Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Hikayat wayang suket Purbalingga

Hikayat wayang suket Purbalingga Wayang Suket. ©2017 Merdeka.com/Abdul Aziz

Merdeka.com - Di Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga, 30 tahun tahun silam, ratusan batang rumput mulai dianyam menjadi wayang. Wayang itu lantas dikenal luas sebagai wayang suket (rumput) yang pesona keterampilannya pertama kali diangkat ke publik oleh Budayawan asal Yogyakarta, Sindhunata. Wayang suket lantas mendapat apresiasi lebih luas, usai dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta pada 1995.

Wayang Suket dibuat oleh jemari terampil seorang penggembala kambing, yaitu Kasanwikrama Tunut atau yang akrab disapa Mbah Gepuk. Dua tahun berselang, 1997, di usia 68 tahun, sang empu wayang suket itu berpulang. Keterampilan seninya yang langka diwarisi oleh sang cucu, Badriyanto yang kini berusia 35 tahun.

Tentang sosok sang eyang, Badriyanto kepada Merdeka.com bercerita bahwa Mbah Gepuk selalu menegaskan bahwa wayang adalah media pelajaran moral masyarakat Jawa. Kenangnya, setiap mengembala kambing, sembari menganyam rumput, Mbah Gepuk kerap bercerita tokoh Yudistira yang berbudi luhur, namun tak dapat menolak permintaan atau Bima yang kasar tetapi lurus hatinya. Pendeknya alam berpikir Jawa yang menempatkan baik buruk sebagai identifikasi moral manusia.

wayang suket

Wayang Suket ©2017 Merdeka.com/Abdul Aziz

Wayang suket dan problem klasik museum

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga mengakui bahwa wayang suket memang produk unggul kesenian khas daerah yang bersifat langka. Kepala Seksi Sejarah, Museum dan Keperbukalaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga, Rien Anggraeni mengatakan salah satu cara apresiasi kepada wayang suket dilakukan oleh Pemkab dengan cara pemuseuman. Museum Wayang Sanggaluri Park dan museum Soegarda Poerbakawatja Purbalingga adalah dua museum yang mengoleksi wayang buatan Mbah Gepuk juga Badriyanto.

"Tujuan pemuseuman ini agar warga Purbalingga bisa mendapat informasi tentang produk seni daerahnya. Salah satunya wayang suket," kata Rien kepada Merdeka.com, Rabu (1/2).

Tetapi memang, wayang suket di dalam museum berada di tengah ironi problem klasik minimnya pengunjung. Problem ini tengah dientaskan oleh Pemkab dengan melakukan revitalisasi museum.

"Program revitalisasi di Museum Soegarda Poerbakawatja kami lakukan dengan melakukan penambahan fasilitas untuk mendukung kenyamanan pengunjung. Untuk mendongkrak pengunjung yang kami lakukan saat ini bekerja sama dengan sekolah-sekolah," imbuhnya.

wayang suket

Wayang Suket ©2017 Merdeka.com/Abdul Aziz

Di sisi lain, seni menganyam wayang suket yang diakui sebagai ketrampilan langka terus dihidupi oleh Badriyanto secara emosional sebagai penghormatan khusyuk kepada jerih payah kreatif sang kakek. Badriyanto sendiri mengaku, memang tak begitu peduli apakah ia telah menyumbangkan karya kesenian yang dianggap berarti bagi daerahnya. Ia hanya kerap dibayang-bayangi harapan, karyanya tak hanya berhenti sebagai hiasan dinding rumah kolektor atau museum. Tetapi melakukan penjelajahan dalam bentuk cerita yang dipentaskan seorang dalang di depan layar putih yang disinari blencong atau lampu.

"Harapan itu muncul, karena kenangan-kenangan masa kanak. Mbah Gepuk kerap memainkan wayang suket sembari menceritakan kisah-kisah bijak," ujar Badriyanto sembari mengeluh tentang apa artinya sebuah bayangan yang didambakan oleh seorang rakyat yang mengalami putus sekolah dan tinggal di dusun terpencil.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP