Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan menyoroti kasus seorang suami yang melaporkan istrinya karena menjual dua anak dan keponakannya di Makassar. Ia menyinggung terjadinya kekerasan hingga menjual anak sendiri akibat beban ekonomi dan kemiskinan.
"Ini yang sebenarnya dibicarakan dari ujung kekerasan yang terjadi di keluarga. Kalau ada orang tua yang melukai anak sendiri, bahkan menjual anaknya sendiri, kita bisa melihat mungkin beban keluarga, beban kemiskinan, beban percekcokan, beban ekonomi yang jadi dasar dan juga beban pendidikan," ujarnya kepada wartawan di Hotel Claro Makassar, Jumat (27/3).
Veronica mengakui banyak kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia. Untuk itu, Kementerian PPPA bekerja sama dengan Polri dengan membentuk Direktorat PPA dan PPO.
Advertisement
"Tapi balik lagi, kuncinya adalah ini kan direktorat kemarin sudah di-launching. Ketua direktur itu semua perempuan dan Polwan," tuturnya.
Veronica menyebut integrasi dan kapasitas building antara UPTD PPA pemerintah daerah dengan Direktorat PPA dan PPO. Meski demikian, Veronica menyebut faktor ekonomi yang paling berpengaruh.
"Kita harus kembali kepada ya masalah sekarang ini. Kita benar-benar harus bekerja seperti program pemerintah, program pak presiden agar bagaimana mengembalikan ekonomi mulai dari desa," kata dia.
Veronica menyebut pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak bisa dimulai dari Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat desa.
Advertisement
"Kalau kita ngomong pelayanan terpadu untuk perlindungan anak saja, gak bisa hanya UPTD (PPPA) di Kabupaten, ketika udah kasus baru lari. Susah," ucapnya.
Sebelumnya seorang warga Makassar bernma Anto (40) melaporkan istrinya inisial MT (38) ke Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan kasus perdagangan manusia. Anto menuding istrinya menjual tiga anaknya dan satu keponakannya kepada orang lain.
Anto mengungkapkan ia memiliki lima anak. Terdiri dari tiga anak kandung dari pernikahannya dengan MT dan dua anak sambung.
Anto mulai curiga saat ia menyadari beberapa anaknya tidak lagi berada di rumah. Salah satunya adalah bayi yang masih berusia 3 bulan tidak diketahui keberadaannya.
"Saya dapat informasi dari istri saya kalau anak sambung saya, AI, itu sudah dijual dengan mertua saya," ungkapnya.
Advertisement
Anto juga mengaku memperoleh informasi dari Ketua RT setempat terkait anak kandungnya AZ. Ia mengatakan, sejak masih dalam kandungan, bayi tersebut diduga sudah dipesan oleh seseorang dengan uang panjar sebesar Rp 1,8 juta.
"Saya tahu dari pak RT, katanya waktu anak saya masih dalam kandungan sudah ada yang panjar Rp 1,8 juta. Saya dengar dari pak RT, yang sudah panjar datang (setelah bayinya lahir) dan cekcok karena bayi belum diberikan," katanya.
Kecurigaan semakin menguat ketika anaknya yang lain, berinisial AS, tidak pernah ditemui selama sekitar dua bulan terakhir. Anto menduga anak tersebut juga mengalami hal serupa.
"AS ini menurut saya dia juga sudah dijual karena sudah tidak pernah datang lagi. Ada dua bulan saya tidak pernah ketemu dengan anak saya," ucapnya.