Kanada Tawarkan Kerja Sama Teknologi Penyimpanan Karbon, Dukung Transisi Energi Bersih Indonesia

Kanada membuka peluang kerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS). Dukungan ini penting bagi transisi energi bersih Indonesia, mengingat potensi besar penyimpanan karbon.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kanada Tawarkan Kerja Sama Teknologi Penyimpanan Karbon, Dukung Transisi Energi Bersih Indonesia
Duta Besar Kanada menyatakan kesiapan untuk kolaborasi dalam teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) dengan Indonesia, membuka jalan bagi Kerja Sama Penyimpanan Karbon yang krusial untuk mencapai target energi bersih. (AntaraNews)

Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Jess Dutton, menyatakan kesiapan negaranya berkolaborasi dengan Jakarta dalam pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS). Penawaran ini disampaikan sebagai upaya mendukung transisi energi bersih di Indonesia. Kanada memiliki pengalaman signifikan dalam teknologi ini, menempatkannya sebagai salah satu pemimpin global.

Kolaborasi ini menjadi penting mengingat target emisi nol bersih (Net Zero Emission/NZE) Indonesia pada tahun 2060. Teknologi CCS diharapkan dapat menjadi solusi vital untuk mengurangi emisi dari sektor industri yang sulit diminimalisir. Pembahasan mengenai potensi kerja sama ini berlangsung dalam wawancara khusus di Jakarta.

Indonesia, dengan potensi penyimpanan karbon yang melimpah, menunjukkan minat besar terhadap teknologi ini. Kerja sama dengan Kanada dapat mempercepat adopsi dan implementasi CCS, membuka jalan bagi pengembangan teknologi ramah lingkungan yang lebih luas. Kedua negara melihat peluang besar dalam kemitraan ini.

Kanada, sebagai salah satu dari lima negara teratas dalam pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), memiliki delapan proyek aktif dari sekitar 70 proyek global. Pengalaman ini menjadikan Kanada mitra strategis bagi Indonesia yang tengah gencar mengembangkan kemampuan di bidang CCS. Duta Besar Jess Dutton menegaskan, “Kanada terbuka untuk berbagi pengetahuan dan bekerja sama dengan Indonesia, yang telah menunjukkan minat besar mengembangkan kemampuan di bidang CCS.”

Sektor minyak dan gas yang kuat di Kanada menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan pengurangan emisi karbon dengan kebutuhan menjaga sektor energi vital. Investasi pada teknologi ramah lingkungan seperti CCS menjadi solusi utama yang didukung oleh kondisi geologi khas Kanada. Meskipun kondisi geologi Indonesia berbeda, potensi kerja sama tetap sangat besar.

Dutton melihat adanya peluang luas untuk memperluas kemitraan di bidang CCS maupun energi bersih secara umum. Melalui berbagai bentuk investasi dan kerja sama, termasuk lewat lembaga multilateral, kedua negara dapat bersama-sama mengembangkan teknologi ini. Tujuannya adalah menciptakan dunia yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) merupakan bagian integral dari strategi Indonesia mencapai target emisi nol bersih (NZE) pada tahun 2060. Pemerintah Indonesia menargetkan sebagian besar dari 15 proyek CCS dan CCUS akan mulai beroperasi pada tahun 2030. Ini menunjukkan komitmen serius Indonesia terhadap pengurangan emisi.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menekankan pentingnya penyimpanan karbon untuk mengurangi emisi dari industri yang sulit dikurangi. Sektor-sektor seperti semen, baja, dan petrokimia sangat bergantung pada solusi ini untuk mencapai target keberlanjutan. Penerapan CCS akan membantu industri-industri ini tetap produktif sambil mengurangi dampak lingkungan.

Indonesia memiliki potensi penyimpanan karbon yang sangat besar, mencapai 577,62 gigaton. Potensi ini terdiri dari 4,85 gigaton dari lapangan minyak dan gas yang telah habis serta 572,77 gigaton dari lapisan akuifer asin. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi penyimpanan karbon terbesar di dunia, menjadikannya pemain kunci dalam upaya mitigasi perubahan iklim global.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi