Perjalanan kasus pelecehan seksual yang dialami RZ, karyawati Universitas Pancasila (UP) belum ada titik terang. RZ melapor ke Polda Metro Jaya atas pelecehan seksual yang dilakukan eks Rektor UP Edie Toet Hendratno (ETH) pada Januari 2024. Namun, hingga kini pelaku belum juga ditahan.
Molornya kasus ini membuat geram banyak kalangan. Termasuk Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia (PPPA) Veronica Tan dan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer. Keduanya turun tangan, mendatangi kampus UP dan meminta penjelasan pada Pj. Rektor UP Prof. Adnan Hamid dan Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila (YPPUP), Siswono Yudo Husodo.
Dalam kesempatan tersebut, korban pun ikut hadir dan mencurahkan isi hatinya di hadapan wamen, LLDikti III. RZ mengatakan sejak awal dirinya banyak mendapat intimidasi atas peristiwa yang menimpanya. RZ sempat ingin menyelesaikan kasus ini secara internal, namun justru mendapat tekanan bertubi-tubi.
RZ menceritakan, dia sudah bersurat pada yayasan namun, diabaikan. RZ malah dituding mengalami gangguan kejiwaan.
"Surat saya diabaikan, harapan saya dipanggil untuk pengaduan ke Pak Sis, tapi malah saya dibilang psikologis saya terganggu," kata RZ di hadapan wamen, Rabu (21/5).
Dia menyayangkan pihak kampus dan yayasan yang tidak memberinya ruang dan waktu untuk memberikan penjelasan mengenai kejadian yang menimpanya. RZ menuturkan, sebelum pada akhirnya lapor polisi, ia sudah berpikir ribuan kali namun karena menerima banyak intimidasi maka RZ memberanikan diri melapor.
"Harapan saya saat itu saya dipanggil dan tidak akan ramai seperti ini. Itu pun ketika saya melapor ke bapak (yayasam), itu berapa bulan pak, saya berpikir apa efeknya, saya berfikir bagaimana kalua saya melapor, tapi karena bentuk intimidasinya luar biasa jadi saya melaporkan," tukasnya.
Advertisement
RZ juga menepis tudingan dirinya hendak mencari panggung. RZ menegaskan dirinya hanya ingin mencari keadilan.
"Saya tidak diberi ruang untuk berdiskusi, kalau bilang saya cari panggung kayaknya tidak ada pak, karena saya hanya seorang ibu, istri, saya bukan seorang yang gila jabatan. Saya harus melanjutkan semua. Saya tidak ada niat menjelekkan institusi. Saya berjuang untuk apa yang tidak saya buat," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila (YPPUP), Siswono Yudo Husodo mengatakan yayasan tidak pernah mengambil keputusan secara perseorangan. Begitu ada laporan polisi menyangkut ETH, yayasan langsung menonaktifkan yang bersangkutan.
"Bagi yayasan posisi ini jelas dan tegas, Yayasan tidak pernah mengambil keputusan perseorangan. Begitu ada laporan, Yayasan langsung menonaktifkan yang bersangkutan. Kedua, ini adalah persoalan pribadi, bukan universitas atau Yayasan. Dan jelas ada bukti tertulis surat pemberhentiannya. Jadi klir," katanya.
Ditegaskan bahwa kasus ini adalah kasus personal ETH. Sis meminta jangan ada pihak yang mencari panggung dari kasus ini.
"Ini persoalan pribadi seseorang yang namanya Edie Toet, silahkan diselesaikan secara hukum, jangan kita yayasan dibawa-bawa, universitas dibawa-bawa, itu sangat tidak baik. Apalagi mencari panggung membawa universitas. Kita tidak pernah tahu anda menjadi korban, siapa anda saya tidak tahu, anda kerja dimana Yayasan tidak tahu, paling yang kita tahu tuh rector, warek, dekan. Kebijakan dekan pun kita tidak ikut campur," pungkasnya.