Pihak keluarga korban sebelumnya mengancam menuntut kampus dan mendesak pelaku penganiayaan dihukum berat.
Keluarga P (19), mahasiswa tingkat pertama Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Cilincing, Jakarta Utara mengungkapkan kekecewaannya terhadap Pihak kampus. Rasa kecewa itu tak bisa dibendung keluarga setelah P tewas diduga dianiaya seniornya.
Perwakilan pihak keluarga yang juga paman korban, Nyoman Budi Arto mengatakan, bukan tanpa alasan P disekolahkan di kampus pelayaran tersebut. Sebab menurut Budi, pihak kampus salah satunya menjamin tidak ada lagi aksi senioritas apalagi sampai menghilangkan nyawa orang.
Beberapa perundungan dilakukan senior terhadap junior diketahui terjadi di STIP Jakarta. Kasus itu terjadi pada 2008, 2014, 2015, 2017 dengan semua korban penganiayaan tewas akibat budaya senioritas.
"Katanya saya tonton di YouTube enggak ada budaya gitu (senioritas), kalau ada budaya gitu, dibubarkan sekolahnya. Itu saya tonton di YouTube makanya anak saya disekolahin di situ. Saya berani bilang enggak terjadi apa-apa," kata Budi saat dihubungi wartawan, Sabtu (4/5).
Advertisement
Budi mengatakan, kabar duka kematian P diduga akibat dianiaya senior diketahui keluarga setelah dihubungi pihak kampus.
Advertisement
"Yang saya dapat itu jam 9 pagi (kemarin) di telepon dia (korban) dibawa ke toilet terus langsung dihajar sama seniornya. Saya tanya temannya saya cocokin yang di berita polisi ya sama kaya gitu," ucap Budi.
Advertisement
Kabar duka itu membuat keluarga tidak tinggal. Mereka bakal menuntut pihak kampus maupun terduga pelaku.
"Saya mau tuntut yang mukul itu sama pihak sekolah, karena anak saya sehat-sehat aja," ujar Budi.
Advertisement
Polisi sebelumnya telah memeriksa 10 saksi termasuk salah seorang senior tingkat dua terduga Pelaku penganiayaan.
"Kami secara berjalan memeriksa 10 orang saksi untuk mengungkap kasus tewasnya taruna STIP dan memang ada dugaan penganiayaan dari seniornya," kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Gidion Arif Setyawan, Jumat (3/5).
Advertisement
Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta menegaskan budaya kekerasan atau aksi perpeloncoan senior kepada junior di kampus yang berada di bawah Kementerian Perhubungan tersebut sudah hilang.
"Tidak ada budaya pelonco di kampus ini dan itu penyakit turun temurun yang sudah dihilangkan," kata Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Ahmad Wahid menanggapi tewasnya salah satu taruna di kampus itu pada Jumat pagi, di Marunda, Jakarta.
Advertisement
Oleh karena itu, Wahid mengatakan terhadap meninggalnya taruna tingkat satu berinisial P pada Jumat pagi di kampus itu, hal itu di luar kuasanya karena kejadian terjadi di luar program yang dibuat kampus.
Wahid menegaskan aksi tersebut terjadi di luar program belajar yang dibuat kampus dan terjadi di kamar mandi. Wahid menegaskan STIP tidak akan cuci tangan atas tewasnya taruna tingkat satu kampus pelayaran tersebut.
"Kami tidak akan cuci tangan," kata Wahid.
Advertisement