Kisah Aiptu Made Sumerta nyambi ternak bebek jelang pensiun

Senin, 11 September 2017 11:45 Reporter : Gede Nadi Jaya
Kisah Aiptu Made Sumerta nyambi ternak bebek jelang pensiun Polisi jadi peternak bebek. ©2017 Merdeka.com/Gede Nadi Jaya

Merdeka.com - Banyak sebenarnya anggota Polri dan TNI yang mengambil kerjaan sampingan yang patut jadi acungan jempol daripada harus melakukan pungli atau menjual narkoba. Seorang anggota Polri berpangkat Aiptu memilih jadi peternak.

Tidak tanggung-tanggung, dari usaha ternak bebek per harinya menghasilkan sedikitnya 450 butir telur dan habis terjual. Adalah Made Sumerta anggota Polsek Pekutatan, Polres Jembrana bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di wikayah Desa Manggis Sari, Kecamatan Pekutatan.

Selepas tugas pria asal Banjar Pasar, Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana itu langsung menuju ke kandang bebek miliknya. Pria kelahiran 12 Maret 1961 ini mengaku saat ini menjelang masa pensiunnya. Setidaknya setelah pensiun dirinya punya kesibukan setelah puluhan tahun mengabdi untuk NKRI.

Kata dia, semenjak dipindah tugaskan ke Polres Jembrana tahun 2000 dari tugas sebelumnya di NTB, dirinya berangan untuk berternak ataupun bertani. "Sudah angan-angan saya kalau dipindahkan ke kampung halaman mau bertani atau berternak," akunya.

Dirinya mengawali ternak bebek dari jumlah 10 ekor. Seiring waktu kini sudah ratusan bebek, itupun sudah banyak yang terjual.

Di samping beternak bebek, dia juga beternak babi, ayam caru (khusus upacara agama) dan ayam pejantan. Hasilnya ternyata lumayan untuk tambahan biaya rumah tangga, termasuk bisa membantu biaya pendidikan anaknya hingga meraih gelar sarjana. Bahkan anak pertama sukses sebagai PNS di Syahbandar Singaraja.

Saat ini, kata dia, ada sekitar 600 ekor bebek. Per hari hitungannya bertelur rata-rata 450 butir. "Panen langsung terjual, harga per butirnya Rp 1.500 ribu. Rata-rata setiap hari dari jual telur kurang lebih Rp 675 ribu," akunya.

Dari hasil penjualan tersebut, Sumerta meraup keuntungan Rp 275 ribu per hari karena biaya yang dikeluarkannya untuk pakan ternak sebesar Rp 400 ribu per hari.

"Ya lumayan untuk tambah-tambah penghasilan keluarga. Bahkan dari hasil itu saya bisa nabung untuk masa depan anak-anak serta bekal pensiun nanti," tuturnya yang mengaku sekitar dua tahun lagi akan pensiun dari tugas kepolisian.

Perjalanan sebagai anggota Polisi dirasakannya seperti sudah panggilan negara. Kata dia awal lulus Tamtama Polisi SPN Singaraja, tahun 1979-1980 langsung ditugaskan di daerah konflik, yakni di Polres Aileu, Timor Timur. Dia bertugas di Timor Timur mulai tahun 1980 hingga tahun 1988.

Sukses melaksanakan tugas di daerah konflik, bapak tiga orang anak inipun dianugrahi penghargaan Setia Lencana Sroja, sebuah penghargaan diberikan negara kepada anggota polisi yang melaksanakan tugas dengan baik di daerah konflik. Selepas tugas di Timor Timur, pria beristri Ni Komang Yuliani (55) seorang PNS di Syahbandar Gilimanuk ini mulai tahun 1988 dipindah tugaskan ke Polres Lombok Barat, NTB. Baru pada tahun 2000 kembali ke kampung halamannya dan tugas Polsek Pekutatan, Jembrana sebagai Bhabinkamtibmas Desa Manggis Sari, Kecamatan Pekutatan. [eko]

Topik berita Terkait:
  1. Polisi Teladan
  2. Polisi
  3. Denpasar
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini