah contoh nyata pengabdian tulus.
Advertisement
Sumber: AntaraNews