Jejak Nabi Muhammad di Museum Dar Al Madinah
Merdeka.com - Kota Makkah dan Madinah menjadi saksi perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyiarkan agama Islam. Mulai dari peristiwa kelahiran, tumbuh dewasa, hingga mengembangkan ajaran Islam tak lepas dari dua kota tersebut. Bahkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah menjadi tonggak sejarah umat Islam yang akhirnya menjadi dasar penentuan tahun baru Islam/Hijriyah.
Untuk memberikan pengetahuan kepada para pengunjung yang tersebar dari berbagai negara Islam, Kerajaan Arab Saudi membangun sebuah museum yang berisi replika atau diorama kisah hidup Nabi Muhammad, lengkap dengan sejarah kota Makkah dan Madinah hingga akhirnya menjadi Makkah dan Madinah seperti saat ini.
Museum tersebut terletak di kawasan Ekonomi dan Sains di kota Madinah, tepatnya di Jalan Safwan bin Malik. Jarak dengan Masjid Nabawi lumayan agak jauh, tapi cukup dekat dengan Bandara Amir Mauhammad Abdul Malik (AMAA) Madinah, cuma sekitar 10 menit saja. Dari Masjid Nabawi, kuranglebih 30 menit perjalanan.
Didesain tidak untuk didatangi banyak pengunjung, museum ini memasang tarif 25 Riyal atau sekitar Rp 90 ribu, setiap pengunjung baik perseorangan atau pun kelompok akan ditemani oleh satu pendamping atau tour guide. Para pengunjung pun dipersilakan memilih bahasa apa yang dipakai oleh guide. Jika bahasa Inggris, maka akan dicarikan guide yang bisa berbahasa Inggris. Demikian juga yang bahasa Arab, Turki, atau bahkan bahasa Urdu untuk jemaah asal India atau Pakistan.
"Mau yang berbahasa Arab atau Inggris," tanya resepsionis kepada kami. Kami pun serempak menjawab, Inggris.
Setelah daftar dan membayar 25 Riyal masing-masing orang, kami dipersilakan untuk menunggu sejenak, lantaran untuk masuk ke dalam museum harus antre. Selain kapasitas museum yang tidak bisa diisi banyak orang, jumlah pendamping atau guide pun terbatas. Museum yang didesain berbentuk orong-lorong kecil yang diisi replika-replika perjalanan kota Makkah dan Madinah serta sejarah hidup Nabi Muhammad, sehingga tidak memungkinkan kita berkumpul di satu titik, karena bisa menghambat pergerakan pengunjung yang lain.
Pertama kali masuk museum, kita dipersilakan untuk duduk santai sebentar sambil menikmati teh hangat dan kurma. Guide kami, Ahmad, mulai memperkenalkan diri dan menjelaskan apa saja yang akan kita dapatkan di museum tersebut. Seperti membaca sebuah dongeng, museum ini menyajikan maket-maket yang berisi gambaran awal kota Makkah berdiri, hingga Kabah dibangun, sampai Kabah pada zaman Nabi Muhammad SAW beserta berbagai peristiwa sejarah pada masa Nabi Muhammad.
Demikian pula dikisahkan dalam museum ini bagaimana awal mula Nabi Muhammad membangun Masjid Nabawi tak lama setelah hijrah dari Makkah ke Madinah. "Nabawi dulu dibangun di tengah perkampungan masyarakat Madinah yang miskin," cerita Ahmad.
Hingga pada akhirnya, Nabi Muhammad wafat dan dimakamkan di dalam rumahnya. Sampai saat ini makam tersebut berada di kompleks Masjid Nabawi. Tak lupa Ahmad bercerita bagaimana mulanya makam Nabi Muhammad, sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khattab berada di dalam rumah pribadi Nabi Muhammad.
Hampir semua barang-barang yang ada di museum ini adalah replika alias tidak asli. Seperti di museum ini terdapat replika dua buah bejana berukuran 3 liter dan 0,7 liter. Bejana berisi air 3 liter ini dulunya dipakai Nabi Muhammad untuk mandi, sementara yang berisi 0,3 liter dipakai Nabi untuk berwudhu.
"Ini semua replika," ungkap Ahmad.
Namun demikian, ada juga beberapa benda yang asli misalnya kiswah (kain penutup Kabah) yang berusia lebih dari 40 tahun, dan sepasang kunci Kabah asli, yang usianya juga sudah mencapai puluhan tahun.
"Untuk kiswah dan kunci kabah ini asli," imbuh Ahmad.
Berdiri sejak delapan tahun lalu, museum ini banyak dikunjungi oleh masyarakat muslim, khususnya saat musim haji tiba. Saat kami berkunjung, ada sekitar belasan pengunjung jemaah haji dari berbagai negara, seperti Turki, Pakistan, India dan Malaysia.
"Saya dari Malaysia, dulunya tapi warga Indonesia asli, dari Demak," kata salah seorang pengunjung asal Malaysia, Kohar.
Kohar datang bersama istri, anak-anak beserta menantunya. Tak banyak bercerita tentang museum, justru Kohar banyak berkisah tentang masa lalunya hingga akhirnya bisa menjadi warga negara Malaysia.
"Saya dulu belajar di pesantren di Banyuwangi. Lalu kenal orang yang memiliki saudara di Malaysia, akhirnya ikut kerja di sana, hingga menetap dan berkeluarga di Malaysia," cerita Kohar.
Sayangnya, guide menerangkan terlalu cepat, hingga kami tidak benar-benar paham dalam waktu yang singkat kurang dari setengah jam memahami penjelasannya yang penuh dengan nuansa sejarah tersebut. Baru setelah kami melihat-lihat kembali replika museum tersebut yang diberi keterangan berbahasa Arab, kami bisa memahaminya secara garis besar. Bahkan salah satu pengunjung asal Turki bertanya kepada kami setelah dijelaskan oleh guide.
"Itu tadi barang apa," tanya pria tersebut kepada kami meskipun sebelumnya sudah dijelaskan oleh tour guide.
Usai melihat-lihat dan mendapatkan penjelasan tentang barang-barang yang ada di museum tersebut, oleh tour guide kami dipersilakan untuk keluar, dan jika masih ingin mengetahui lebih dalam tentang museum tersebut, ada sebuah buku tebal berbahasa Inggris dan Arab dilengkapi dengan gambar-gambar tentang sejarah Makkah dan Madinah, termasuk jejak-jekak Rasulullah di dua kota tersebut. Buku tersebut dijual dengan harga 40 Riyal.
"Meski museum ini ruangannya kecil, tapi kita mendapatkan informasi yang sangat besar. Ini salah satu museum terbaik yang ada di Arab Saudi," ujar Aneesuddin, salah seorang pengunjung museum tersebut. (mdk/sho)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya