Kompol Cosmas Kaju Gae adalah seorang pria yang berasal dari Kampung Laja, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Belakangan ini, ia dipecat akibat keterlibatannya dalam kasus kematian pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan. Pada saat penanganan demonstrasi yang berujung ricuh di Jakarta pada Kamis (28/8), Cosmas berada di dalam kendaraan taktis (rantis) Brimob yang secara tidak sengaja melindas Affan, di mana ia duduk di sebelah kiri sopir rantis tersebut.
Cosmas memiliki pengalaman tugas di berbagai daerah yang dikenal sangat berbahaya. Di antaranya adalah penugasan Pasukan Garuda di Lebanon, serta Operasi Seroja di Timor-Timur sebelum negara tersebut merdeka. Selain itu, ia juga ditugaskan di Papua untuk melawan Tentara Nasional Papua Barat (TNPB).
"Saat bertugas di Poso ia ditembak di kaki dan bahu kirinya. Dia menjalankan tugas negara dengan sempurna dan baik. Dedikasi dan pengorbanannya sangat besar untuk bangsa dan negara ini," ungkap Ketua Ikatan Keluarga Ngada (Ikada) Sipri Radho Toly pada Kamis (4/9).
Menurut informasi yang disampaikan, Danyon Resimen IV Korbrimob Polri ini memiliki saudara kembar yang saat ini bertugas sebagai Pater misionaris di Jerman. Selain itu, Cosmas tumbuh dalam keluarga yang sangat religius dan taat beragama.
"Orang tuanya mendidik mereka secara baik soal iman dan relasi sosial juga mereka sangat baik," tambah Sipri.
Ia juga meminta agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Presiden Prabowo Subianto, dan atasan hukum (ankum) Cosmas lebih teliti dalam memutuskan PTDH yang dijatuhkan kepadanya. Ia menolak keputusan tersebut dan berharap ada keadilan bagi Cosmas.
"Kami menolak meskipun dia sudah mendapat PTDH, tapi masih ada ruang hukum atau banding. Sehingga kami minta Pak Kapolri dan atasan hukum langsung agar cermat dalam mengambil keputusan karena dia merupakan polisi yang punya prestasi di medan tugas," jelas Sipri.
Permohonan ini menunjukkan harapan untuk mendapatkan keadilan bagi seorang anggota kepolisian yang telah berkontribusi besar dalam tugasnya.
Advertisement
Sipri menegaskan bahwa Cosmas tidak memiliki niat untuk melindas Affan saat insiden terjadi. Mereka berada dalam situasi terjepit oleh kerumunan massa yang mengancam, sehingga Cosmas berusaha melindungi diri agar tidak menjadi korban kebakaran massa.
"Saat itu mereka dihadapkan pada pilihan antara hidup dan mati demi menjalankan tugas negara. Jika mereka memilih untuk bertahan, kemungkinan besar mereka akan dibakar, sehingga mereka harus mencari cara untuk menghindar," jelas Sipri.
Menurut Sipri, keluarga Cosmas, baik adik maupun kakaknya, sangat terkejut mendengar berita tentang pemecatan tidak hormat (PTDH). Bahkan, adik perempuannya yang tinggal di Kelurahan TDM, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, hampir pingsan mendengar kabar tersebut.
Hal ini disebabkan karena Cosmas, yang lahir pada tahun 1975, adalah sosok yang dihormati dalam keluarganya. Ia dikenal sebagai pribadi yang taat dan disiplin dalam menjalankan tugas.
"Selama dia menjalankan tugas negara, meskipun sampai bahu dan kakinya terluka akibat tembakan, dia tidak pernah mengeluh. Ini yang seharusnya diperhatikan oleh negara dan atasannya sebelum mengambil keputusan," tegasnya.