Hari Primata Indonesia: Belantara Foundation Ajak Kolaborasi Lindungi Primata Indonesia dari Ancaman Kepunahan

Dalam rangka Hari Primata Indonesia, Belantara Foundation menyerukan kolaborasi multipihak untuk menjaga kelestarian primata Indonesia yang banyak terancam kepunahan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Hari Primata Indonesia: Belantara Foundation Ajak Kolaborasi Lindungi Primata Indonesia dari Ancaman Kepunahan
Dalam rangka Hari Primata Indonesia, Belantara Foundation menyerukan kolaborasi multipihak untuk menjaga kelestarian primata Indonesia yang banyak terancam kepunahan. (AntaraNews)

Jakarta – Peringatan Hari Primata Indonesia setiap 30 Januari menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran akan kondisi primata asli Indonesia. Belantara Foundation, melalui Direktur Eksekutif Dolly Priatna, mendorong kolaborasi multipihak guna mendukung pelestarian primata dan habitatnya. Seruan ini muncul mengingat banyak jenis primata di Indonesia menghadapi ancaman serius kepunahan.

Dolly Priatna mengingatkan bahwa berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), dari 66 jenis primata Indonesia, sebagian besar berada dalam kategori terancam. Kondisi ini menyoroti urgensi tindakan konservasi yang lebih intensif dan terkoordinasi. Upaya menjaga primata Indonesia sangat krusial demi keberlanjutan ekosistem.

Untuk itu, konsep Pentahelix yang melibatkan akademisi, sektor bisnis, komunitas, pemerintah, dan media diusulkan sebagai pendekatan efektif. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan solusi inovatif dalam program pelestarian dan perlindungan primata beserta habitatnya di seluruh wilayah Indonesia. Konsep ini menekankan sinergi berbagai elemen masyarakat.

Data dari IUCN menunjukkan bahwa status primata Indonesia sangat mengkhawatirkan, dengan 12 jenis berstatus Critically Endangered (kritis), 25 jenis Endangered (terancam), dan 26 jenis Vulnerable (rentan). Selain itu, satu jenis berstatus Near Threatened (hampir terancam) dan dua jenis masih Data Deficient (informasi kurang). Angka-angka ini menggambarkan betapa gentingnya situasi konservasi primata Indonesia.

Beberapa contoh primata yang masuk kategori kritis terancam punah antara lain Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), Owa Simakobu (Simias concolor), Lutung Sentarum (Presbytis chrysomelas), dan Tarsius Sangihe (Tarsius sangirensis). Status ini diperkuat oleh laporan Primates in Peril 2023-2025 yang dipublikasikan oleh IUCN SSC Primate Specialist Group, International Primatological Society, dan Re:wild. Laporan tersebut memuat lebih dari 100 hasil penelitian pakar primata dunia.

Di tingkat nasional, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 telah menetapkan 37 jenis primata sebagai satwa yang dilindungi. Regulasi ini merupakan langkah penting pemerintah untuk memberikan payung hukum bagi perlindungan primata Indonesia. Namun, implementasi di lapangan memerlukan dukungan dan partisipasi aktif dari berbagai pihak.

Primata memiliki peranan fundamental dalam menjaga kesehatan ekosistem, khususnya di hutan hujan tropis. Mereka berperan sebagai agen penyebar biji utama, yang memastikan regenerasi hutan dan mempertahankan keanekaragaman spesies tumbuhan. Proses alami ini sangat penting untuk keberlanjutan hutan.

Melalui pola makan frugivora, primata secara tidak langsung membantu menanam kembali hutan secara alami. Selain itu, mereka juga berkontribusi dalam mengendalikan populasi serangga dan menunjang siklus hara tanah. Keberadaan primata dapat menjadi indikator vital kesehatan ekosistem, menunjukkan kondisi lingkungan yang seimbang.

Saat ini, primata di Indonesia menghadapi ancaman serius yang mengarah pada kepunahan massal. Deforestasi masif, konversi lahan untuk berbagai kepentingan, perburuan liar, dan perdagangan satwa liar ilegal merupakan faktor utama penyebabnya. Fragmentasi hutan akibat aktivitas manusia juga mengisolasi populasi primata, meningkatkan konflik antara manusia dan primata karena berkurangnya ruang hidup mereka.

Meskipun demikian, Dolly Priatna mengapresiasi berbagai inisiatif pemerintah dalam pelestarian primata dan habitatnya, seperti patroli perlindungan habitat, pembangunan pusat rehabilitasi dan pelepasliaran, serta program penyadartahuan dan edukasi. Inisiatif ini adalah fondasi penting dalam upaya konservasi.

Penerapan konsep Pentahelix diharapkan dapat menjadi solusi komprehensif. Dengan melibatkan akademisi untuk penelitian, sektor bisnis untuk pendanaan dan inovasi, komunitas untuk partisipasi aktif, pemerintah untuk regulasi dan kebijakan, serta media untuk edukasi publik, upaya konservasi primata Indonesia akan lebih efektif. Koordinasi yang baik dan komitmen tinggi dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan pelestarian ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi