Paus Fransiskus menghadiri pertemuan dengan pemuda schollas occurrentes di Graha Pemuda, Kompleks Gereja Katedral Jakarta, Rabu (4/9). Acara itu juga dihadiri Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dan Mendikbudristek Nadiem Makakrim.
Salah satu peserta schollas occurrentes, Ana Nur Awalia berkesempatan memberikan testimoni di hadapan Paus Fransiskus. Ana merupakan seorang guru di pulau kecil, Buton, Sulawesi Tenggara.
"Sangat jauh dari Jakarta. Saya juga adalah seorang dosen, seorang fasilitator anak, dan seorang penyiar radio serta seorang ibu. Saya mengambil peran sebanyak mungkin, semampu saya, di setiap bagian lini masa kehidupan. Agar saya dapat mengisi dunia pendidikan dan menyebarluaskan tentang pentingnya edukasi untuk menuntaskan kemiskinan," ujar Ana.
Masih ada satu peran lagi, lanjut Ana, hari ini bukan hanya sekadar sebuah pengalaman baginya. Namun sebuah transformasi luar biasa dan kali pertama dalam hidupnya.
"Saya mengunjungi, masuk dan menjadi bagian dalam Katedral. Bagian dari Katedral sebuah gereja yang disucikan umat Katolik. Ajaibnya tepat di depan saya berdiri pula masjid tempat saya biasanya beribadah. Ini merupakan simbol toleransi, di mana perbedaan seharusnya kita hadapi dan kita jembatani," jelas Ana.
Menurut Ana, dirinya belajar toleransi melalui agama Islam, dan ketika bersama Scholas, Scholas juga mengajarkan toleransi yang sama seperti yang diajarkan oleh Islam.
"Scholas dalam pedagogikanya, kurikulumnya, melatih saya untuk melihat dunia dari pinggir jalan, rakyat miskin kota, anak-anak yang haus sekolah, dan harusnya disekolahkan," kata Ana.
"Menyadarkan mereka yang kaya materi bahwa hidup tidak hanya memikirkan diri sendiri. Sebagai seorang guru, saya melihat kurikulum sekolah memiliki visi misi yang sama dengan kurikulum merdeka belajar," ujar Ana menambahkan.
Dalam praktiknya, menurut Ana, butuh tim kerja seperti Scholas, seperti teman-teman tunas bhinneka, teman-teman fasilitator untuk menciptakan generasi muda, generasi guru yang bukan hanya cerdas, tapi juga bahagia.
"Saya mengenal Scholas melalui mentor, saya kemudian mengikuti proses tesnya yang cukup panjang. Saya sangat bahagia ketika dinyatakan lulus dan menjadi salah satu tim dari Scholas, student, dan juga volunteer. Saya tertarik mengetahui bahwa mereka mencintai pendidikan sebagaimana saya cinta dunia yang sama, bersama anak-anak, buku, literasi, seni, teknologi, games, dan ruang belajar," tutur Ana.
Advertisement