Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjawab desakan sejumlah pihak terkait penanganan kasus penyerangan terhadap ulama di Tanah Air. Jokowi menegaskan, penanganan kasus tersebut adalah tanggung jawab Polri.
"Ya itu menjadi tanggung jawab Polri untuk menjaga semuanya, ulama terutama, tokoh-tokoh agama dan juga masyarakat," kata Jokowi seusai menghadiri acara dzikir kebangsaan dan peresmian pembukaan Rapat Kerja Nasional I Majelis Dzikir Hubbul Wathon di Gedung Serbaguna 2, Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (21/2).
Kepada Polri, Jokowi mengingatkan agar bersikap tegas dalam menangani kasus penyerangan ulama. Dia meminta kasus serupa tidak terjadi kembali. "Semuanya harus dijaga, jangan sampai ada kejadian-kejadian yang terus menerus seperti itu," ucapnya.
Jokowi juga menjelaskan, dirinya sudah menginstruksikan agar Polri mencari tahu motif penyerangan terhadap ulama. Apakah penyerangan itu murni tindakan kriminal atau sebaliknya. "(Sampai saat ini) Saya belum mendapatkan laporan secara detail (dari Polri) mengenai itu," ungkapnya.
Perlu diketahui, penyerangan terhadap pemuka agama dan masjid terjadi di beberapa tempat di Tanah Air. Pada Kamis (1/2) lalu, Ketua Brigade Persatuan Islam Indonesia (Persis) Ustaz R Prawoto dianiaya Asep Maftuh. Prawoto akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di kawasan Burujul, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, pada malam harinya.
Penyerangan lain juga terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayah Santiong, Kampung Sentiong RT 04/01, Desa Cicalengka Kulon, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Pengasuh Ponpes Al-Hidayah Santiong, KH Emon Umar Basyri diserang oleh orang tak dikenal.
Sementara di Tuban pada Selasa (13/2), pria berinisial MZ mengamuk dan merusak Masjid Baitur Rohim Tuban. Dia memecahkan kaca masjid lantaran kesal ditegur oleh petugas masjid.