Jawara dan ulama inginkan perubahan di Banten
Merdeka.com - Dua elemen masyarakat ini selalu menjadi bagian dari perubahan yang terjadi Banten. Jawara dan ulama, mereka dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan. Kini saat dinasti Atut mulai digoyang, para jawara dan ulama berharap ada perubahan yang terjadi di Provinsi Banten.
"Kami bertemu dengan kiai dan ulama. Mereka mendukung langkah perubahan yang terjadi di Banten. Buktinya mereka menggelar istigasah mendukung KPK menuntaskan kasus korupsi di Banten," kata salah satu tokoh masyarakat asal Kabupaten Pandeglang, Tubagus Syamsudin Mandala dalam perbincangan dengan merdeka.com, Kamis (10/10).
Syamsudin menjelaskan, perubahan yang dimaksud harus terjadi di segala bidang. Terutama kesejahteraan bagi seluruh warga Banten. "Sudah puluhan tahun, banyak warga yang miskin tinggal di tempat terpencil tidak tersentuh pembangunan. Masyarakat cuma ingin aspirasi mereka didengar," ujarnya.
Pria yang juga Ketua Forum Pembela Kebenaran (Forpek) Nusantara DPW Banten ini juga mengatakan, tidak benar jika kalangan jawara atau pendekar di Banten sepenuhnya telah dikuasai oleh Atut . Justru dari pengamatannya, masih banyak jawara yang bersuara kritis.
Soal jawara, Syamsudin yang juga menguasai ilmu silat yang dipelajari turun-temurun dan berguru di beberapa tempat ini menyatakan, merupakan simbol di Banten saja.
"Jawara itu biasanya perorangan. Justru yang punya padepokan silat kebanyakan para ulama," ujarnya.
Jika ada jawara yang kemudian menjadi beking dan bertindak kekerasan, menurut dia, hanyalah oknum. "Mereka juga biasanya bayaran dan tidak tahu apa yang mereka lakukan."
Syamsudin berharap, jangan sampai kondisi terkini di Banten membuat konflik horizontal.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya