Indonesia dan AS Perkuat Kemitraan Investasi dan Manufaktur, Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Indonesia dan Amerika Serikat terus mempererat kemitraan investasi dan manufaktur, membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi digital dan industri strategis. Kemitraan Investasi Indonesia-AS ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Indonesia dan AS Perkuat Kemitraan Investasi dan Manufaktur, Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Indonesia dan Amerika Serikat terus mempererat kemitraan investasi dan manufaktur, membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi digital dan industri strategis. Kemitraan Investasi Indonesia-AS ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. (AntaraNews)

Indonesia dan Amerika Serikat (AS) semakin memperkuat kemitraan industri melalui peningkatan investasi, penguatan rantai pasok global, serta pengembangan ekosistem manufaktur dan teknologi. Langkah strategis ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kedua negara.

Hal tersebut menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan antara Duta Besar RI untuk AS Indroyono Soesilo bersama jajaran KBRI Washington DC dengan US Chamber of Commerce dan AmCham Indonesia. Pertemuan ini berlangsung pada Kamis, 25 Juni 2026, dan hasilnya dikutip dalam keterangan pers KBRI pada Sabtu, 27 Juni 2026.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah Indonesia menawarkan berbagai peluang investasi yang menarik. Potensi ini meliputi besarnya pasar domestik hingga pertumbuhan ekonomi digital yang diproyeksikan meningkat dari 82 miliar dolar AS pada 2023 menjadi 99 miliar dolar AS (sekitar Rp1.768 triliun) pada 2025.

Indonesia terus memposisikan diri sebagai tujuan investasi yang menarik bagi Amerika Serikat. Duta Besar Indroyono Soesilo menyoroti kehadiran talenta-talenta Indonesia yang menempuh pendidikan di Amerika Serikat, yang siap berkontribusi dalam mendukung investasi serta transfer pengetahuan di tanah air.

Pemerintah Indonesia juga berkomitmen untuk terus membenahi regulasi guna menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. Salah satu upaya nyata adalah melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Selain itu, penyediaan Blue Book Bappenas yang memuat daftar proyek prioritas juga menjadi daya tarik bagi investor asing, termasuk dari AS.

Pertemuan penting ini merupakan bagian dari rangkaian "Door Knock Meeting American Chamber of Commerce Asia Pacific". Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan dari US Chamber of Commerce, AmCham Indonesia, Boeing Indonesia, Nike, Hamilton Beach, serta Freeport-McMoRan, menunjukkan minat besar dari berbagai sektor industri AS.

Kemitraan antara Indonesia dan AS juga menunjukkan perkembangan signifikan di sektor-sektor strategis. Di sektor penerbangan, Boeing menyampaikan adanya peluang bagi industri nasional Indonesia untuk masuk ke dalam rantai pasok global perusahaan tersebut.

Kolaborasi antara Boeing dengan PT Dirgantara Indonesia telah berjalan dengan baik, menjadi contoh nyata kerja sama yang produktif. Proyeksi menunjukkan bahwa Indonesia akan menjadi pasar penumpang pesawat terbesar keempat di dunia pada tahun 2036, dengan perkiraan kebutuhan sedikitnya 600 pesawat baru sekelas Boeing 737.

Selain mendukung pengembangan industri penerbangan, Boeing juga aktif bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui program University Leadership Development. Perusahaan ini turut menjalin kolaborasi dengan Pertamina dalam pengembangan sustainable aviation fuel (SAF) yang berbahan baku minyak nabati.

Di sektor manufaktur, Nike telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis produksi utama sepatu. Industri ini menyerap sekitar 500 ribu tenaga kerja, dengan sekitar 90 persen produksinya ditujukan untuk ekspor. Sementara itu, Hamilton Beach tengah membangun pabrik peralatan elektronik rumah tangga di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah, menunjukkan kepercayaan investor terhadap potensi manufaktur Indonesia.

Sektor energi dan sumber daya alam juga menjadi pilar penting dalam kemitraan ekonomi bilateral antara Indonesia dan AS. Perusahaan-perusahaan Amerika seperti ExxonMobil dan Freeport-McMoRan tetap menjadi mitra strategis dalam kerja sama ini.

Dalam pertemuan tersebut, para investor menegaskan bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu negara prioritas tujuan investasi mereka. Namun, mereka juga menyoroti pentingnya kepastian regulasi, kemudahan berusaha, serta penyelesaian hambatan non-tarif. Hal ini diperlukan agar Indonesia semakin kompetitif dibandingkan negara-negara lain di kawasan.

Vice President US Chamber of Commerce untuk US-ASEAN Business Committee, John Goyer, berharap US-Indonesia Investment Summit yang akan diselenggarakan di Jakarta pada Oktober 2026 dapat menghasilkan kerja sama konkret dan penandatanganan kontrak antara perusahaan Indonesia dan Amerika Serikat. Ia juga mengundang pelaku usaha Indonesia untuk berpartisipasi dalam forum B-20 di Washington DC pada 9-11 November 2026, yang akan berlangsung bersamaan dengan KTT G20. Menurut data US Trade Representative, nilai perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat pada 2025 mencapai 45,7 miliar dolar AS.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi