Jokdri Klaim Tak Suruh Anak Buah Hancurkan Barang Bukti Pengaturan Skor

Selasa, 28 Mei 2019 23:04 Reporter : Merdeka
Jokdri Klaim Tak Suruh Anak Buah Hancurkan Barang Bukti Pengaturan Skor Joko Driyono Jalani Sidang Perdana. ©2019 Merdeka.com/Nur Habibie

Merdeka.com - Terdakwa Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono (54) menyatakan tidak pernah menyuruh anak buahnya menghancurkan barang bukti yang berada di Gedung Rasuna Office Park (ROP) D0-07 di Jalan Taman Rasuna Timur Menteng Atas Setiabudi Kuningan Jakarta Selatan.

Ini sekaligus menampik keterangan salah seorang saksi dari Penyidik Satgas Anti Mafia Bola, Ipda Gusti Ngurah Krisna.

"Pertama beberapa fakta yang disampaikan kami mengerti, tapi kami tidak menyetujui asumsi. Termasuk fakta tentang perintah saya untuk menghancurkan barang bukti. Termasuk penggantian CCTV," kata dia, Selasa (28/5/2019).

Penyataan itu dilontarkan saat diberikan kesempatan menanggapi keterangan saksi oleh majelis hakim.

Sebelumnya, Dalam kesaksiannya, Gusti membeberkan, tim menemukan mesin penghancur kertas di Gedung Rasuna Office Park (ROP) D0-07, Jalan Taman Rasuna Timur Menteng Atas Setiabudi Kuningan Jakarta Selatan.

Itu ditemukan saat penyidik sedang menggeledah seisi ruangan pada tanggal 1 Februari 2019 lalu. Kaitannya, dalam rangka proses penyidikan sebagaimana Laporan Polisi Nomor LP/6990xll/2018/PMJ/Ditreskrimum, tanggal 19 Desember 2018 atas nama pelapor Sdri. Lasmi Indaryani.

"Kami masuk sekitar pukul 10.00 WIB. Di situ sudah ada Mulyadi dan Salim," ujar dia di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, (28/5).

Dia menyebut posisinya persis berada di pantry kantor. Barang itu diduga kuat dipakai oleh anak buah Joko Driyono untuk menghancurkan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pengaturan skor.

"Kok ada mesin di sini. Menurut kami enggak wajar," kata dia

Kecurigaan pun muncul. Terlebih saat itu juga ditemukan potongan kertas. Anak buahnya bernama Pudjo Sulistyo menduga itu bagian dari barang bukti.

"Jangan-jangan ini dokumen yang kami cari," ucap Gusti.

Gusti menerangkan, pihaknya kemudian menkonfrotasi Mulyadi dan Salim. Awalnya, keduanya bilang potongan kertas biasa berserakan.

Penyidik pun mencoba mengecek kamera pengawas. Ternyata kondisi kamera pengintai yang menyorot ruangan rusak.

Kecurigaan semakin menjadi-jadi. Gusti mengintrogasi lebih mendalam Mulyadi.

"Mulyadi akhirnya mengaku ternyata tanggal 31 Januari 2019 diperintahkan Jokdri mengambil berkas-berkas yang ada di ruangannya sekaligus CCTV," ujar dia.

Reporter: Ady Anugrahadi

Sumber: Liputan6.com [eko]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini